,,Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan ridha Allah SWT. kami tidak menghendaki balasan dari kamu, dan tidak pula (ucapan) terimakasih. (Q.S : al-Insan : 9)
Begitulah perkataan orang-orang yang ikhlas karena Allah SWT yang di jelaskan oleh al-Quran. Amal Perbuatan mereka hanya dilakukan dengan tujuan untuk mengharap ridha-Nya, tidak yang lain. bahkan ucapan terimakasih pun tidak mereka harapkan. Mereka memang ingin di puji, ingin di sanjung, dan ingin dikenal, tetapi hanya oleh dan di hadapan Allah SWT. bukan oleh dan di hadapan sesama manusia. Mereka bersifat demikan karena mereka menyadari bahwa setiap yang diperuntukkan bagi Allah niscaya akan memuliakan deradatnya dan menuju kepada ridha-Nya dan setiap yang diperuntukkan hanya untuk manusia tidak akan bernilai apa-apa bagi-Nya.
“Sesungguhnya kami memberi”menunjukkan bahwa orang-orang tersebut tidak hanya memikirkan hubungan secara vertical dengan Tuhan, tetapi mereka juga orang-orang yang mau menjalin hubungan baik secara horizontal dengan sesama manusia dan dengan lingukungannya. Mereka memberi, membantu, menolong. Bukan untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia, tetapi karena mereka menyadari bahwa menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak cukup hanya dengan perkataan, pun juga mereka sadar bahwa bukanlah shalat, puasa, dan zikir yang tiada henti yang menjadi ukuran tinggi rendahnya kualitas imannya, tetapi iman juga harus mewujud dalam seluruh aktivitasnya sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk yang beragama. Seluruh amal perbuatan itu mereka lakukan dengan tanpa menharap balasan apa pun selain ridha-Nya. (kami tidak menghendaki balasan dari kamu, dan tidak pula (ucapan) terimakasih).
Memang sangat sulit menemukan orang-orang yang memiliki kualitas demikian, Secara lisan, orang bisa saja mengatakan bahwa apa pun yang dilakukan adalah “Ikhlas karena Allah SWT”, misalnya membangun masjid, sekolah, pesantren, jalan, dan lain-lain. akan tetapi, siapakah yang bisa mengetahui niat hati orang lain, selain orang itu sendiri dan Tuhan yang maha Mengetahui?. Oleh sebab itu, menjadi hal menarik untuk mempertanyakan kembali orang-orang yang selalu mengatakan secara lisan bahwa amal perbuatannya dilakukan dengan “Ikhlas”.
Ada fenomina yang menarik untuk kita cermati belakangan ini, yaitu banyak sekali dibangun sekolah, masjid, jalan raya, rumah sakit, yayasan, pesantren, yang mana semua itu selalu dinisbahkan kepada nama seseoarang atau sekelompok orang. Misalnya Yayasan “Kyai A”, Sekolah “ Dr. B”, “X” institute, Jalan “Z” dan lain-lain. hal itu berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh ulama dulu yang memberikan nama misalnya “Madrasah Mansyaul Ulum, Ponpes Nurul Ulum, Masjid Nurul Huda, Yayasan al-Nur, jalan Margo Mulyo, Jalan Margo Utomo dan nama lain yang selalu dinisbahkan kepada kata-kata mulya dan mengandung makna tinggi. pertanyaannya adalah apakah orang-orang yang sangat giat untuk menempelkan namanya itu benar-benar bertujuan untuk mencari ridha Allah ataukah hanya sekedar untuk mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah?. semuanya itu hanya Allah yang mengetahui.
Niat hati seseorang memang tidak bisa diketahui oleh siapapun, dan siapapun sah-sah saja untuk melakukan apa saja dengan tujuan dan niat apa-pun, tetapi sebagai orang yang beragama alangkah lebih dan memang sangat baik serta dianjurkan perbuatannya dipersembahkan hanya untuk Allah, karena dengan begitulah amal perbuatannya itu tidak hanya membawa kemulyaan di dunia, tetapi juga membawa kebahagiaan di akhirat kelak. Karena, Tolak-ukur nilai suat amal di sisi Allah adalah kualitas, bukan kuantitas. Bukan pula hanya karena aspek material atau atas pengakuan sekelompok orang.
Ada sebuah kisah menarik yang bisa menjadi bahan renungan kita bersama. kisah hikmat itu saya kutib dari buku Karya Murtadha Muthahhari “Keadilan Ilahi”,berikut ini:
Konon, disebuah kampung terdapat sekelompok orang sedang membangun sebuah masjid. Setelah mendengar berita itu, Bahlul, Warga kampung sebelahnya datang melihat dan bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?” “membangun Masjid,” Jawab Mereka. “Untuk apa”? Tanya Bahlul “Kami membangun masjid ini semata-mata untuk mencari ridha Allah,” jawab orang-orang itu.
Bahlul bermaksud membuktikan sejauh mana keikhlasan beramal sekelompok orang itu. Untuk itu, diam-diam dia menyuruh seseorang memahat sebuah batu dengan tulisan “Masjid Bahlul”. Di tangah malam, ia membawa batu pahatan itu dan menimpelkannya di atas pintu masjid. Esoknya, orang-orang yang membangun masjid itu berdatangan, dan ketika melihat adanya batu bertuliskan “Masjid Bahlul” di bagian depan masjid, mereka marah dan mencari-cari Bahlul. setelah menemukannya mereka pun langsung memukulinya ramai-ramai. Orang-orang itu mengatakan, “Engkau telah mencuri hasil keringat orang lain dan menulis namamu diatasnya.”
Bahlul menjawab “bukankah kalian telah mengatakan bahwa apa yang kalian kerjakan itu semata-mata untuk Allah? Benar,! bahwa Kalian dan khalayak bisa kukelabui, dan mereka akan menganggapnya bahwa akulah yang membangun masjid ini, tapi Allah tidak akan pernah bisa kukelabui. Dia pasti mengetahui bahwa kalianlah yang membangun masjid ini.”
Sekarang perhatikan, alangkah banyaknya kita saksikan berbagai pekerjaan yang menurut penilaian kita sangat besar dan agung, tapi sangat mungkin sekali di sisi Allah tidak seberapa bahkan tak lebih hanya sekedar “memahat nama di atas prasasti”. Entahlah, mungkin begitulah nasib sebagian masjid, rumah sakit, tempat ziarah, jembatan, sekolah, yayasan dan lain sebagainya, dibangun untuk memperkenalkan dan memulyakan nama seseorang, atau sekelompok orang agar ia mendapat pujian, serta sanjungan dari orang lain, padahal Allah berfirman“ Tidaklah mereka diperintah, Kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan keikhlasan kepada-Nya”(Q.S : al-Bayyinah : 5)
Tulisan ini sudah pernah dimuat d Buletin MJS. Tapi lupa kapan tanggal dan tahun terbitnya..






0 comments:
Post a Comment