Aku tidak pernah benar-benar bercita-cita jadi dosen.
Maksudku, waktu kecil aku tidak pernah bilang ke ibu, "Bu,
nanti aku mau jadi Dosen." Tidak. Wong ibuku saja dulu tidak tahu apa
itu dosen. Cita-citaku dulu lebih sederhana dan lebih tidak jelas dari itu.
Tapi begitulah hidup, selalu punya selera humor yang tinggi.
Maka jadilah aku dosen. Dengan
segala konsekuensinya — termasuk konsekuensi paling berat yang tidak tertulis
di kontrak mana pun: bertemu dengan orang-orang yang benar-benar pintar.
Dan di situlah masalahnya dimulai.
Setiap kali berada di forum
akademik, ada momen — biasanya terjadi sekitar lima menit setelah seseorang
membuka mulutnya — di mana aku tiba-tiba merasa seperti anak SD yang nyasar
masuk ke ruang kuliah. Orang itu bicara soal teori dengan cara yang santai,
seperti ia sedang menceritakan resep masakan. Referensinya segar. Pemikirannya
runtut. Dan di sela-selanya, ia tertawa kecil — tawa orang yang sudah lama
akrab dengan pengetahuan dan tidak perlu lagi pamer bahwa ia akrab dengannya.
Aku tersenyum. Mengangguk. Menggeleng.
Sesekali berdehem dan menggaruk kepala supaya terlihat sedang berpikir.
Padahal di dalam kepala, yang sedang terpikirr cuma satu
kalimat: "Apa tidak salah tempat kerja aku ini?"
Pertanyaan itu bukan lebay.
Pertanyaan itu wajar — setidaknya bagiku yang tahu persis kapasatis diri dan bagaimana
jalan yang mengantarkan pada profesi ini.
Bukan karena terpanggil. Bukan
karena suatu pagi aku terbangun dan merasa ada amanat peradaban yang menungguku
di ruang kelas.Tidak, tapi pertama karena keberuntungan. Selanjutnya Aku di
sini dan memilih bertahan ya karena sudah ada cicilan. Karena ada meja makan
yang perlu ada isinya setiap hari. Karena keluarga tidak bisa diberi makan
dengan idealisme, betapapun lezatnya idealisme itu terdengar saat diucapkan.
Dan aku tidak malu mengakui itu. Bekerja untuk menghidupi
keluarga adalah sesuatu yang sangat manusiawi — bahkan mulia, kalau mau jujur.
Tapi tetap saja. Setiap kali
berdiri di depan mahasiswa, ada suara kecil di sudut kepala yang bertanya
pelan: "Kamu layak tidak, sebetulnya sih, Kamu ngerti gga sih apa yang sedang
dibahas?"
Lalu aku mulai memperhatikan sekeliling.
Dan di sinilah hidup kembali memperlihatkan selera humornya
yang tidak pernah habis-habis itu.
Ternyata dunia akademik menyimpan pemandangan yang menarik
dan menggelitik.
Di waktu selang yang saat ini saya memilih jeda menjadi
dosen, di warung kopi, di sela – sela istirahat kuliah, bercerita dengan teman –
teman. Sering bertukar cerita menggelitik itu.
Di kampus, ternyata ada
rekan-rekan dosen yang rajinnya luar biasa — rajin rapat, rajin tanda tangan,
rajin mengisi dokumen akreditasi sampai ke kolom yang bahkan tidak ada yang
tahu fungsinya dan manfaatnya untuk apa. Secara administratif, mereka adalah
teladan. Tapi ketika obrolan mulai menyentuh soal keilmuan — soal perkembangan
terbaru di bidang yang katanya mereka geluti — tiba-tiba ada keheningan yang
berbicara lebih keras dari kata-kata.
Referensinya kosong. Argumennya seperti kaset lama yang
diputar ulang. Tapi semangatnya untuk hadir di foto-foto kegiatan kampus? Luar
biasa. Tidak pernah absen.
Dan yang paling spektakuler —
yang benar-benar membuat aku harus menahan diri untuk tidak berkomentar lebih
dari yang seharusnya — adalah Ketika oborolan tentang pemandangan itu ternyata tidak di level dosen biasa.
"Ada yang sudah bergelar Profesor lho". kata salah satu teman penuh semangat
Lengkap dengan orasi ilmiah, ruangan kantor yang dindingnya penuh
dengan pigura berisi foto jabat tangan bersama pejabat. Gelarnya adalah gelar
tertinggi yang bisa diraih seorang akademisi di negeri ini. Puncak. Mahkota.
"Tapi ajaibnya" kata teman melanjutkan — "ketika diajak
bicara soal isu terkini di bidangnya sendiri, jawabannya mengambang. Seperti
ditanya soal alamat, tapi hanya bisa menjawab: "Di sana, ke sana, nanti
kelihatan." Referensi yang disebut sudah berusia dua dekade.
Tulisannya — kalau ada — lebih mirip laporan perjalanan dinas daripada karya
ilmiah."
Kata temanku “ada lho Profesor.
Tapi yang paling tekun dipelajari sepertinya adalah peta birokrasi kampus dan
jadwal pencairan tunjangan.”
Tentu tidak semua begitu. Ada juga
dan banyak yang saya jumpai profesor-profesor yang benar-benar membuatku
terdiam karena kecerdasan dan reputasi akademiknya — yang kalau bicara, membuat diri ini merasa bodoh
dengan cara yang menyenangkan, karena sadar sedang belajar sesuatu yang
sungguhan. Mereka ada. Dan justru karena mereka ada, kontrasnya jadi semakin
jelas dan semakin sulit pura-pura tidak kelihatan.
Begitulah kegalauan yang selama ini terpendam dan karena diberi kesempatan untuk israhat jadi dosen bisa punya banyak waktu untuk merenungkan kegalauan yang selama ini sambil tetap menyimpan tanya
“Yakiiiiin, masih tetap berkarir jadi dosen?”





0 komentar:
Posting Komentar