Tampilkan postingan dengan label Buljum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buljum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Medan Syahid di Jalan Cinta

Farid al-Din Muhammad bin Ibrahim ‘Attar adalah seorang sufi besar dari Persia. Ia dikenal dan terkenal melalui karyanya berjudul “Musyawarah Burung-Burung” berisi tentang kisah perjalanan ruhani dalam mendekati Tuhan yang disampaikan melalui cerita-cerita menarik dan penuh hikmah. Selain itu, Sufi besar yang namanya lebih akrab disebut ‘Attar ini punya karya lain berjudul “Buku Tentang Tuhan” yang didalamnya juga berisi kisah penuh hikmah.


Berdakwah melalui cerita merupakan keunggulan yang dimiliki kaum sufi. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami perjalanan terjal menuju Tuhan dikemas dengan menarik sehingga menggairahkan dan menyadarkan pembaca bahwa Tuhan adalah segalanya. Siapapun yang menangkap pesan dari kisah yang dituturkan kemudian diamalkan niscaya secara ruhani hidupnya kan diliputi penuh kebijaksanaan dan kedamaian.

Dalam sebuah sesi kajian Tasawuf Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) menyampaikan salah satu kisah hikmah yang diambil dari “Buku Tentang Tuhan” karya ‘Attar. Kisah ini berisi perjalanan seorang sufi yang menempuh syahid di jalan cinta pada Allah. Tetapi karena tingkah-lakunya tak bisa dipahami, oleh kebanyakan orang pecinta itu diperlakukan dan dianggap sebagai orang gila. berikut kisahnya:

“Dahulu di Baghdad setiap musim panas, para pedagang disusahkan karena tingkah laku anak-anak muda. Umumnya anak-anak muda itu mengganggu para pedagang dengan mencuri barang dagangannya. Tapi pada suatu musim panas kejadian itu berbeda, anak-anak muda Baghdad tidak lagi mengganggu atau mencuri para pedagang karena mereka menemukan sebuah permainan yang lebih menyenangkan mereka. Saat itu ada seorang yang aneh yang muncul di tengah-tengah pasar kota. Keanehan orang itu mampu memikat anak-anak muda Baghdad untuk mengganggunya sehingga mereka tak lagi mengganggu para pedagang. Orang yang aneh itu namanya Bahlul. Dia tampak luar biasa, tingkah lakunya berbeda dengan kebanyakan orang. Pakaiannya compang-camping serupa dengan pakaian pengemis dan para gelandangan. Dari pakaian yang sobek di sana-sini badan kurusnya terlihat jelas dan terbayang oleh anak-anak muda bahwa Bahlul semacam kerangka manusia yang dibungkus dengan kain yang rusak.

Bahlul mempunyai penampilan yang sangat aneh dan sesekali menimbulkan kebencian orang-orang yang melihatnya. Kecuali pada pandangan matanya. Orang seolah melihat sebuah cahaya memancar dari matanya dan cahaya itu begitu bersinar sehingga tidak seorangpun yang sanggup memandang langsung wajah Bahlul. Bahlul sering berjalan kesana kemari, sesekali ia menganggukkan kepalanya kali yang lain ia tersenyum bahkan tertawa keras. Ia begitu terpukau pada temannya yang tak kelihatan sehingga kadang-kadang ia tidak terganggu dan tak peduli oleh apapun yang ada dan terjadi disekitarnya.

Anak-anak muda tidak mengerti, siapa sebenarnya Bahlul. Kadang-kadang mereka melemparkan batuan kapadanya dan mengolok-mengolok penampilannya. Sebagai balasan Bahlul yang biasa menundukkan kepala dan menutup mata perlahan-lahan mengangkat kepala dan membuka matanya kemudian tersenyum kepada mereka. Reaksi Bahlul sungguh tidak disangka sehinga anak – anak tidak tahu bagaimana mereka harus memberikan reaksi. belakangan mereka mendengar bahwa Bahlul itu adalah orang gila dan perkataan gila itu membantu mereka memahami siapa Bahlul sebenarnya.

Suatu kali, ada seorang pedagang dari Negeri Persia yang biasa berkelana ke beberapa Negeri, namanya Ahmad. Ia berkunjung pada kawanya di Baghdad dan kebetulan melihat anak-anak muda sedang tertawa karena baru saja mengganggu Bahlul. Kemudian ketika Ahmad bertanya “kenapa anak-anak tidak lagi mengganggu para pedagang?” pedagang yang ditemuinya berkata “Berkat Bahlul”. Begitu mendengar kata Bahlul Ahmad tercengang dan berkata “Owh,, ternyata orang itu ada di sini”. 

“Bagaimana anda tahu orang aneh seperti itu” tanya salah seorang pedagang. Ahmad lalu bercerita “Bahlul memang orang aneh, tapi dia sangat terkenal di negeri bagian Timur ketika aku bepergian ke sana” Ahmad diam sejenak memandang sahabat-sahabatnya lalu melanjutkan ceritanya “saya tahu engkau terkejut, kawan. Saya tahu kita semua mencitai Tuhan yang Maha Kuasa. Tapi dari yang saya dengar dan lihat dari kelakuan Bahlul, kecintaan Bahlul kepada Tuhan yang Maha Kuasa jauh berbeda dengan kecintaan kita. Ia berbicara dengan kekasihnya siang-malam seolah ia jatuh cinta pada perempuan yang paling jelita di alam semista dan perempuan itu sudah mencuri seluruh hati dan jiawanya. Ia membawanya kemanapun pergi, berbicara kepadanya  pada waktu bangun dan tidurnya.”

Ahmad menarik nafas kemudian melanjutkan “pada suatu hari kecintaan Bahlul pada Tuhan sudah tidak dapat dikendalikan sehingga ia tinggalkan rumah, pekerjaan dan mulai berkelana. Hanya Tuhan yang tahu apa tujuannya. Sejak saat itu ia betul-betul tenggelam dalam kecintaan pada Tuhan, sehingga ia meninggalkan semua pikiran selain tentang Tuhan, kekasihnya. Ia mengabaikan penampilan dan kesehatannya, ia seolah tak punya waktu untuk dirinya, karena itulah bajunya begitu compang camping, dan rambutnya kusut. Bahlul suatu ketika pernah kedengaran berkata ‘setiap waktu yang dihabisakan, yang tidak dihabiskan untuk memperhatikan Sang Kekasih adalah waktu yang sia-sia’.” 

Mendengar cerita itu kawan-kawannya terdiam, Ahmad pun tidak melanjutkan ceritanya. “ini betul-betul cerita yang aneh” kata salah satu diantara mereka. “memang betul” kata ahmad “Bahlul aneh, hanya sedikit orang yang bisa memahaminya, dan karena itu ia diperlakukan sebagai orang gila. Ia selalu diperlakukan sebagai orang gila hanya karena satu dosa saja yaitu ia tidak bisa dipahami oleh orang lain dan, Bahlul selalu mengalami berbagai penderitaan. Tapi Bahlul menganggap segala yang terjadi pada dirinya berasal dari Tuhan.”

Beberapa hari kemdian, ketika anak-anak yang menggaggu menyebabkan babak belur, Bahlul memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan berangkat menuju Basrah. Tubuhnya sakit, kakinya luka-luka parah. Tertatih ia berjalan menuju Basrah sambil tersenyum dan terus berbicara pada kekasihnya. Ia sampai di pintu Gerbang kota Basrah waktu menjelang tengah malam. Karena tidak menemukan tempat tidur dan kebetulan ia melihat seorang berselimut berbaring didinding kota Bahlul meletakkan tubunya di samping orang berselimut itu kemudian tertidur.

Pada pagi hari, ketika Bahlul mau membuka mata ia merasakan ada tombak tajam hampir menusuk bahunya dan ketika membuka mata ia melihat sudah dikelilingi sekelompok tentara. Di sampingnya, ada sebuah mayat yang sudah tertutup darah. Rupanya Bahlul semalaman tidur di samping mayat.

Bahlul dituduh sebagai pembunuh dan ringkas cerita ia dibawa ke pengadilan. Karena pembincaraannya tidak bisa dipahami maka Bahlul divonis hukuman mati. Hukumannya adalah digantung. Ketika hendak dilakukan eksekusi, tali gantungan sudah menjerat lehernya tiba-tiba seorang datang meminta agar Bahlul dibebasakan. Orang itu mengaku sebagai pembunuh mayat yang tidur bersama Bahlul. Kemudian kedua-nya dibawa ke pengadilan. Bahlul pun di bebaskan.

Saat di pengadilan, seorang hakim penasaran kemudian bertanya pada Bahlul, “apa yang menyebabkanmu begitu tenang meski tali gantungan sudah menjerat lehermu? Apakah karena kamu yakin kalau kamu tidak akan dibunuh?.” Bahlul menjawab “ketenangan ini, bukanlah karena keyakinan karena aku tidak akan digantung. Tetapi karena aku yakin bahwa apa yang diputuskan Allah kepadaku pastilah yang paling baik. Karena itu aku menyerahkan seluruh kehendakku pada kehendak-Nya. Inilah yang membawakanku kedamaian dan ketenangan tuan Hakim.”

Sekali lagi hakim bertanya “apa doa terakhir yang kau panjatkan sebelum lehermu dijerat oleh tali gantungan itu?”. 
“saya tidak berdoa seperti yang kalian maksud. Karena seseorang yang percaya pada Tuhan tahu bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu. Bukanlah tugas kita untuk meminta-Nya mengubah jalannya peristiwa yang telah ditentukan-Nya. Untuk para pecinta Tuhan, apa pun yang terjadi adalah yang paling baik.” Bahlul berhenti sejenak lalu melanjutkan “sebetulnya apa yang aku lakukan adalah berbicara pada Tuhanku. Aku katakan bahwa Tuhanku tahu betul bahwa aku sangat mencintai-Nya dan apapun yang Dia lakukakan padaku tidak akan mengubah kecintaaku pada-Nya kecuali kalau Ia ingin agar cintaku ini berubah. Sekiranya Ia memilih untuk mengirimku racum yang pahit sekalipun aku akan menegukknya sebagai madu yang manis dan sebagai hadiah yang berharga.”

Demikian, wallahu a’lam.

Jumat, 17 Februari 2017

Platonic Love

Oleh: Silmi Novita Nurman

Aku mencintaimu bukan karena apa agamamu dan bagaimana fisikmu.
Tetapi, aku mencintaimu karena ada ruh Tuhan yang bersemayam dalam dirimu.

Saya sangat terkesan dengan salah satu quote yang ditulis oleh Plato. “At the touch of love, everyone becomes a poet”—kalau sudah jatuh cinta, seseorang akan menjadi puitis. Barangkali, benar adanya bahwa cinta membuat orang menjadi gila. Ketika seseorang jatuh cinta, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah orang yang ia cintai. Berbagai cara akan dilakukan untuk menunjukkan rasa cintanya, terlebih pada zaman modern sekarang ketika media sosial menjadi salah satu wadah yang mumpuni untuk menampung kata-kata puitis tersebut. Ungkapan perasaan “aku cinta kamu” kini tidak lagi dioralkan di depan orang yang dicintai ataupun diselipkan di setiap doa. Namun, diumumkan di media sosial dengan berbalut bahasa yang dapat menggunggah jiwa setiap pembacanya.

Ketika seseorang telah jatuh cinta, yang ada hanyalah orang yang ia cintai sehingga muncullah kalimat-kalimat, seperti: Aku sangat mencintaimu, apa pun akan kulakukan untukmu; Gunung yang tinggi akan kudaki, laut yang luas akan kuseberangi; Hanya kita berdua yang ada di dunia ini, yang lain ngontrak. Jalan berpikir orang yang sedang jatuh cinta akan patah seketika karena cinta memiliki jalan berpikirnya sendiri. Namun, perlu diketahui bahwa jatuh cinta berawal dari kebutuhan untuk mencari sesuatu yang baik. Seseorang yang jatuh cinta akan mencari dari apa yang tidak ia punya di dalam dirinya. Ia sadar bahwa ada kekurangan di dalam dirinya sehingga ingin mencari kebaikan dari orang lain untuk melengkapi kekurangannya tersebut.

Cinta, kata Plato, itu ibarat kereta bersayap dengan dua kuda (hitam dan putih) yang dikendalikan oleh sais (kusirnya). Kuda hitam lambang dari nafsu-nafsu rendah, sementara kuda putih lambang dari hasrat dan harga diri. Sais adalah lambang dari rasio, sementara sayap simbol dari eros atau cinta itu sendiri. Seperti kata pepatah Arab yang mengatakan bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir. Jadi, kita ibarat kereta yang dikendalikan oleh akal. Jangan sampai akal kita menjadi mati. Jika akal mati, maka kita akan sama dengan binatang yang tak mempunyai akal pikiran.
Orang yang jatuh cinta harus menggunakan akalnya. Oleh karena itu, Plato membagi cinta ke dalam tiga jenis, yaitu: cinta jasmaniah, cinta persahabatan, dan cinta ketuhanan. Orang yang jatuh cinta karena melihat faktor fisik, maka level cintanya masih berada pada level dasar. Mencintai seseorang karena kecantikan atau ketampanan itu termasuk cinta karena faktor fisik. Maka, ketika orang yang ia cintai sudah mulai menua, keindahan itu mulai dimakan zaman sehingga ia tidak lagi mencintainya. Cara mencintai secara jasmaniah seperti itu baru sampai pada level mawaddah, belum mahabbah ataupun rahmah (penuh cinta). Cinta harus selalu naik kelas, bukan sekadar cinta fisik. Jika cintamu sudah pada level tertinggi, yaitu rahmah, maka hidupmu akan menjadi sakinah.

Pada level kedua, ada cinta persahabatan. Cinta persahabatan merupakan jenis perasaan cinta yang ditujukan kepada semua orang. Cinta kategori ini lahir karena didorong oleh ketulusan hati untuk kebahagiaan orang lain.

Ketiga, level yang paling tinggi dalam mencintai adalah level cinta ketuhanan. Sebuah perwujudan dari karunia Tuhan dan cinta-Nya kepada manusia. Cinta ketuhanan ini sejalan dengan quote di atas bahwa mencintai seseorang bukan dilihat dari apa agamanya dan bagaimana fisiknya, tetapi karena aku mencintaimu sebab ada ruh Tuhan dalam dirimu.

Jadi, atas nama manusia kita sudah semestinya mencintai sesama karena kita semua adalah bersaudara. Tak peduli apa pun agamanya, ketika ada musibah, kita tetap saling membantu. Jangan sampai saling mencaci-maki, mengadu-domba, ataupun menyebar fitnah karena Nabi Muhammad SAW tak pernah mengajarkan hal yang demikian. Beliau selalu menunjukkan sebaik-baiknya sikap kepada umatnya. Ketika dicaci-maki, diludahi, dan difitnah, beliau tidak marah. Atas nama cinta, beliau tidak membalas balik perbuatan tersebut. Beliau justru merangkulnya karena sadar bahwa cinta tak memandang seseorang itu beragama A, B, atupun C. Cinta juga tak memandang seseorang itu cantik atau tampan. Beliau sadar bahwa apa yang harus ditanamkan di dalam hati adalah mencintai seseorang karena ada ruh Tuhan di dalam diri orang tersebut. Inilah cinta yang disebut Phaedrus sebagai devine madness (kegilaan ilahiah yang inspiratif dan intuitif sehingga membuat seseorang berperilaku berbeda dari sikap keseharian yang dianggap ‘normal’).

Kegilaan ilahiah akan bermuara pada pemahaman bahwa semesta berbahan dasar cinta, berproses menjadi dan mengada termasuk kita di dalamnya. Eryxmachus, seorang dokter dari Yunani, mengatakan bahwa cinta merupakan sumber kebahagiaan yang membuat kita berhubungan dengan sesama, alam semesta, dan Tuhan. Cinta dapat memengaruhi segala sesuatu, termasuk binatang, tumbuhan, sehingga kapan pun cinta diperoleh harus dipertahankan.

Alkisah. Pada suatu ketika ada seorang perempuan tunasusila memberi minum pada seekor anjing tapi dengan tulus cinta sehingga Allah memasukkannya ke surga. Cerita itu menunjukkan bahwa cinta tahu kepada siapa ia akan berlabuh, termasuk kepada binatang sekalipun. Segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, lalu mengapa kita harus memilah dan memilih kepada siapa cinta itu akan disematkan? Bukankah Tuhan Mahapengasih dan Mahapenyayang yang tak pernah pilih kasih terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya? 
Sebenarnya, jika kita menanamkan cinta di dalam diri kita, maka ia akan tumbuh rindang. Namun, kebanyakan orang tidak melakukan hal itu. Cinta hanya menjadi sebuah pajangan yang terlihat indah, tetapi tidak menyejukkan sehingga tidak heran bila sekarang kita mengalami krisis cinta. Sekarang negeri kita menjadi “negeri para pelapor”. Dikit-dikit lapor. Gantian. Begitu seterusnya. Beginilah jadinya jika faktor emosional diikutsertakan dalam cinta. Apabila cinta terikat dengan faktor emosional, maka yang akan lahir adalah kepedihan dan penderitaan.

Makanya, bangun cinta itu kembali karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tak mengedepankan ego dan keakuan! Kata Agathon (sophis), “Cinta itu kemudaan. Cinta itu cantik. Cinta itu menciptakan empat kebajikan: keadilan, kesederhanaan, keberanian, dan kebijaksanaan.” Jika semua orang mempunyai empat kebajikan tersebut, maka kita tidak lagi mengalami krisis cinta. Tidak ada lagi pertanyaan dan pernyataan di dalam batin, “Kamu agamanya apa? Kamu bukan dari golonganku! Kamu tidak senegara denganku!” Dengan begitu, tidak ada lagi rasisme karena yang ada adalah: kita semua bersaudara; aku cinta kamu; kamu cinta aku. Pada akhirnya, terciptalah kedamaian di atas dunia tanpa ada sekat yang membatasinya.

Oleh karena itu, Plato berpesan, “Jangan biarkan siapa pun menyewa otakmu, kecuali penyewa yang baik! Sebab cinta adalah kegembiraan dalam kebaikan. Jika otakmu sudah disewa oleh penyewa yang tidak baik, maka alamat hidupmu akan amburadul dan jatuh pada lubang kesengsaraan.” Waallahu a’lam.


*Silmi Novita Nurman, Suka Puisi. [Catatan Santri Ngaji Filsafat, Edisi ke-140: Filsafat Cinta-Plato]

Rabu, 15 Februari 2017

Keris itu Bernama Surono

Oleh: Lingga Fajar*

Kamu sama alam duluan siapa?” Surono (Kepala PVMBG)

Siang itu (14/12) saya merasa bosan ketika mendengarkan “ceramah” tentang hoax dan bagaimana cara mengatasinya. Cara mengatasi hoax atau berita bohong itu paling tidak saya sudah tahu. Karena terjadi pengulangan materi yang dilakukan oleh pembicara, itu yang menjadikan saya males untuk mendengarkanya. Situasi itu bertahan hingga siang hari. Namun setelah makan siang, talkshow dalam rangkaian Merapi Volcano Expo 2016, menjadi lebih segar, karena kedatangan tamu spesial yaitu Mbah Rono atau Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sesuatu yang mengejutkan, beliau bisa menyempatkan mampir ketika agenda beliau padat. Maklum orang penting.

Dari pemaparan berhimpitan dengan curhatnya Mbah Rono siang itu, saya dapat banyak menangkap pengetahuan terkait kegunungapian. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan mengemukakan semuanya, hanya yang saya anggap perlu saja untuk sekedar berbagi dari sejauh apa yang bisa saya tangkap dan ungkapan kembali.

Kita tahu, Indonesia dikepung oleh lempeng benua dan lempeng samudra secara bersamaan. Disini ada pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Lempeng-lempeng tersebut, menurut Mbah Rono, bersifat menarik benua dan samurdra yang mewakilinya. Adanya tumbukan lempeng benua itu menjadikan Indonesia kaya akan gunung api yang berjajar dari Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi dan memanjang ke utara hingga Filipina dan Jepang, yang menurut para ahli disebut ring of fire. Banyaknya gunung api ini dapat membawa manfat sekaligus bencana.

Manfaat gunung api ada banyak. Setidaknya ada empat yaitu penyedia air, makanan, cahaya atau energi dan ruang kehidupan. Keempat hal itu disediakan oleh gunung bagi kita. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkanya secara bijak untuk kesentosaan umat manusia. Hutan di sektiar gunung menyediakan suplai air bagi siapa saja yang membutuhkan dan tanpa membedakan. Air merupakan elemen penting untuk kehiduapan mahkuk hidup. Gunung dengan hutan yang rimbun memberikan backup air yang memadahi untuk segala musim. Selain itu hutan gunung juga menahan erosi air hujan, menyerap kemudian mengeluarkan suplai pada musim kemarau. Dalam silkus demikian, selama hutan itu dijaga, manusia tidak akan kekuranan air untuk sekedar betahan hidup sampai anak cucu. Tapi kita juga tahu, bahwa kerusakan alam adalah akibat ulah tangan manusia maupun pihak-pihak yang ngoyo memburu keuntungan sebesar-besarnya: wong-wong kedunyan.

Lebih dari sekedar mengerti

Manusia dan gunung berapi (alam secara keseluruhan), mempunyai sifat untuk ingin dipahami segala geraknya. Dalam paparanya, Mbah Rono mengatakan bahwa setiap kejadian alam itu pasti ada tanda-tandanya. Hal itulah yang coba dikatakan oleh Mbah Rono kepada kami. Beliau memperlebar pandangan kami tetang bencana. Beliau bercerita tentang gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, dengan perspektif yang berbeda.

Gempa itu sebenarnya tidak membunuh manusia, mosok dengan goyangannya bisa membunuh manusia? Itu tidak mungkin. Yang membunuh dari gempa bumi adalah material yang jatuh mengenai tubuh kita, itu yang membuat gempa menimbulkan korban. Tsunami? Juga sama. Akibat gelombang air yang membawa benda-benda lain itu yang membunuh kita. Tanah longsor? Pada dasarnya tanah bergerak mencari keseimbangan, maka dari itu timbullah longsor. Banjir? Sejak kapan banjir memakan korban? Hanya manusia yang kurang peka akan tanda-tanda alam yang tersaji yang akhirnya menimbulkan korban. Timbulnya banjir terkait erat dengan keadaan hutan. Makanya jangan salahkan air yang pada sifatnya mengalir dari atas ke bawah, menghayutkan karena di dalam air ada tekanan. Tetapi lihatlah kondisi hutan. Erat kaitanya disitu.

Ada cerita lucu tentang banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di Jawa Barat. Mbah Rono dipanggil kesana untuk menjadi dewan penasihat dari dinas terkait untuk menanggulangi banjir yang terjadi. Dan dalam kejadian itu pemeritah berencana untuk merevitalisasi sungai, yang memakan dana yang tidak sedikit. Beliau (Mbah Rono curhat), dengan melontarkan pertanyaan begini: “Duluan mana alam dibanding manusia?”. Para hadirian glagepan mendengar pertanyaan tersebut. Selain itu Mbah Rono mencium adanya proyek manipulasi yang akan dilaksanakan oleh dinas terkait. Alih-alih ingin merevitalisasi aliran sungai malah ingin mengeruk keuntungan dari pembangunan proyek!

Ada juga cerita lucu tentang seminar penanggulangan kebencanaan yang dilakukan oleh pemerintah. Seminar yang diikuti para kepala anggota dewan yang terhormat dilaksanakan di hotel bintang lima dengan fasilitas yang super mewah. Ketika itu Mbah Rono juga mengatakan bahwa seminar itu pakai dasi dan makan roti. Beliau sebanarnya tidak menghendaki yang seperti itu. Beliau menghendaki seminar yang sedhêngan saja dan tepat sasaran. Eh.. tak dinyana, selang dua bulan para anggota dewan terhormat itu di-reshuffle. Lah, apa gunanya ngadain seminar?

Pada letusan Merapi tahun 2010, Mbah Rono ibarat dokter yang menangani pasien, ditakdirkan untuk menangani pasien bernama Merapi. Dokter diberi alat bermacam-macam untuk mendiagnosis penyakit pasien secara komprehensif agar dapat disembuhkan penyakitnya. Sama halnya dengan kasus gunung api ini. Mbah Rono dan seluruh staffnya dengan alat-alat lawas memprediksi bahwa letusan kali ini (2010) lebih besar dari letusan 2006 ataupun sebelumnya. Benar saja, yang dulunya (sebelum 2010) radius evakuasi hanya 10 Km, kini menjadi dua kali lipat, menjadi 20 Km jarak aman. Menurut orang awam hal ini tidak masuk akal dan menganggap Mbah Romo ngelantur alias mengada-ada. “Ah paling seperti yang dulu” begitu pikir mereka.

Akibatnya, menyulitkan proses pengungsian. Perubahan radius pengungsian dari 10 Km ke 20 Km dalam waktu kurang dari 3x24 jam menyulitkan pembuatan dapur umum. Tapi untunglah para pengungsi itu ndilalah mau. Waktu itu hanya 35 jam sebelum letusan terjadi. Dengan sigap Mbah Rono mengabarkan SKPD terkait agar mengevakuasi masyarakatnya secara perlahan. Mbah Rono saat itu tidak memberitahukan akan letusan Gunung Merapi kepada masyakarakat luas karena takut menimbulan kekisruhan di masyarakat.

Benar saja pagi Merapi meletus. Radius aman 20 Km sebagai jarak aman terpenuhi karena awan panas mencapai radius 17 Km ke arah selatan. Memang Merapi meletus lebih dahyat dari letusan yang pernah terjadi sebelumnya. Sebagai pembading adalah dua letusan sebelum hari itu, yaitu tahun 2006 dan 2004. Melihat grafik yang tersaji saya kaget, grafik warna merah yang menunjukan dahsyat letusan 2010 itu lebih dari tiga kali tingginya jika dibandingkan dengan 2006 dan 2004. Perlu diketahui grafik letusan 2004 dan 2006 menunjukan grafik yang sama, mungkin karena itu para masyarakat agak skeptis menanggapi perintah Mbah Rono terkait dengan perluasan jarak yang dilakukan.

Perlu digarisbawahi bahwa sebenarnya alam itu juga perlu dimengerti, ada saat-saat manusia harus menyingkir untuk penganugerahan kesuburan baru yang dilakukan Tuhan lewat gunung api. Dengan adanya gunung api yang menyumbang kesuburan tanah, pasir dan selang waktu masyarakat mendulang keuntungan dari apa yang dimuntahkan gunung Merapi.

Maka dari itu, dengan ilmu pengetahuan kita mencoba mengerti kemauan alam. Ilmu itu ibarat jembatan kecil yang mengaitkan dunia manusia dan alam. Jika jembatan keilmuan itu tidak dirawat, maka ia akan rusak dan akhirnya putus. Sehingga manusia buta akan isyarat alam.

Alam itu ibarat wanita yang penuh cinta kasih. Ia bisa menjadi begitu manja, penuh perhatian, dan memberi cinta kepada siapapun. Namun juga ada saatnya ia menjadi galak dan murka, itu sudah sunatullah yang perlu dimengerti oleh setiap kita. Dan itu merupakan siklus yang berulang. Maka pada saat seperti itu kita diwajibkan untuk menjaga jarak. Setelah reda, kita bisa mendekat lagi dan mendapatkan curahan cinta kasih alam, seseimpel itu. Namun manusia banyak yang ngeyel.

Mbah Rono saat itu menjadi pahlawan ketika Gunung Merapi meletus pada pagi harinya. Meskipun banyak pihak yang nyinyir atas perilaku Mbah Rono, karena pelitnya informasi, kini kebenarannya dapat dipetanggungjawabkan. Masyarakat dapat menyelamatkan diri tanpa terjadi chaos. Tertempa oleh pengalaman, keahlian, membuat Mbah Rono tidak membuatnya mementingkan dirinya sendiri. Ia rela tidak tidur dan mengawasi Merapi jika sewaktu-waktu berubah status. Menurutnya jangan ada banyak korban letusan Merapi kali ini. Mungkin ini yang patut dicontoh dari seorang Mbah Rono sebagai salah satu keris yang patut saya junjung tinggi martabatnya dan saya tiru perilakunya.

*Lingga Fajar, Kuliah di UNY, Bergiat Literasi di MJS Project.

Minggu, 12 Februari 2017

Ikhlas karena Allah

,,Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan ridha Allah SWT. kami tidak menghendaki balasan dari kamu, dan tidak pula (ucapan) terimakasih. (Q.S : al-Insan : 9) 

Begitulah perkataan orang-orang yang ikhlas karena Allah SWT yang di jelaskan oleh al-Quran. Amal Perbuatan mereka hanya dilakukan dengan tujuan untuk mengharap ridha-Nya, tidak yang lain. bahkan ucapan terimakasih pun tidak mereka harapkan. Mereka memang ingin di puji, ingin di sanjung, dan ingin dikenal, tetapi hanya oleh dan di hadapan Allah SWT. bukan oleh dan di hadapan sesama manusia. Mereka bersifat demikan karena mereka menyadari bahwa setiap yang diperuntukkan bagi Allah niscaya akan memuliakan deradatnya dan menuju kepada ridha-Nya dan setiap yang diperuntukkan hanya untuk manusia tidak akan bernilai apa-apa bagi-Nya. 

Sesungguhnya kami memberi”menunjukkan bahwa orang-orang tersebut tidak hanya memikirkan hubungan secara vertical dengan Tuhan, tetapi mereka juga orang-orang yang mau menjalin hubungan baik secara horizontal dengan sesama manusia dan dengan lingukungannya. Mereka memberi, membantu, menolong. Bukan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia, tetapi karena mereka menyadari bahwa menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak cukup hanya dengan perkataan, pun juga mereka sadar bahwa bukanlah shalat, puasa, dan zikir yang tiada henti yang menjadi ukuran tinggi rendahnya kualitas imannya, tetapi iman juga harus mewujud dalam seluruh aktivitasnya sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk yang beragama. Seluruh amal perbuatan itu mereka lakukan dengan tanpa menharap balasan apa pun selain ridha-Nya. (kami tidak menghendaki balasan dari kamu, dan tidak pula (ucapan) terimakasih).

Memang sangat sulit menemukan orang-orang yang memiliki kualitas demikian, Secara lisan, orang bisa saja mengatakan bahwa apa pun yang dilakukan adalah “Ikhlas karena Allah SWT”, misalnya membangun masjid, sekolah, pesantren, jalan, dan lain-lain. akan tetapi, siapakah yang bisa mengetahui niat hati orang lain, selain orang itu sendiri dan Tuhan yang maha Mengetahui?. Oleh sebab itu, menjadi hal menarik untuk mempertanyakan kembali orang-orang yang selalu mengatakan secara lisan bahwa amal perbuatannya dilakukan dengan “Ikhlas”.

Ada fenomina yang menarik untuk kita cermati belakangan ini, yaitu banyak sekali dibangun sekolah, masjid, jalan raya, rumah sakit, yayasan, pesantren, yang mana semua itu selalu dinisbahkan kepada nama seseoarang atau sekelompok orang. Misalnya Yayasan “Kyai A”, Sekolah “ Dr. B”, “X” institute, Jalan “Z” dan lain-lain. hal itu berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh ulama dulu yang memberikan nama misalnya “Madrasah Mansyaul Ulum, Ponpes Nurul Ulum, Masjid Nurul Huda, Yayasan al-Nur, jalan Margo Mulyo, Jalan Margo Utomo dan nama lain yang selalu dinisbahkan kepada kata-kata mulya dan mengandung makna tinggi. pertanyaannya adalah apakah orang-orang yang sangat giat untuk menempelkan namanya itu benar-benar bertujuan untuk mencari ridha Allah ataukah hanya sekedar untuk mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah?. semuanya itu hanya Allah yang mengetahui. 


Niat hati seseorang memang tidak bisa diketahui oleh siapapun, dan siapapun sah-sah saja untuk melakukan apa saja dengan tujuan dan niat apa-pun, tetapi sebagai orang yang beragama alangkah lebih dan memang sangat baik serta dianjurkan perbuatannya dipersembahkan hanya untuk Allah, karena dengan begitulah amal perbuatannya itu tidak hanya membawa kemulyaan di dunia, tetapi juga membawa kebahagiaan di akhirat kelak. Karena, Tolak-ukur nilai suat amal di sisi Allah adalah kualitas, bukan kuantitas. Bukan pula hanya karena aspek material atau atas pengakuan sekelompok orang. 

Ada sebuah kisah menarik yang bisa menjadi bahan renungan kita bersama. kisah hikmat itu saya kutib dari buku Karya Murtadha Muthahhari “Keadilan Ilahi”,berikut ini: 

Konon, disebuah kampung terdapat sekelompok orang sedang membangun sebuah masjid. Setelah mendengar berita itu, Bahlul, Warga kampung sebelahnya datang melihat dan bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?” “membangun Masjid,” Jawab Mereka. “Untuk apa”? Tanya Bahlul “Kami membangun masjid ini semata-mata untuk mencari ridha Allah,” jawab orang-orang itu. 

Bahlul bermaksud membuktikan sejauh mana keikhlasan beramal sekelompok orang itu. Untuk itu, diam-diam dia menyuruh seseorang memahat sebuah batu dengan tulisan “Masjid Bahlul”. Di tangah malam, ia membawa batu pahatan itu dan menimpelkannya di atas pintu masjid. Esoknya, orang-orang yang membangun masjid itu berdatangan, dan ketika melihat adanya batu bertuliskan “Masjid Bahlul” di bagian depan masjid, mereka marah dan mencari-cari Bahlul. setelah menemukannya mereka pun langsung memukulinya ramai-ramai. Orang-orang itu mengatakan, “Engkau telah mencuri hasil keringat orang lain dan menulis namamu diatasnya.” 

Bahlul menjawab “bukankah kalian telah mengatakan bahwa apa yang kalian kerjakan itu semata-mata untuk Allah? Benar,! bahwa Kalian dan khalayak bisa kukelabui, dan mereka akan menganggapnya bahwa akulah yang membangun masjid ini, tapi Allah tidak akan pernah bisa kukelabui. Dia pasti mengetahui bahwa kalianlah yang membangun masjid ini.” 


Sekarang perhatikan, alangkah banyaknya kita saksikan berbagai pekerjaan yang menurut penilaian kita sangat besar dan agung, tapi sangat mungkin sekali di sisi Allah tidak seberapa bahkan tak lebih hanya sekedar “memahat nama di atas prasasti”. Entahlah, mungkin begitulah nasib sebagian masjid, rumah sakit, tempat ziarah, jembatan, sekolah, yayasan dan lain sebagainya, dibangun untuk memperkenalkan dan memulyakan nama seseorang, atau sekelompok orang agar ia mendapat pujian, serta sanjungan dari orang lain, padahal Allah berfirman“ Tidaklah mereka diperintah, Kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan keikhlasan kepada-Nya”(Q.S : al-Bayyinah : 5)



Tulisan ini sudah pernah dimuat d Buletin MJS. Tapi lupa kapan tanggal dan tahun terbitnya.. 

Sabtu, 04 Februari 2017

Tabayyun

Oleh: Muh. Taufiq Al Hidayah*

Pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami kini seiring dengan maraknya penggunaan media sosial menjadi rawan tersiar berita bohong (hoax). Malahan penyebaran informasi yang dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kepada pendengar atau khalayak yang heterogen serta tersebar di mana-mana makin gencar dilakukan guna mendulang massa. Akhirnya mudah sekali khalayak termakan hoax, kemudian menjadi aksi yang pada ujung dan pangkalnya mereka sendiri cenderung tidak begitu paham mengenai inti pokok persoalannya. Hanya sekedar mengikuti arus gelombang massa.

Apalagi dalam penyampaian pesan tersebut semakin didukung oleh media komunikasi yang setiap waktu dalam genggaman tangan, semakin memudahkan orang menerima informasi dan menyebarkannya kembali. Barangkali menyebarkan informasi yang diperoleh sekedar untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Atau ingin menjadi orang pertama dalam memberitakan maupun yang menginformasikan apa pun yang diperoleh. Kecenderungan untuk membagi tanpa terlebih dahulu memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh yang menjadikan berita bohong akhirnya menjadi konsumsi publik dan diyakini oleh massa sebagai kebenaran.

Satu hal yang luput dari perhatian kita di tengah banjir informasi hari ini, yaitu pemeriksaan tentang kebenaran laporan, informasi, perhitungan maupun lainnya berganti dengan latah jari membagikan. Pokoknya tinggal pencet share dalam sekejap informasi yang diinginkan tanpa ba.. bi.. bu.. akan tersebar. Begitulah. Perkawinan antara komunikasi dan teknologi informasi via internet ternyata melahirkan arus informasi yang telah memberikan beragam kemudahan dalam pergaulan hidup manusia yang tak lagi mengenal sekat, tak lagi sebatas ruang dan waktu. Hal ini pula yang menjadi tumpuan proses masuknya apapun ke ruang lingkup dunia.

Berbagi memang salah satu hal yang dianjurkan dalam agama, sebab berbagi dapat mengasah kepekaan sosial kita terhadap sesama. Berbagi informasi salah satunya. Informasi membuat kita hidup dengan mudah, juga bisa celaka. Berita, fakta, prasangka dan fitnah terkadang bercampur aduk, jika tak berhati-hati bisa berbahaya. Tak sedikit informasi yang disebar jadi penyebab orang masuk bui. Wajar jika Rasulullah bersabda, “Keselamatan seseorang tergantung pada menjaga lisan”. Lisan disini bukan hanya kata-kata yang keluar dari mulut kita, tapi tweet dan status, informasi yang di-share, SMS dan BBM yang di-broadcast.

Terkadang banyak dari kita yang menerima informasi tanpa pikir panjang menyebarnya begitu saja, kita malas mengecek kebenarannya. Itu sebabnya informasi mengalir begitu deras tak terbendung. Konon ketika berita baik menyebar beberapa kilometer, berita buruk lebih dulu mengelilingi dunia. Wajar jika kini persangkaan makin kuat diantara kita, padahal “Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran” (QS. An Najm [53]: 28).

Lantas bagaimana cara kita mengelola informasi yang baik? Setidaknya tanyakan beberapa hal ini pada diri kita sebelum menyebarkan informasi: Apakah informasi ini benar, sudahkah kita tabayyun? Apakah itu fakta atau prasangka? Jika fakta apakah perlu disebarkan? Apakah ada orang akan tersakiti dengan tersebarnya informasi itu? Terakhir, apakah informasi yang kita sebarkan memberi kebaikan atau justru menyulut permusuhan? Mari ber-tabayyun dulu.

Jangan Lupa Tabayyun

Tabayyun dalam tafsiran Al-Qur’an adalah mencari kejelasan hakekat sesuatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati. Hal ini menjadi sangat diperlukan pada setiap diri setiap muslim. Bagaimana tidak, kadang hal yang harusnya menjadi konsumsi pribadi berubah jadi konsumsi publik, dari hal yang terlihat kecil, sepele, bisa saja disulut dan menjadi tampak besar, atau yang hari ini menuai puja-puji, esoknya bisa hina dina. Sungguh, kini dorongan untuk berbuat buruk, negatif, menyebar berita hoax justru menjadi daya gerak banyak orang/pihak dalam berkomunikasi.

Alkisah, pada suatu waktu sahabat nabi, Usamah bin Zaid, diutus dalam sebuah perang. Suatu ketika sahabat ini menyerbu musuh dan mendapati musuh itu terdesak sehingga tak bisa lagi melarikan diri. Merasa terdesak si musuh itu tadi mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah. Namun Usamah tak bisa menahan diri hingga akhirnya menghujamkan tombaknya, akhirnya musuh itu tewas. Kabar tersebut sampai kepada Rasulullah, kemudian beliau menanyakan langsung ke Usamah, ”Hai Usamah, mengapa engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah? Dijawab oleh Usamah, bahwa, ”Dia mengucapkan itu hanya untuk melindungi diri”. Namun Rasulullaah saw terus mengulang-ulang pertanyaan itu (HR. Bukhari). Bahkan di hadis riwayat Muslim, Nabi Saw bertanya kepada Usamah, “Apakah kamu telah membedah hatinya?”
Lain lagi cerita dari seorang yang hidup di zaman nabi yang bernama Al Walid bin Uqbah. Kala itu ia diutus untuk mengambil zakat Bani Al Musththaliq. Belum sampai ia di tempat amanahnya, ia melapor kepada nabi bahwa mereka enggan membayar zakat dan hampir membunuhnya. Mendengar hal ini, Rasulullah SAW segera bertindak mengklarifikasi laporan itu melalui Khalid. Hampir saja terjadi peperangan antar muslim karena kabar tersebut. Inilah yang menjadi latar dari turunnya perintah tabayyun (QS. Al Hujurat [49]: 6). Maka hal yang wajar, jika Allah menggariskan orang yang tak ber-tabayyun, itu akan menyesali perbuatannya, seperti halnya Usamah menyesal hingga merasa belum pernah masuk Islam sebelumnya.

Belakangan ini orang jadi sangat sensitif dan penuh prasangka negatif. Akal sehat seperti tumpul dikalahkan oleh realita yang ada, lalu sampai pada penggiringan sebuah opini individu yang menjadi kebenaran mutlak. Sehingga kebenaran hanya milik yang merasa benar. Hasilnya? “Fanatik Buta”. Informasi yang kadang nyatanya isu belaka dan tak bisa dipertanggungjawabkan bergulir liar diantara kita, mengelinding seperti bola panas, menyulut bagi yang tak berpikir jernih dan bersumbu pendek. Padahal, bisa saja isu itu adalah “trap” untuk mengetahui sedalam mana air beriak sehingga kedalaman air bisa diketahui, macam test of the water.

Inilah pentingnya mengetahui duduk suatu perkara, mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Bukankah dalam mencerna sebuah informasi kita harus adil seperti apa yang diungkapkan Pramudya Ananta Toer, “Adil sejak dalam pemikiran”. Ceroboh namanya jika informasinya langsung ditelan mentah-mentah tanpa lebih dulu menyaring. Lebih baik menjawab,“Saya tidak tahu” karena itu merupakan separuh ilmu, kata Syaikh Sholih Fauzan. Ketimbang menjawab asal-asalan, sok tahu, padahal tak mengusai ilmu, sehingga sesat menyesatkan terjadi.
Saya jadi teringat pidato gubernur Nusa Tenggara Barat pada Hari Pers Nasional 2016 lalu yang dihadiri oleh banyak tokoh pers se-Indonesia dan presiden Jokowi. Beliau sempat menceritakan pengalamannya ketika beliau berada di Mesir, “Satu-satunya berita yang masih dapat dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10, yakni berita duka”. Bayangkan, saking tak ada informasi yang bisa dipercaya lagi, hanya berita duka itulah satu-satunya berita/informasi yang dapat dipercaya. Mengerikan. Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah, bi rahmatika ya arhamar-rahimiin.

*Muh. Taufiq Al Hidayah, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijga, Yogjakarta.

Tulisan ini terbit cetak di Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, 3 Februari 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Masjid dan Politik

Oleh: Abu Ertaja*

Masjid, secara peristilahan, memang berarti tempat bersujud. Sungguhpun demikian, dalam kenyataan sehari-hari, masjid tampil lebih dari hanya sekedar sasana persujudan. Masjid malah merupa sebagai situs penting dalam daur hidup umat Islam. Pada titik ini, masjid bersenda-jumpa dengan seluruh dimensi kehidupan manusia. Karena itu, masjid juga dapat dicandra sebagai fakta historis. Saat melihat masjid, akan sangat sulit untuk melepaskannya dari mata analisis sosial-budaya. Sebab, itu tadi, masjid menyimpan rekaman perjalanan manusia dengan segenap simpul-buhul kehidupannya. Dengan kata lain, masjid adalah benda kebudayaan. Ia memiliki historisitas.

Sejak mula kala, masjid selalu berwajah kebudayaan. Sekalipun didirikan sebagai arena penyembahan kepada Allah SWT, masjid tidak bisa lari dari perangkap konstruksi sosial. Maksudnya, masjid pasti dibentuk oleh kaidah-kaidah kehidupan sosial-budaya manusia. Setidaknya, hal ini bisa dilihat dari segi arsitekturnya. Masjid di Turki pasti akan berbeda corak, ornamen, tata-ruang, serta hitungan geometrinya dengan masjid di Amerika Serikat. Begitu pula masjid di pulau Jawa pasti berbeda dengan masjid di pulau Sumatera, meskipun dalam segi-segi tertentu, ada kemiripan di antara keduanya.

Itu baru dari segi arsitekturnya. Belum lagi dari segi ideologi yang melatari pendirian ataupun pengelolaan. Misalnya, dari beberapa fakta di lapangan, saya menemukan bahwa di Medan, Sumatera Utara, “Masjid Taqwa” pasti “milik” Muhammadiyah. Masjid al-Falah seringkali saya temukan berafiliasi dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Masjid al-Mubarak, di berbagai kota di Indonesia, juga identik dengan Ahmadiyah. Selain itu, di dalam masjid pun, antar imam atau pemuka agama juga terkadang terjadi adu ideologi. Belum lagi antar juru khutbah yang setiap Jum’at meneriaki umat dari atas mimbar.

Fakta-fakta ini menandakan bahwa masjid benar-benar berstatus sebagai benda budaya. Karena statusnya itulah, masjid selalu akan kemasukan interaksi sosial-budaya, berikut efek-efek ikutannya. Termasuk di dalamnya interaksi politik. Politik, memang sejak lama telah dengan sangat leluasa masuk ke dalam masjid. Apalagi pada musim-musim Pemilu atau Pilkada. Masjid biasanya dijadikan ajang untuk berkampanye sekaligus mengkampanyekan. Terkadang, meskipun jarang terjadi, dalam pola yang sangat ekstrem masjid juga dirasuki provokasi dan hasutan kebencian.

Selain itu, peristiwa politik di masjid juga kerap mewajah dalam serangkaian aksi berbaju gerakan amal. Entah sedekah, zakat, infaq, atau sekedar sumbangan untuk pembangunan masjid. Semua amal itu adalah perbuatan baik. Allah SWT telah menegakkan garansi amaliah untuk masing-masingnya. Akan tetapi, fenomena berkata lain. Bahwa amal-amal itu kerap dijadikan oleh para pemain politik sebagai ajang untuk menangguk kemenangan politik atau mencari suara.

Memang, Nabi Muhammad SAW mendirikan Masjid Nabawi di Madinah untuk menguatkan seluruh aspek kehidupan umat Islam, termasuk aspek politik. Akan tetapi, pada masa itu, politik Rasulullah SAW adalah politik kebajikan yang berlandaskan al-haqq atau kebenaran wahyu. Tidak ada kepentingan sempit bin sektarian yang melingkungi semesta politik kala itu. Al-Haq dan al-Bathil jelas-jelas berposisi dalam kutub yang berseberangan. Tentu saja ada jurang perbedaan epistemologi politik di masa itu dengan epistemologi politk di masa kini. Tidak ada lagi wahyu dalam politik hari ini. 

Apalagi, di masa ini, politik bukan sebentuk seni untuk meraih kesenangan Tuhan, akan tetapi trik untuk memperoleh kesenangan dan kemenangan pribadi, kelompok, dan golongan. Antara yang haq dan yang batil, hari ini telah memanunggal, bersenyawa, dan bersejiwa. Mana Utara mana Selatan, mana Timur mana Barat, hari ini telah kabur dengan sendirinya dalam politik umat manusia.

Efeknya, di masjid, politik dimainkan bukan untuk semakin mempertegas kesakralan masjid, akan tetapi tempat untuk mencolokkan kabel kepentingan pribadi ke dalam saklar peribadatan. Memang, dalam titik-titik tertentu, penting juga memperbincangkan hubungan antara politik muslim dan politik selain muslim di masjid. Akan tetapi, selama ini, perkara itu hanya digelar dalam konteks bagaimana si muslim mengalahkan si bukan muslim. Tidak dalam rangka pengasahan kualitas kepemimpinan dan karakter si muslim, sehingga ia melebihi kualitas si bukan muslim.

Persemaian fakta telah menandaskan bahwa beberapa pemimpin yang tadinya dibahas dan “dimenangkan” melalui corong masjid, ternyata tidak memiliki karakter pribadi dan kepemimpinan yang dapat dibanggakan oleh para pemilik masjid, yaitu umat Islam seluruh jagad raya. Satu di antara contoh populernya dapat disimak dari statistik para koruptor, yang bila kolom agama di KTP mereka ditilik, jawabannya sudah tidak lagi membutuhkan intrik.

Sekarang, bagaimana masjid dikelola agar ia terbebas dari politik? Tentu sulit. Sejak mula kala, seluruh aspek kehidupan manusia adalah politik. Everyday life is politic, begitu kata para pemikir politik mutakhir. Warga negara yang kesulitan buang air besar di sebuah terminal karena tidak mendapati toilet umum adalah peristiwa politik. Masjid pun begitu. Sejak ia didirikan, maka ia merupakan bangunan yang didirikan di atas proses-proses administrasi politik.

Karena itu jawabannya bukan membersihkan masjid dari politik. Akan tetapi, membersihkan diri sendiri dari politik dan membersihkan politik dari kesesatan diri sendiri sebelum masuk ke masjid. Mungkin, di situlah makna pesan penting dari wudhu: bahwa bersuci tidak cukup hanya membasuh muka, tangan, kepala, telinga, kaki, tapi juga membersihkan diri dari toksin dan polusi religi. Saya kira itulah arti dari sebaris ayat: “hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid” (QS: 7: 31). Pasti, maksud “pakaian yang indah” itu adalah; suci diri, suci hati, suci amali.

 Wallahu a’lam.
* Abu Ertaja, Tinggal di Medan, Sumatera Utara

Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman.

Pertanyaan untuk Mahasiswa Filsafat

Oleh : Umi Khofsah

Tulisan ini lahir dari suka-duka saya sebagai mahasiswa filsafat. Pengalaman ini sifatnya subjektif, jadi jangan diambil hati jika ada yang punya pengalaman serupa. Saya, sebagai mahasiswa filsafat, kerap mendapatkan pertanyaan yang aneh-aneh. Sejujurnya saya sudah “kenyang” dengan berbagai pertanyaan miring mengenai jurusan yang saya ambil tersebut. Dari momen kekenyangan tersebut, saya memetakan pada tiga tipe jenis pertanyaan.

Tipe pertanyaan pertama, “Ambil jurusan apa mbak? filsafat ? Nanti kalau sudah lulus mau kerja apa? Dimana?”. Itu pertanyaan standart dari bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas atau mbak-mbak yang tidak pernah bersentuhan dengan filsafat. Jawaban saya ya standart pula, karena tidak mungkin saya menceritakan sejarah filsafat dari zaman Yunani Klasik pra- Socrates sampai Postmo (karena saya juga gak hafal sejarahnya). Ini jawaban saya “Rejeki sudah ada yang mengatur, yang penting saya berusaha”.

Tipe kedua, biasanya berasal dari kaum akademisi (katakanlah mahasiswa), yang memandang sebelah mata mata kuliah filsafat. Begini biasanya pertanyaannya “Mbak, gak mumet ya belajar filsafat?”. Sebenarnya, kalau ditelusuri, pertanyaan ini timbul dari pengalaman buruk mereka saat masuk di kelas filsafat. Apalagi kalau mata kuliahnya ontologi. Mending kalau mata kuliah filsafat umum atau filsafat ilmu. Stigma mereka tentang kemumetan filsafat diawali dari paradigma bahwa filsafat tidak ada kaitannya dengan jurusan yang selama ini mereka tekuni. 

Menghadapi jenis pertanyaan seperti ini, saya tidak akan menjawab dengan menjelaskan apa tujuan belajar filsafat. Tapi saya jawab dengan balik bertanya “belajar apa sih yang gak mumet?”. Biasanya, mereka manggut-manggut tanda setuju “iya..ya, namanya belajar pasti ya mumet, bukan hanya filsafat”.

Tipe pertanyaan yang ketiga meningkat satu derajat lebih tinggi. Pertanyaan seperti ini berasal dari penilaian sepihak, generalisasi yang berlebihan, atau klaim yang tidak didasari pada data-data empiris yang kuat dan proses rasionalisasi yang mendalam. Pertanyaan tersebut adalah “kamu gak khawatir sesat masuk jurusan filsafat?”. Kalau menghadapi pertanyaan pertama dan kedua, saya masih bisa adem ayem, tapi yang ini? Sepertinya saya sudah mulai muncul satu tanduk dikepala. Orang-orang yang punya pertanyaan seperti ini mungkin saja melihat beberapa teman mereka yang _maaf_ tidak menjalankan ritual keagamaan dengan rajin. Dan dengan seenaknya mengkambinghitamkan filsafat sebagai pembenaran atas hal tersebut. Dengan agak sinis saya menjawab “temen saya, anak ekonomi, gak pernah belajar filsafat juga gak sholat kok, gak puasa juga”. Seraya membatin “saya anak filsafat, walaupun gak rajin sholatnya, tapi gak pernah bolong-bolong”.

Analisa Jawaban Lebih Lanjut

Tiga level pertanyaan yang saya sebutkan, bagi saya adalah konsukuensi logis atas pilihan saya. Bagi mereka, filsafat memang bukan hal yang sembarangan. Sembarangan dalam hal ini bukan dalam artian “mewah” atau “wah”, tapi lebih pada konotasi negatif. Filsafat dipandang sebagai sesuatu yang asing, menakutkan, tidak jelas, tidak ada gunanya, membuang tenaga, dan oleh karena itu, tidak perlu susah-susah dipelajari. Penilaian semacam ini datang dari mereka yang tidak mau “membuka hati” untuk filsafat. Kerumitan yang menempel pada filsafat mendukung pendapat mereka. Saya akui filsafat memang rumit, tapi dalam kerumitan itu saya justru jatuh hati. Banyak teman saya yang tidak dari jurusan filsafat juga menyatakan hal yang demikian. Alergi pada filsafat ada pada tahap awal pengenalan. Tapi begitu seseorang masuk kedalamnya, memahami dan kemudian menemukan apa yang ada dalam filsafat, paling tidak, klaim-klaim negatif itu akan memudar. Karena urusan suka atau tidak suka terhadap suatu objek keilmuan itu subjektif, maka orang yang sudah memahami filsafat tidak lantas fanatik terhadapnya.

Untuk pertanyaan pertama, ini adalah pertanyaan yang sifatnya mekanistik dan menyangkut cara pandang masyarakat kita saat ini. Tidak hanya tertuju pada anak jurusan filsafat, pertanyaan ini saya yakin akan ditujukan pada semua anak muda yang kuliah. Bagi masyarakat kita, tujuan kuliah ya untuk memperoleh pekerjaan yang mapan. Arti “mapan” adalah paling tidak berada pada naungan institusi tertentu. Ini jelas penderitaan bagi mahasiswa filsafat, Iha wong memang selama ini tidak ada institusi khusus yang menampung alumni filsafat. Tapi saya pribadi tidak khawatir. Pada kenyataannya, pengangguran juga tidak hanya berasal dari alumni filsafat. Banyak dari alumni-alumni jurusan lain yang nganggur. Fakta tambahannya, teman-teman seangkatan saya juga tidak ada yang nganggur kok, semuanya bekerja di jalan yang halal.

Jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga bisa dijawab dengan filosofis. Pada level tetentu, berfilsafat bisa diartikan berfikir. Orang-orang yang mengklaim bahwa belajar filsafat mumet atau filsafat itu sesat, tentu telah melakukan proses berfikir sebelum mengeluarkan statement tersebut. Untuk merespon pertanyaan kedua, jauh-jauh hari saya sudah mengakui bahwa belajar filsafat itu mumet. Tapi kalau disuruh memilih, saya akan dengan senang hati memilih filsafat daripada belajar fisika, kimia, atau ilmu-ilmu eksakta yang lain. Jadi mumet itu bukan masalah subjek keilmuan tertentu, tapi tentang hal yang selama ini kita geluti.

Khusus pertanyaan ketiga yang mengklaim anak filsafat sesat, saya biasanya akan bertanya lebih lanjut mengenai dasar yang digunakannya. Masalah tidak sholat dan tidak puasa, saya akan menyatakan itu sama sekali bukan efek dari filsafat. Tapi karena malas. Rasa malas untuk beribadah tidak hinggap pada mahasiswa filsafat saja lho. Kalaupun tidak semua orang di muka bumi ini malas untuk beribadah, saya rasa sebagian besar pernah merasakan malas untuk beribadah. Silahkan tanya pada diri sendiri kalau tidak percaya.

Bagi kalangan mahasiswa jurusan lain, klaim “sesat” ini didapat dari tokoh-tokoh filsuf yang sebagian pernyataannya fenomenal. Saking fenomenalnya, pernyataan tersebut digunakan begitu saja tanpa diteliti sebab kemunculannya. Kita bisa menyebut misalnya Nietzsche dengan “Tuhan telah mati”, Karl Marx dengan “agama adalah candu”, Auguste Comte yang mengatakan bahwa “agama hanya bahan bicaraan abad pertengahan” atau kalau dalam Islam ada Ar-Razi yang menyatakan Nabi tidak perlu diturunkan. Pernyataan para tokoh ini yang menjadikan mereka merasa benar mengklaim filsasat perlu dijauhi. Memang, mereka benar dalam arti bahwa tokoh-tokoh yang saya sebut punya pendapat yang demikian. Namun, klaim ini sangat terbuka untuk dipertanyakan. Misalnya, sekali saja mereka bertanya “apakah benar anak filsafat sesesat itu?”. Ini merupakan contoh pertanyaan lanjutan jika mereka tidak mau menyelami pemikiran para tokoh yang saya sebut tadi.

Dua Hal Yang Didapat dari Belajar Filsafat

Saya belajar filsafat cukup lama, kurang lebih 6 tahun. Jujur saja, pilihan jurusan filsafat saat masuk kuliah S1 tidak didasari pada kecenderungan hati. Saya memilihnya karena ada kata “aqidah” yang nempel di depan filsafat. Jadi, dulu saya memilih menekuni jurusan ini karena jurusannya adalah “aqidah filsafat”. Ini tentu bukan alasan yang filosofis. Namun, kenyataan bahwa untuk studi selanjutnya saya tetap memilih filsafat sebagai subjek keilmuan yang saya tekuni, tentu tidak lagi asal-asalan. Ini jelas bukan analisis karir atau pekerjaan setelah lulus nanti (walaupun itu juga masuk pertimbangan, tapi kalau dipertimbangkan lagi, setelah lulus juga tidak ada jaminan kerja yang pasti). Ada dimensi lain yang saya temukan dalam filsafat, hal itu adalah “jiwa”. Saya merasa “ada” dalam filsafat. Saya merasa “hidup” dalam filsafat.

Sesuai judul, ada dua hal yang saya peroleh dari belajar filsafat. Pertama, filsafat sebagai produk pemikiran. Kedua, filsafat sebagai cara berpikir. Filsafat sebagai produk pemikiran adalah seperti beberapa hal yang saya contohkan diatas, yaitu hasil pemikiran dari beberapa tokoh filsafat yang dinilai lain daripada yang lain. Yang selalu mengundang sensasi. Para filsuf ini, bisa mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang satu tema yang mereka bahas. Sebagai contoh, ketika masuk pada salah satu cabang filsafat praktis, yaitu etika.

Dalam kajian etika, salah satu tema yang dibahas adalah apa itu hidup yang baik. Kaum Cyrenic (berasal dari mazhab filsafat kuno), menganggap bahwa hidup yang baik adalah hidup dengan sebanyak mungkin kepuasan dan seminimal mungkin rasa sakit. Plato mendefinisikan hidup yang baik adalah hidup dengan pengertian yang tepat, artinya dalam setiap tindakannya manusia harus dikuasai oleh akal budinya, bukan nafsu atau keinginannya. Ada juga Nabi nihilisme, Nietzsche yang mengatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tidak terikat dengan nilai-nilai apapun. Manusia, menciptakan sendiri nilai untuk dirinya sendiri. Tokoh yang saya sebutkan terakhir ini, pemikirannya memang sangar, sesangar kumisnya. Hehe...

Tidak kalah penting adalah filsafat sebagai cara berfikir. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya filsafat yang digunakan untuk mendobrak mitos. Berfikir filosofis, dapat diartikan sebagai berpikir secara radikal, mendalam dan sistematis hingga kita mencapai makna hakiki dari sesuatu. Beberapa orang yang saya temui dan cukup mengenal filsafat biasanya memberi label bahwa anak filsafat itu ngeyelan, alias cerewet, tidak mau menerima keputusan atau pernyataan begitu saja dan suka tanya yang aneh-aneh. Label itu memang betul adanya. Hal ini bukan disebakan karena anak filsafat sok tahu, tapi sangat ingin tahu. Mereka tidak akan berhenti sebelum akar permasalahan dari suatu hal terjawab secara tuntas. Mungkin, ini bisa jadi masalah, karena bagi sebagian orang, anak filsafat akan terlihat sangat menjengkelkan. Apalagi kalau berbicara topik-topik agama dan lawan bicaranya dari kelompok skriptual. Sudah terbayang akan ada pihak yang dikafirkan nantinya.

Tapi dua hal ini begitu bermanfaat bagi hidup saya. Mengenal pemikiran para filsuf dari yang biasa saja sampai yang nyeleneh membuat saya mengerti bahwa ketika berfikir filosofis, ada banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan, menjadi layak untuk dipikirkan. Bagi saya, seliberal apapun pemikiran mereka, tetap ada nilai yang ingin diperjuangkan. Satu tema yang sama dan menghasilkan pandangan yang berbeda-beda tersebut, merupakan bukti bahwa ada banyak realitas yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan segala sesuatu.

Disisi lain, selalu mempertanyakan sesuatu sebagai ciri berpikir filososfis menjadikan seseorang tidak gampang ikut-ikutan. Ini bukan berarti dia tidak punya identitas lho. Tapi, kalaupun dia mengikuti fatwa, pendapat, hukum, atau apalah itu, hal tersebut memang sudah melampaui tahap rasionalitas. Sudah dipikir secara mendalam. Berpikir secara logis dengan akal budi, tidak asal pakai emosi atau pertimbangan kepentingan pribadi dan hawa nafsu. Inilah nilai plus dari belajar filsafat, kita bisa bertanggungjawab penuh atas apa yang kita perbuat.

Belajar Filsafat Bukan Untuk Keren-Kerenan

Sebenarnya, beberapa hari lalu, saya mendapatkan pertanyaan yang lebih nylekit dari tiga model pertanyaan yang sudah saya ungkapkan diatas. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh salah satu teman saya yang sudah hampir setahun belajar filsafat. Kami bertemu saat saya berkesempatan ikut kajian selama 3 bulan tempat dia belajar. Begini kira-kira pertanyaannya “kamu gimana belajar filsafatnya di Kampus?”. Saya jawab “belajar sejarah filsafat, lebih cenderung ke kajian tokoh kalau di kampus belajarnya”. Dia menimpali dengan santai “kalau kayak gitu kan bisa di googling”. Ah, tidak bisa diungkapkan perasaan saya saat itu.
Berusaha tidak emosi dan santai juga, saya menjawab “Mas, kamu pernah ikut mata kuliah filsafat berapa semester?”. Saya tahu dia memang bukan dari mahasiswa jurusan filsafat. Kemudian sebelum dia menjawab saya lanjut bicara “kalau misalnya kamu pernah ikut kuliah filsafat satu atau dua semester, dengan dosen yang kompeten dan teman-teman diskusi di kelas yang aktif, lalu kemudian kamu masih menganggap hal itu tidak memuaskan, saya akan terima saran kamu untuk googling saja”. Sepertinya teman saya tahu bahwa saya tidak terima dengan pernyataannya dan segera meminta maaf.

Mungkin sakit hati saya sifatnya subjektif karena itu menyangkut para guru dan institusi tempat saya belajar. Tapi ada hal lain, yaitu pertanyaan tersebut berasal dari orang yang sudah belajar filsafat cukup lama. Orang yang sudah memakan filsafat, tidak akan begitu saja main klaim dan menilai satu hal dari satu sudut pandang. Paling tidak dia mendengar dulu penjelasan dari orang lain. Belajar filsafat bukan untuk terlihat keren, tapi lebih dari itu. Filsafat bertujuan untuk mengantarkan manusia menjadi bijaksana, untuk sebisa mungkin menggunakan akal budinya. Dengan belajar filsafat, paling tidak seseorang punya cara pikir yang luas, yang tidak asal-asalan. Pertanyaan dari teman saya tadi, kalau diibaratkan seperti dia mengatakan bahwa kopi yang dihidangkan didepannya pahit, sebelum mencicipi dulu kopi tersebut. Namun, penilaian saya terhadap teman saya tentu juga bukan hal yang bijaksana. Jawaban saya atas pertanyaannya memang logis, tapi ada satu hal yang saya lewatkan, yaitu perbedaan. Kami memang sama-sama belajar filsafat, tapi saya tidak tahu secara pasti, apa tujuan teman saya tersebut. Bisa jadi, kami memang berangkat dari tujuan dan motivasi yang berbeda.

Dari cerita ngelantur saya tadi, maka tidak ada salahnya untuk memikirkan kembali, apa yang kita dapat dari belajar filsafat selama ini? Juga apa tujuan kita belajar filsafat selama ini? Mungkin, dua pertanyaan mendasar ini bisa membantu untuk menemukan kembali orientasi kita dalam belajar filsafat.

Umi Khofsah: Santri Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman, Sedang menempuh studi S2 di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, prodi Filsafat.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Buletin Jumat MJS dalam dua edisi.

Jumat, 27 Januari 2017

Mengenai Wallahu a’lam

Oleh: Zulhamdani
Kitab-kitab kuning masih tersusun rapi di rak-rak buku perpustakaan: bisu, tak tersentuh. Kita pun tahu, sebenarnya kitab-kitab kuning tersebut hanya sekumpulan kertas yang di bendel jadi satu, buah tulis tangan dari pengarangnya. Apa yang tertulis dalam lembar demi lembar kertas yang berwarna kuning, itu mula-awal dari kenyataan yang dipahami oleh si pengarang, lalu diolahnya sehingga tersusun kata menjadi kalimat demi kalimat yang dapat dibaca sampai dimengerti benar. Mula dari pemahaman yang dicerna atas kenyataan inilah yang nantinya ditulis sebagai buah pemahaman dan penangkapan seturut daya si pengarang mengolah kenyataan menjadi deret kata demi kata, lalu menjadi kalimat sampai tersusun dalam paragraf dan di bendel akhirnya menjadi yang apa kita sebut itu kitab.

Berbicara tentang tradisi dalam penulisan kitab-kitab kuning berbahasa Arab, ada, katakanlah sebuah titik yang menarik dari para pengarang atau penulis kitab kuning yang unik dan patut dibicarakan. Sebuah titik yang menarik itu adalah membubuhkan kata Wallahu a’lam (hanya Allah yang lebih tahu) atau lewat kata yang senada dengan kata itu pada setiap akhir tulisan. Kata tersebut juga bisa menjadi penutup dari sebuah tulisan yang menandakan tulisan yang Anda baca sudah sampai akhir, tamat. Lalu apa maksud dari penulisan kata Wallahu a’lam itu disana? Kenapa para kebanyakan pengarang atau penulis membubuhkan kata itu sebagai akhir dari tulisan?

Bila kita berpikir secara teologis, kata tersebut akan menjadi kata sakti yang membingkai indah sebuah tulisan, sehingga pemahaman yang diperoleh tidak lebih dari secuil ilmu Allah. Allah dengan semesta pengetahuannya menyisihkan sepersekian dari ilmu-Nya yang atas pekenan-Nya pula singgah pada diri manusia yang haus pengetahuan ini. Di sisi lain, tanda lewat kata Wallahu a’lam bisa juga dimaknai sebagai bukti ketundukan diri manusia atas pencipta yang Maha Mengetahui. Implikasinya akan ditarik kembali ke ranah spiritual bahwa manusia disadarkan kembali, bahwa hanya Allahlah jua yang empunya pengetahuan. Sehingga berimanlah kepada-Nya, karena Dia yang telah membuka tabir pengetahuan yang tak terbatas.
Tulisan ini tidak akan mengulas lebih dalam soal itu dalam ranah teologis. Untuk hal itu, sila eksplorasi dan kembangkan lebih jauh. Akan tetapi penulis akan berusaha menengok sedikit mengenai bubuhan kata Wallahu a’lam dalam alur sirkulasi pengetahuan yang sampai ke hadapan kita.

Kita ambil contoh sederhana, bagaimana kita memaknai sebuah bencana alam terlebih dahulu. Kita dan orang-orang di sekitar ketika dihadapkan dengan bencana banjir bandang yang menelan banyak kerugian besar harta-benda-nyawa. Lalu, dari kenyataan banjir tersebut menjadi bahan pembicaraan yang hangat di sekitar kita. Orang-orang mulai memahami dalam diri mereka masing-masing akan kenyataan tentang banjir itu. Kemudian, pada gilirannya akan muncul pengungkapan sebagai buah dari pemahaman dalam diri manusia. Dari situ mulailah bermunculan pendapat, bahwa banjir itu boleh jadi sebagai bentuk laknat dari Allah kepada orang-orang yang merusak alam. Ada yang memaknainya lain lagi, bahwa bencana banjir sebagai bentuk ujian bagi hamba-Nya untuk “naik kelas”. Lain dari itu juga timbul penafsiran berbeda yang menyebutnya sebagai rahmat, berupa berkah pasca banjir. Dan masih akan banyak lagi pendapat ataupun penilaian lainnya yang bermunculan dari tiap masing-masing orang.

Banjir tersebut pada intisarinya hanya sebuah kenyataan. Kenyataan tersebut bisu tanpa bisa diajak bicara apa maksud dari yang tampak [banjir] maupun yang tersembunyi dibalik setiap peristiwa atau bencana. Lalu manusia yang berakal ini berhadapan dengan kenyataan yang bisu itu, lalu aktif berpikir dan merenungkannya. Maka kenyataan yang bisu itu mulai dipahami seturut kemampuan daya pikir dan sejauh jangkauan pemahaman akal sehat, yang itu terbatas pula, sampai lahirlah sebuah pemahaman. Maka, kenyataan yang bisu itu telah direduksi menjadi sebuah pemahaman. Kemudian pemahaman yang ditangkap dalam diri manusia mulai diekspresikan ke hadapan publik sehingga muncullah pemaknaan, penafsiran ataupun ekspresi lainnya. Semuanya yang muncul itu pun bukan hasil yang penuh, namun telah terjadi reduksi dari sekian banyak jaringan makna yang mengelilingi sebuah kenyataan banjir. Jadi, dari kenyataan ke pemahaman kemudian ke ekspresi seterusnya telah terjadi sebuah simplifikasi atau penyederhanaan dalam menangkap, mengungkap, menyikapi sebuah kenyataan. Lalu, apa hubungannya dengan kata Wallahu a’lam?

Kita menyadari dalam alur sirkulasi pengetahuan, salah satunya yang didokumentasi dalam kitab-kitab kuning juga lahir dari rahim sebuah kenyataan yang bisu. Kita kembali ke masa Nabi Muhammad sebagai masa turunnya Al-Qur’an dan disabdakannya hadis. Beliau tidak kosong dari kenyataan yang dihadapi. Termasuk juga para sahabat atau dalam ranah yang lebih umum disebut “Saksi Pertama Al-Qur’an dan Hadis” yang menjadi bagian dari kenyataan. Mereka ikut juga memaknai kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan sebuah kejadian atau sebuah kejadian berhubungan erat dengan ayat Al-Qur’an, begitu juga pada hadis.

Pada gilirannya penafsiran para sahabat yang menjadi memori kolektif itu juga dikonsumsi generasi setelahnya, sehingga menjadi kenyataan yang baru lagi yang butuh penafsiran lagi dari generasi yang berbeda setelahnya. Sirkulasi ini secara natural terpelihara hingga memamah kitab-kitab yang sampai ke hadapan kita sehingga menjadi sebuah rangkaian dari sekian banyak kenyataan, menjadi pemahaman lalu lahirlah penafsiran, kemudian dari penafsiran itu menjadi kenyataan yang akan dipahami lagi lalu ditafsiri lagi hingga sampai pada orang terakhir pada masa yang tak bisa dikira.

Mudahnya sebagai contoh, Tafsir Al-Azhar yang dikarang oleh Buya Hamka merupakan hasil interpretasinya dari kitab-kitab tafsir sebelumnya yang bisu yang dipahami Hamka kemudian ditulis-sampaikannya dalam bentuk tafsir yang berjilid-jilid pula. Kita pun akan memahami dan menafsiri ulang terkait apa yang dipahami Hamka sebagai seorang penafsir. Akan begitu terus bila ditelusuri dan diproyeksikan lagi ke belakang sampai ke sumber pertama yang menjadi kenyataan awal, sampai ke zaman nabi sejak 14 abad lamanya dalam sejarah tradisi Islam.

Implikasinya, pengetahuan yang diwarisi sekarang yang sampai ke kita adalah hasil reduksi dalam arti positif, sebagai semacam bentuk penyederhanaan pemahaman akan kenyataan yang bertali temali sampai ke zaman dahulu awal. Makanya dari alur sirkulasi pengetahuan ini menjadi momentum kearifan seorang pengarang akan luasnya sebuah pengetahuan yang bertransimisi waris-mewariskan dari memori orang-orang sebelumnya. Di sinilah kata Wallahu a’lam berperan penting sebagai simbol kebijaksanaan pengarang atau penulis yang menyadari bila mungkin saja terjadi reduksi dan menyerahkan hasil sepenuhnya itu kembali kepada Allah (hanya Allah yang lebih tahu). Karena pengetahuan yang dimilikinya pun juga sebagai buah hasil penafsirannya dari warisan pengetahuan orang sebelumnya, yang tidak terbebas dari reduksi dan penyederhanaan. Wallahu a'lam.

*Zulhamdani,

Mahasiswa PPs UIN Sunan Kalijaga, bergiat literasi di MJS Project.
Tulisan ini terbit di Buletin Masjid Jendran Sudirman edisi Jumat 20 Januari 2017.

Keabadian di atas Kesementaraan

Oleh: Ria Fitriani*
Suatu kali Sapardi Joko Damono pernah menuliskan dengan sederhana dan indah dalam salah satu sajaknya, “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”
Bagi saya kalimat tersebut betapa sangat tidak biasa, karena bagaimana manusia menjadi abadi sedangkan waktu sendiri adalah fana? Bukankah waktu adalah faktor utama penyebab kehancuran makhluk-makhluk di muka bumi? Bagaimana mungkin penyebab kefanaan tersebut adalah fana, sedangkan kita, makhluk, objeknya, justru menj adi abadi, kekal, tak lekang?
Semesta, kata Ibn Arabi, adalah layaknya reruntuhan. Ia fana, maka suatu saat akan lenyap tak berbekas. Namun, ada suatu pengecualian. Kita bisa memisalkan reruntuhan tersebut dahulunya adalah suatu rumah. Rumah adalah ladang yang sangat potensial untuk melakukan amalan kebaikan. Dalam konteks kita sebagai manusia, rumah ini adalah jasad kita. Jika jasad melakukan amalan baik dengan penuh kesadaran atas cintanya kepada Allah, maka jasad ini menjadi bernilai abadi. Kenapa demikian? Secara kulit luar, jasad ini fana, karena ia terikat dengan simnatullah bahwa kehancuran elemen penyusun jasad pasti terjadi. Namun, karena amal baik tersebut, substansi yang berada di dalam jasad menjadi abadi. Jasad tersebut meninggalkan jejak yang selalu bisa dikenang oleh generasi seterusnya. Teladan yang bisa selalu diambil hikmahnya. Kepribadian jasad tersebut menjadi tinggi serta menjadi khas akibat amalan baik yang ia lakukan. Ada bagian-bagian tertentu yang membuat ia lantas tak layak untuk dilupakan. Mewujud selalu dalam ingatan.
Ada sebuah dialog yang menarik yang pernah saya baca dalam komik Detektif Conan. Seorang polisi tidak bisa melupakan kekasihnya yang telah meninggal dan meratap dengan nelangsa agar Tuhan bisa membuatnya lupa. Namun, salah satu rekan kerjanya segera mengatakan, “Jangan pernah lupakan. Sebab jika orang-orang mati, pergi atau tak kembali, ia hanya bisa hidup dalam kenangan.” Lantas sekarang, apa yang bisa kita lakukan agar kita selalu dikenang? Agar substansi kita selalu hidup di dalam batin-batin yang sedia mengenangnya?
Manusia belumlah menjadi siapa- siapa sampai ia dicintai. Karena pengakuan atas kehadirannya dilakukan oleh orang yang menganggapnya berharga. Sementara, amalan baik seperti yang disebutkan sebelumnya, dilakukan karena begitu cintanya sang jasad kepada Allah. Cinta seorang hamba, yang sudah mencapai taraf puncaknya, meluap-luap di dalam jasad yang menampungnya. Jiwa menjadi bahagia tiada tara. Dan Allah menganugerahkan limpahan-limpahan cinta ilahiah sebagai balasan, yang bertumbukan di dalamnya menjadikan suatu energi yang maha dahsyat. Energi inilah yang membuat jasad tetap abadi. Karena cinta dan kecintaan adalah sifat Allah, maka j asad tersebut akan mengabadi, selalu baru, bahkan mewujud dalam banyak manifestasi. As tiie      by, tbe saie old story will always be a repetition.
Jika kita rajin membaca sejarah, kita akan selalu disodorkan oleh fakta (atau cerita) tentang tokoh-tokoh besar, yang namanya masih dikenang sampai hari ini. Bukan hanya sekedar dikenang, melainkan ajarannya, teladannya, kebijaksanaannnya, masih dilakukan oleh banyak orang sampai hari ini. Tokoh-tokoh ini besar tentu saja karena apa yang telah ia lakukan yang bernilai besar di masyarakat. Dan setiap zaman, selalu ada orang-orang seperti ini yang melakukan hal-hal luar biasa di luar batasan j asadnya, dan Allah mengabadikan dia dalam kenangan dan ulasan-ulasan tak selesai oleh manusia sepanjang zaman.
Keabadian, dan isyarat kenangan adalah suatu hubungan yang memerlukan kedalaman penyerahan cinta. Dalam cinta, aku dan kau menjadi lebur. Apa yang kau lakukan, itulah aku. Jika dalam cinta, terdapat kenyataan bahwa aku adalah aku saja, maka palsulah cinta tersebut. Jalan cinta adalah jalan penderitaan yang bahagia, dimana sang pecinta dengan penuh sukacita berkorban untuk kekasihnya. Ia tidak meminta balasan. Dalam cinta, tidak pernah ada keputusasaan, yang ada hanyalah pengharapan yang terus menerus. Pecinta hidup dalam harapan tersebut, selanjutnya setiap hari cinta akan diperbarui dan setiap hari ia akan merasa baru.
Dalam tahapan puncak, limpahan cinta ilahiah ini merajai batin kita, sehingga kita bisa menyaksikan Allah pada setiap makhluk. Allah Sang Maha Cinta, menjadikan cinta bereinkarnasi dalam milyaran wujud dari masa ke masa. Keabadian menjadi niscaya karena Allah sendiri mengabadikan kecintaan makhluknya dalam berbagai rupa, berbagai manifestasi. Maka benarlah apa yang dikatakan Ibn Arabi jika demikian, “Aku telah berhenti mencarimu, Kekasih, karena aku telah menemukanmu di mana-mana.”
Ketika kita telah melihat Allah di mana-mana, Allah sebagai Kekasih kita, maka setiap saat kita akan melakukan pengorbanan dengan penuh suka cita. Terhadap seluruh makhluk, kita tidak akan lagi membedakan. Kita tidak akan lagi menolak, menyanggah, menafikan, dan memandang rendah mereka yang terlihat berbeda. Tidak ada lagi rasa kebanggaan berlebih-lebihan terhadap golongan dan pembelaan yang sampai rasanya tidak rasional terhadap satu manusia tertentu. Karena siapapun mesti dibela, apalagi mereka yang nasibnya tidak beruntung, Dan kita, diberi daya oleh Allah untuk membebaskan mereka dari kungkungan “ketidakberuntungan” tersebut. Meski, tentu saja, segala macam nasib dan daya tersebut adalah karunia Allah.
Sebab itu, tidak melulu harus menjadi orang besar untuk mendapatkan keabadian jasad tersebut. Dengan anugerah keunikan dan keotentikan kita masing-masing, dan tentu saja dengan kesadaran bahwa semuanya  untuk selalu berada di jalan Allah, kita selaku pecinta selalu dapat mewujudkan cinta dalam bentuk apapun. Bahkan dalam hal-hal sederhana, dalam setiap aktivitas, rutinitas, juga mempersembahkan yang terbaik dalam pekerjaan kita. Jika kerja adalah aktualisasi diri dan peneguhan eksistensi kita di hadapan masyarakat, maka kerja dengan cinta dan sukacita adalah ekspresi peleburan diri antara kita dengan Allah.
Maka, karena saya berusaha lebur dengan cinta yang demikian, lantas Allah pun ada dalam setiap pasien yang masuk ke apotek saya. Allah mewujud dalam setiap keluh kesah mereka atas kesakitan mereka. Atas harga obat yang mungkin tidak terjangkau oleh mereka. Atas rumit dan ruwetnya pelayanan BPJS, dan kelangkaan obat-obat tertentu di pasaran serta kebingungan mereka untuk mendapatkannya. Dan atas ketidaktahuan mereka yang begitu menyedihkan tentang sakit dan sehat. Mungkin mereka bisa datang dengan senyum, dengan ekspresi kesakitan, atau bahkan dengan ketus dan marah- marah, namun saya bisa apa? Dengan penuh sukacita saya membantu mencarikan solusi, meski Allah dengan penuh kasih mengingatkan saya atas batasan saya. Mungkin sekedar ini yang bisa saya lakukan, mungkin ini hal yang sangat kecil tapi percayalah, semuanya adalah wujud kecintaan saya karena semuanya hadir sebagai manifestasi Allah. Menyakiti semuanya maka celakalah saya! Saya akan menyakiti Allah dan cahaya cinta Ilahiah itu akan pergi. Saya akan ditinggalkan. Fana, tidak dikenang, dan musnah dalam sebenar-benarnya musnah.
Maka setiap pagi, setiap sebelum memulai aktivitas, saya selalu membisikkan kepada diri saya, “Hidupkanlah kami, ya Allah, dalam keabadian. Di atas genangan kesementaraan.” Biarlah waktu terus berjalan dalam ritmenya yang sunnatuliah, kelahiran kemudian menuju ke kematian adalah niscaya, namun kita menjadi abadi. Dalam ingatan-ingatan baik dan dalam manifestasi cinta yang bereinkarnasi terus menerus dari masa ke masa. Waliahu a'lam.

*Ria Fitriani, Apoteker, Bergiat Literasi di MJS Project.
Tulisan ini terbit di Buletin Masjid Jendran Sudirman edisi Jumat 27 Januari 2017.