Sunday, 12 February 2017

Namaku Siti Maimunah

Oleh: Silmi Novita Nurman

Setiap orang punya cinta tapi tidak setiap orang saling memberi cinta”.

Namaku Siti Maimunah. Ayah dan ibuku seorang pegawai negeri sipil. Latar belakang pendidikanku bukanlah dari pesantren. Setelah menempuh sekolah dasar aku masuk ke madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, institute agama Islam dan melanjutkan magister di Universitas Islam juga. Meskipun background pendidikanku Islam tapi tetap saja aku masih merasa kosong padahal dengan background pendidikanku yang seperti itu seharusnya aku menjadi seorang sosok yang luar biasa. Aku merasa kosong ketika berada di rumah.  Ketika berada di luar, berinteraksi dengan teman, dengan orang banyak aku merasa diriku terisi penuh kembali. Orang-orang yang ku temui di luar sana seperti nafasku. Daya yang menguatkan aku sehingga aku tidak merasa kesepian.

Bagiku, sepi adalah teman hidupku. Walaupun terkadang aku selalu mengutuk kesepian, membunuhnya perlahan dengan memalingkan wajah pada keramaian. Ketika sendiri, aku rapuh. Hatiku berteriak sekeras-kerasnya namun mulut terkatup membeku. Air mata bercucuran, tak ada tangan lain yang pernah menyapu air mata itu. Selalu tanganku, tangan yang sampai saat ini belum pernah menyapu air mata orang tuaku. Tangan yang masih saja melakukan dosa. Tangan yang enggan membantu orang lain. Tangan yang sampai saat ini belum juga menelurkan karya, ntah itu puisi ataupun buku-buku yang memotivasi. Tetapi, aku merasa beruntung, di antara teman-teman sebaya dikampungku, hanya aku sendiri yang sekolah tinggi bahkan sampai magister. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan? Tidak ada. Semua telah berkecukupan.

Aku juga  sangat beruntung punya orang tua yang berpendidikan. Mereka selalu memenuhi segala kebutuhanku dan keempat saudaraku. Kami hidup dengan berkecukupan. Barang sekali pun kami tak pernah tidak makan. Orang-orang melihat keluarga kami adalah keluarga yang bahagia, harmonis dan tidak ada masalah. Namun, apa yang mereka lihat berbeda dengan apa yang aku rasakan. Keluarga yang harmonis adalah dambaan setiap orang. Tapi apa ada setiap keluarga harmonis yang luput dari masalah? menurutku tidak. Hadirnya masalah dalam sebuah keluarga adalah sebuah pendewasaan dalam sebuah hubungan. Namun jangan berlarut-larut dalam masalah dan jangan pula lari dari masalah.

Seseorang yang pemikirannya dewasa dan bijakasana adalah seseorang yang bisa mengahadapi dan menyelesaikan masalah dengan dewasa. Betapa banyak orang di luar sana yang lari dari masalah atau memindah tangankan masalahnya pada orang lain. Sementara waktu, memang masalah itu berpindah tangan tapi tidak untuk waktu yang panjang. Ia akan terus mengejar kemanapun kita pergi, menjadi bumerang bahkan dikejar sampai ke alam mimpi. Beberapa waktu lalu, tetangga kampungku dihebohkan dengan penemuan jasad bayi baru lahir di belakang rumahnya. Bayi itu dimasukkan ke dalam plastik hitam dan di buang ke bak sampah. Usut punya usut ternyata bayi itu hasil dari hubungan gelap muda-mudi yang hamil di luar nikah lalu bayinya di buang karena takut dimarahi orang tuanya. Masalah ini merupakan masalah yang konkrit. Pelaku berusaha untuk lari dari masalah dengan cara membuang bayinya sedangkan yang laki-laki kabur melarikan diri sebelum menikahi pacarnya ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah kira-kira pepatah yang bisa disandangkan pada kasus ini. Jika tak mau bertanggung jawab maka jangan berbuat.

Umurku sekarang sudah 24 tahun. Aku merasa masih banyak tanggung jawab yang belum aku tunaikan. Salah satunya adalah menulis buku dan menerbitkannya. Beberapa hari lalu, buku-buku puisiku sudah terbit meskipun berupa antologi tapi setidaknya itu sudah menujukkan eksistensi diriku bahwa aku hidup tidak hanya sekedar hidup tapi bisa menghasilkan karya. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang sudah banyak menerbitkan buku. Mereka punya perbendaharaan kata yang banyak sehingga buku-buku yang mereka terbitkan berkualitas tinggi dan patut di perhitungkan di dunia sastra. Tentu saja, mereka sering membaca dan berdiskusi sehingga ilmu mereka selalu bertambah dan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

Sebut saja, Sami’un. Temanku yang satu ini adalah anak dari seorang petani. Orang tuanya tidak mampu membiayainya sekolah sehingga dia memutuskan sekolah dengan biaya sendiri. Bekerja kesana-kemari hanya untuk mencari sesuap nasi dan bahkan sampai perguruan tinggi ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Sebagai teman, aku merasa bangga padanya, di tengah kesibukannya untuk menafkahi dirinya, masih dia sempatkan untuk menulis sehingga sepuluh buah buku sastra telah diterbitkannya. Kreativitasnya memang tinggi. Umumnya, tulisan yang telah diterbitkannya itu berbicara tentang kritik sosial terhadap pemerintah. Di bungkus dengan bahasa yang apik tapi nonjok, sesekali dibumbui dengan guyonan hingga mengocok isi perut. Sami’un selalu berpesan padaku, hargailah setiap apa yang kamu miliki sekarang sebelum sesuatu itu hilang dan kau baru tersedar bahwa dia sangat berharga bagimu.

Beda lagi dengan Hamidah. Teman yang baru ku kenal di penghujung tahun lalu ini telah menerbitkan satu novel tapi novelnya ini tembus pada salah satu penerbit yang cukup punya nama di negeri ini bahkan novelnya telah laku di pasaran sebanyak seribu eksemplar, amazing. Dia adalah seorang anak konglomerat tapi dia tidak  mau memakai satu fasilitaspun yang telah diberikan ayahnya. setiap hari dia mengelilingi kota dengan ngontel karena menurutnya hidup itu singkat jadi harus dijalani dengan semangat. Dengan ngontel, dia bisa melihat dari dekat lekuk tubuh kota dari pangkal hingga ujung.

Bagi Hamidah, harta terindah adalah orang-orang disekelilingnya bukan uang berlimpah ataupun fasilitas yang mewah. Uang tak bisa mengajarkannya apa-apa karena uang hanyalah benda mati dan tak bisa memberi solusi ketika masalah menghampiri. Namun yang bisa mengajarkannya banyak hal adalah teman-teman dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Dari setiap orang yang Hamidah temui, ia selalu menyimpannya dalam memori, sesaat sampai dirumah. Ia tuliskan siapa-siapa saja yang telah ia temui tadi dan pengalaman apa yang dapat diambil dari teman-teman barunya itu, begitu seterusnya. Tiap hari teman barunya selalu bertambah. Menurutnya hidup itu harus aktif dan dinamis bukan pasif. Hidup yang aktif akan menghasilkan pemikiran yang positif. Lalu bagaiman hidup yang aktif itu? Hidup yang aktif adalah selalu membantu orang yang kesusahan, menebar senyum sekalipun orang itu tidak mengenal kita, ikhlas dalam membantu tanpa ada rasa pamrih, menebar cinta kasih pada sesama. Dia memberi bocoran kepadaku, hidup yang aktif itu adalah cinta. Setiap orang punya cinta tapi tidak setiap orang saling memberi cinta. Cinta adalah pondasi awal dalam setiap gerak langkah kita.  Tak ada satu pekerjaan pun akan selesai jika tidak di dasari dengan cinta.

Aku telah belajar banyak hal dari dua orang temanku ini. Dari Sami’un, aku belajar bagaimana cara menghargai apa yang kita miliki dan dari Hamidah, aku belajar bagaimana cara memberi dan mencintai. Kita tentu tidak sadar bahwa ternyata setiap orang yang kita temui adalah berharga. Berikan cintamu maka orang akan memberikan cintanya padamu. Jika orang tak membalas cintamu, jangan bersedih suatu saat dia akan sadar bahwa kau adalah orang yang berharga dan patut untuk dicintai.

Silmi Novita Nurman
Santri Ngaji Filsafat Mjs, 
Pujanggawati dari padang. Puisi-puisinya dan teman-teman sepujangganya dibukukan dengan judul Moratorium Senja
Categories:

0 comments:

Post a Comment