Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Namaku Siti Maimunah

Oleh: Silmi Novita Nurman

Setiap orang punya cinta tapi tidak setiap orang saling memberi cinta”.

Namaku Siti Maimunah. Ayah dan ibuku seorang pegawai negeri sipil. Latar belakang pendidikanku bukanlah dari pesantren. Setelah menempuh sekolah dasar aku masuk ke madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, institute agama Islam dan melanjutkan magister di Universitas Islam juga. Meskipun background pendidikanku Islam tapi tetap saja aku masih merasa kosong padahal dengan background pendidikanku yang seperti itu seharusnya aku menjadi seorang sosok yang luar biasa. Aku merasa kosong ketika berada di rumah.  Ketika berada di luar, berinteraksi dengan teman, dengan orang banyak aku merasa diriku terisi penuh kembali. Orang-orang yang ku temui di luar sana seperti nafasku. Daya yang menguatkan aku sehingga aku tidak merasa kesepian.

Bagiku, sepi adalah teman hidupku. Walaupun terkadang aku selalu mengutuk kesepian, membunuhnya perlahan dengan memalingkan wajah pada keramaian. Ketika sendiri, aku rapuh. Hatiku berteriak sekeras-kerasnya namun mulut terkatup membeku. Air mata bercucuran, tak ada tangan lain yang pernah menyapu air mata itu. Selalu tanganku, tangan yang sampai saat ini belum pernah menyapu air mata orang tuaku. Tangan yang masih saja melakukan dosa. Tangan yang enggan membantu orang lain. Tangan yang sampai saat ini belum juga menelurkan karya, ntah itu puisi ataupun buku-buku yang memotivasi. Tetapi, aku merasa beruntung, di antara teman-teman sebaya dikampungku, hanya aku sendiri yang sekolah tinggi bahkan sampai magister. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan? Tidak ada. Semua telah berkecukupan.

Aku juga  sangat beruntung punya orang tua yang berpendidikan. Mereka selalu memenuhi segala kebutuhanku dan keempat saudaraku. Kami hidup dengan berkecukupan. Barang sekali pun kami tak pernah tidak makan. Orang-orang melihat keluarga kami adalah keluarga yang bahagia, harmonis dan tidak ada masalah. Namun, apa yang mereka lihat berbeda dengan apa yang aku rasakan. Keluarga yang harmonis adalah dambaan setiap orang. Tapi apa ada setiap keluarga harmonis yang luput dari masalah? menurutku tidak. Hadirnya masalah dalam sebuah keluarga adalah sebuah pendewasaan dalam sebuah hubungan. Namun jangan berlarut-larut dalam masalah dan jangan pula lari dari masalah.

Seseorang yang pemikirannya dewasa dan bijakasana adalah seseorang yang bisa mengahadapi dan menyelesaikan masalah dengan dewasa. Betapa banyak orang di luar sana yang lari dari masalah atau memindah tangankan masalahnya pada orang lain. Sementara waktu, memang masalah itu berpindah tangan tapi tidak untuk waktu yang panjang. Ia akan terus mengejar kemanapun kita pergi, menjadi bumerang bahkan dikejar sampai ke alam mimpi. Beberapa waktu lalu, tetangga kampungku dihebohkan dengan penemuan jasad bayi baru lahir di belakang rumahnya. Bayi itu dimasukkan ke dalam plastik hitam dan di buang ke bak sampah. Usut punya usut ternyata bayi itu hasil dari hubungan gelap muda-mudi yang hamil di luar nikah lalu bayinya di buang karena takut dimarahi orang tuanya. Masalah ini merupakan masalah yang konkrit. Pelaku berusaha untuk lari dari masalah dengan cara membuang bayinya sedangkan yang laki-laki kabur melarikan diri sebelum menikahi pacarnya ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah kira-kira pepatah yang bisa disandangkan pada kasus ini. Jika tak mau bertanggung jawab maka jangan berbuat.

Umurku sekarang sudah 24 tahun. Aku merasa masih banyak tanggung jawab yang belum aku tunaikan. Salah satunya adalah menulis buku dan menerbitkannya. Beberapa hari lalu, buku-buku puisiku sudah terbit meskipun berupa antologi tapi setidaknya itu sudah menujukkan eksistensi diriku bahwa aku hidup tidak hanya sekedar hidup tapi bisa menghasilkan karya. Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang sudah banyak menerbitkan buku. Mereka punya perbendaharaan kata yang banyak sehingga buku-buku yang mereka terbitkan berkualitas tinggi dan patut di perhitungkan di dunia sastra. Tentu saja, mereka sering membaca dan berdiskusi sehingga ilmu mereka selalu bertambah dan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

Sebut saja, Sami’un. Temanku yang satu ini adalah anak dari seorang petani. Orang tuanya tidak mampu membiayainya sekolah sehingga dia memutuskan sekolah dengan biaya sendiri. Bekerja kesana-kemari hanya untuk mencari sesuap nasi dan bahkan sampai perguruan tinggi ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Sebagai teman, aku merasa bangga padanya, di tengah kesibukannya untuk menafkahi dirinya, masih dia sempatkan untuk menulis sehingga sepuluh buah buku sastra telah diterbitkannya. Kreativitasnya memang tinggi. Umumnya, tulisan yang telah diterbitkannya itu berbicara tentang kritik sosial terhadap pemerintah. Di bungkus dengan bahasa yang apik tapi nonjok, sesekali dibumbui dengan guyonan hingga mengocok isi perut. Sami’un selalu berpesan padaku, hargailah setiap apa yang kamu miliki sekarang sebelum sesuatu itu hilang dan kau baru tersedar bahwa dia sangat berharga bagimu.

Beda lagi dengan Hamidah. Teman yang baru ku kenal di penghujung tahun lalu ini telah menerbitkan satu novel tapi novelnya ini tembus pada salah satu penerbit yang cukup punya nama di negeri ini bahkan novelnya telah laku di pasaran sebanyak seribu eksemplar, amazing. Dia adalah seorang anak konglomerat tapi dia tidak  mau memakai satu fasilitaspun yang telah diberikan ayahnya. setiap hari dia mengelilingi kota dengan ngontel karena menurutnya hidup itu singkat jadi harus dijalani dengan semangat. Dengan ngontel, dia bisa melihat dari dekat lekuk tubuh kota dari pangkal hingga ujung.

Bagi Hamidah, harta terindah adalah orang-orang disekelilingnya bukan uang berlimpah ataupun fasilitas yang mewah. Uang tak bisa mengajarkannya apa-apa karena uang hanyalah benda mati dan tak bisa memberi solusi ketika masalah menghampiri. Namun yang bisa mengajarkannya banyak hal adalah teman-teman dan orang-orang yang berada disekelilingnya. Dari setiap orang yang Hamidah temui, ia selalu menyimpannya dalam memori, sesaat sampai dirumah. Ia tuliskan siapa-siapa saja yang telah ia temui tadi dan pengalaman apa yang dapat diambil dari teman-teman barunya itu, begitu seterusnya. Tiap hari teman barunya selalu bertambah. Menurutnya hidup itu harus aktif dan dinamis bukan pasif. Hidup yang aktif akan menghasilkan pemikiran yang positif. Lalu bagaiman hidup yang aktif itu? Hidup yang aktif adalah selalu membantu orang yang kesusahan, menebar senyum sekalipun orang itu tidak mengenal kita, ikhlas dalam membantu tanpa ada rasa pamrih, menebar cinta kasih pada sesama. Dia memberi bocoran kepadaku, hidup yang aktif itu adalah cinta. Setiap orang punya cinta tapi tidak setiap orang saling memberi cinta. Cinta adalah pondasi awal dalam setiap gerak langkah kita.  Tak ada satu pekerjaan pun akan selesai jika tidak di dasari dengan cinta.

Aku telah belajar banyak hal dari dua orang temanku ini. Dari Sami’un, aku belajar bagaimana cara menghargai apa yang kita miliki dan dari Hamidah, aku belajar bagaimana cara memberi dan mencintai. Kita tentu tidak sadar bahwa ternyata setiap orang yang kita temui adalah berharga. Berikan cintamu maka orang akan memberikan cintanya padamu. Jika orang tak membalas cintamu, jangan bersedih suatu saat dia akan sadar bahwa kau adalah orang yang berharga dan patut untuk dicintai.

Silmi Novita Nurman
Santri Ngaji Filsafat Mjs, 
Pujanggawati dari padang. Puisi-puisinya dan teman-teman sepujangganya dibukukan dengan judul Moratorium Senja

Minggu, 05 Februari 2017

Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya

CERPEN

Oleh AHMAD TOHARI
5 Februari 2017

Di sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. Dia adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi hari. Pada saat itu, para pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat mencapai pasar. Mereka naik sepeda atau motor dengan dua keranjang di bagian belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD, beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking peluitnya bisa memuat semua menjadi lancar.

Polisi lalu lintas belum pernah datang di sana. Tetapi, Paman Klungsu biasa memakai rompi lusuh bercap "Poltas Swakarsa" dengan tulisan spidol. Entah siapa penulisnya. Selain rompi lusuh warna pupus pisang yang berpendar, Paman Klungsu juga melengkapi diri dengan peluit plastik warna merah. Meskipun kecil, suara peluit itu amat nyaring dan terbukti wibawanya ditaati oleh para pengendara. Orang-orang sering bertanya mana yang paling berwibawa di simpang tiga itu; sosok Paman Klungsu atau peluitnya.

Empat-lima tahun yang lalu Paman Klungsu hanya orang lontang-lantung di pasar. Jalannya pincang. Kaki kirinya kecil dan lebih pendek. Sebatang kara, di malam hari jadi peronda pasar. Di siang hari jadi kuli angkut yang membawakan barang milik pedagang dari dalam pasar ke pinggir jalan atau sebaliknya. Para pedagang memberinya seratus atau dua ratus rupiah. Itu bekal Paman Klungsu untuk pergi ke warung nasi rames milik Yu Binah di belakang pasar.

Sekarang Paman Klungsu tidak lagi mengangkut-angkut barang milik pedagang. Dia merasa telah naik pangkat menjadi-dia menyebutnya sendiri-poltas swakarsa, yang amat dia banggakan. Apalagi Paman Klungsu juga sering mendapat uang receh. Itu pemberian sopir-sopir yang merasa bersimpati. Mereka menghargai jasa Paman Klungsu yang punya prakarsa mengatur lalu lintas di simpang tiga.

Pada awalnya Paman Klungsu sering dicibir orang. "Ah, kamu cuma polisi non-batu, polisi-polisian. Kamu hanya berani mengatur pedagang dan anak sekolah, tapi tidak berkutik bila yang lewat pejabat atau moge. Kamu juga selalu mengistimewakan Yu Binah. Kalau perempuan itu lewat selalu kamu bukakan jalan."

Ketika menerima cibiran itu, Paman Klungsu hanya diam. Namun sebenarnya dia sungguh tersinggung. Jadi suatu kali dia bergerak cepat ketika ada sebuah mobil bersipongah mau melanggar aturannya. Dengan langkah terpincang-pincang, Paman Klungsu menghadang mobil bagus berpelat merah itu. Paman Klungsu berdiri tepat di depan mobil, tangan kanannya tegak lurus. Tetapi, kaki kirinya bersijingkat karena lebih pendek. Peluitnya melengking-lengking sekerasnya. Pengendara mobil itu mendengus dan berhenti dengan mata membulat. Kemarahan muncul penuh di wajahnya. Tetapi, Paman Klungsu bergeming. Dan di luar dugaan Paman Klungsu semua orang di simpang tiga bertepuk tangan mendukungnya. Peluit Paman Klungsu melengking makin nyaring dan bertubi-tubi. Tangan kanannya tetap menjulang ke atas. Orang- orang bersorak makin riuh.

Sejak peristiwa itu, Paman Klungsu makin percaya diri dan merasa lebih gagah. Dia senang karena ternyata orang-orang berada di pihaknya. Maka, dia mengulangi sikap itu; tidak mengutamakan siapa saja yang lewat. Juga barisan puluhan moge yang menderu menggila dari barat pada Jumat dan menggelegar pongah balik dari timur pada Ahad. Maka, Paman Klungsu dengan peluitnya adalah sosok kekuasaan yang nyata di simpang tiga itu. Sayangnya, orang-orang juga masih jadi saksi peluit Paman Klungsu tak pernah melengking nyaring terhadap Yu Binah. Bila dia lewat, Paman Klungsu selalu mendahulukannya, dengan keramahan yang nyata pula. Terhadap Yu Binah, peluit Paman Klungsu seakan bisu.

Ketika sedang istirahat pada suatu tengah hari di emper toko, ada orang bertanya, "Ah, kamu ternyata tetap mengutamakan Yu Binah. Ada apa ya? Awas, Yu Binah punya suami; kamu jangan macam-macam."

Pertanyaan itu membuat Paman Klungsu ketakutan. Wajahnya mendadak beku. Bibirnya gemetar. Dia tergagap, dan kata-kata yang kemudian diucapkan terdengar patah-patah.

"Yu Binah? Iya. Dia memang punya suami. Dan saya tidak mengapa-apakan dia." Paman Klungsu gugup. Namun, lama- kelamaan bicaranya lebih tertata. Katanya, dia banyak berutang budi kepada Yu Binah. Penjual nasi itu suka memberinya rames lengkap berapa pun Paman Klungsu membayarnya. Menyadari uangnya sering tidak cukup, tambahnya, dia biasa hanya minta nasi dan air putih. Lauknya cukup kecap dan sambal yang memang disediakan cuma-cuma. Tetapi, Yu Binah tetap memberinya nasi rames lengkap dengan taburan bawang goreng, tahu atau tempe, bahkan kadang ikan juga.

"Taburan bawang goreng di atas nasi hangat, ditambah sambal dan kecap, wah!"

"Jadi hanya karena bawang goreng, kamu merasa harus mengutamakan Yu Binah?"

Paman Klungsu tersipu, kemudian meneruskan penjelasannya. Katanya, ada sesuatu yang sangat mengesankan pada Yu Binah, yaitu gerak tubuh, terutama kedua tangannya ketika Yu Binah menyiduk nasi dari bakul lalu menampungnya dengan piring.

"Itu seperti tangan orang menari, atau apa. Itu _pantes_ banget, perempuan banget. Tidak semua perempuan bisa seperti itu," tambah Paman Klungsu.

Orang yang mendengar ucapan Paman Klungsu tertawa.

"Ah, kamu mengada-ada saja. Cuma bawang goreng dan gerak tangan perempuan menyiduk nasi mengapa kamu begitu terkesan?"

Jawaban Paman Klungsu keluar lagi setelah dia berdiam diri. Dia mengaku dirinya orang perasa sehingga mudah tersentuh oleh keanggunan yang tampak olehnya. Apalagi, tambahnya, keanggunan gerak Yu Binah ketika menyiduk nasi selalu disertai ketulusan yang nyata terlihat di wajahnya.

Ini jam 9 pagi, lalu lalang di simpang tiga sudah mereda. Anak-anak sekolah, para guru, dan pegawai sudah lama sampai ke tempat kerja masing-masing. Yang masih berkendara lewat simpang tiga hanya orang-orang yang mau pergi atau pulang dari pasar. Udara mulai panas dan suara lengking peluit buat sementara tak terdengar. Karena tidak padat, arus kendaraan bisa mengalir lancar meskipun tanpa lengking peluit Paman Klungsu. Ke mana dia?

Dengan bekal uang seribu lima ratus pemberian tiga sopir yang menyadari perut siapa pun harus diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu Binah. Di depan pintu warung lelaki pincang itu berpapasan dengan dua pedagang yang baru selasai makan nasi rames. Paman Klungsu duduk sendiri, meletakkan peluitnya di atas meja, lalu menyulut rokok. Yu Binah menyambutnya dengan senyum. Ah, Paman Klungsu tidak akan melepaskan peluang menikmati keanggunan gerak Yu Binah ketika perempuan itu sedang menyiapkan nasi rames. Atau, barangkali Paman Klungsu sulit menjawab bila ditanya, mana yang lebih dia sukai, keanggunan gerak Yu Binah atau nasi ramesnya.

"Yu, uangku cuma seribu lima ratus."

"Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang."

"Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?"

"Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?"

Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi, mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip. Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. "Itu betul sebuah lenggang yang _pantes_ banget, dan aku tidak akan bosan melihatnya," ujar Paman Klungsu dalam hati. Dan kemudian hatinya merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga.

"Ayo makan. Kamu tentu sudah lapar."

Suara itu terasa seperti dendang alam di telinga Paman Klungsu. Ketika sekejap menengadah, Paman Klungsu juga melihat wajah tulus itu. Mata yang jernih, senyuman yang polos, sederhana. Paman Klungsu menunduk, memperhatikan rokok di asbak yang hampir habis tanpa diisap. Menarik napas panjang, lalu menarik piring lebih dekat. Aroma bawang goreng membangkitkan seleranya. Dan Paman Klungsu sadar, harga nasi rames yang sedang dimakan pasti di atas seribu lima ratus.

Selesai makan, Paman Klungsu minta diri dengan cara orang yang amat mengerti berterima kasih. Meskipun tahu dari jam sembilan sampai jam satu lalu lintas di simpang tiga tidak ramai, Paman Klungsu tidak mau terlalu lama meninggalkan tempat itu. Namun, sampai di depan pasar Paman Klungsu harus berhenti. Yu Binah memanggil-manggilnya dari belakang. Yu Binah berjalan tergesa-gesa, tangan kirinya menjimpit sesuatu dengan ibu jari dan telunjuk. Menahan rasa jijik. Tangan kanannya menutup hidung dan mulut.

"He, ini, peluitmu tertinggal. _Idih,_ ampun! Baunya busuk sekali," kata Yu Binah dengan suara teredam oleh bungkaman tangan sendiri. "Peluitmu selalu kena ludah tapi tidak pernah kamu cuci ya? _Idih,_ minta ampun busuknya!"

"Begitu ya, Yu? Tetapi, peluitku amat penting. Bunyinya berkuasa mengatur simpang tiga," jawab Paman Klungsu sambil berusaha menangkap peluit yang dilemparkan Yu Binah ke arahnya.

"Iya, lah, aku tahu. Namun, mengapa peluitmu yang punya kuasa itu harus bau busuk? Ah, cucilah barang busuk itu. He, dengar. Kamu jangan ke warungku sebelum peluit itu kamu cuci. Benar ya?"

Paman Klungsu mengangguk dan tersenyum. Setelah Yu Binah berbalik, Paman Klungsu termangu sejenak. Mendadak dia tergoda untuk mencoba merasakan sendiri bau peluitnya. Maka lubang pada barang kecil itu didekatkan ke hidungnya. O, Paman Klungsu mendadak tersentak dan berkali-kali bergidik, lalu cuh! Kemudian Paman Klungsu berjalan terpincang-pincang sambil menunduk, pulang ke simpang tiga. Panas matahari menyengat kepalanya. Dan peluit sakti yang bau busuk itu tetap dalam genggaman.



Ahmad Tohari, lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Sekarang menetap di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Jawa Tengah. Karyanya yang paling populer novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Cerpennya "Anak Itu Mengencingi Jakarta" keluar sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2015. Sampai sekarang di kampung halamannya Tohari tetap produktif menulis dan menjadi pembicara di sejumlah kota.
_____________________
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya".

Minggu, 29 Januari 2017

Rumah Batu Kakek Songkok

Jadi juga pesan pasir?" tanya Sabang pada ayahnya, dengan napas tersengal.
"Iye, kita bikin baru rumah kita, jadi rumah batu," jawab Kakek dengan senyum mengembang sembari membenahi letak songkok. Karena songkok itulah ia dipanggil Kakek Songkok oleh warga kampung. Peci tak pernah lepas dari kepala Kakek. Bahkan, seluruh anaknya kerap memanggil ayah mereka dengan Kakek Songkok.Sabang tinggal tak jauh dari rumah Kakek Songkok, panggilan sang ayah oleh warga kampung. Ia memperhatikan sebuah pikap menurunkan pasir, lalu tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya.
Sabang mengerutkan kening, yang membuat Kakek teringat pertengkaran dengan putranya dua malam lalu saat Kakek menyampaikan niat menjadikan rumahnya rumah batu.
"Kenapa harus rumah batu? Tak usahlah dengar kata orang," cecar Sabang. Ia satu-satunya yang tidak setuju keinginan ayahnya mengubah rumah papan menjadi rumah batu. Bagi Sabang, rumah masa kecil harus tetap seperti sedia kala. Apalagi kalau ayahnya mengubah rumah hanya karena omongan tetangga.
"Bukan karena kata orang, sudah lama mau kuubah rumah ini. Lihat ko papannya, ibumu sudah berapa kali jatuh karena papan-papan itu sudah tua," ujar Kakek Songkok lirih, tubuhnya berkeringat. Tidak sanggup ia beradu mulut dengan putra kesayangannya.
"Aih, tidak, tidak. Rumah kita harusnya biar begini saja. Di sini kenangan kita semua. Kenapa harus diubah?" Sabang setengah membentak ayahnya sambil menunjuk sekeliling rumah. Suaranya meninggi, mukanya merah padam menahan marah.
Sejak hasrat mengubah rumah muncul, dan dikabarkan ke seluruh keluarga, saat itu Sabang sudah menentang. Kakek mengalah, mencoba membujuk Sabang agar paham. Tapi, pertengkaran dua hari lalu itu kini bangkit kembali. Sabang memandang gundukan pasir itu. Ia bayangkan, tak lama lagi pasir-pasir itu akan dicampur semen, merekatkan batu-batu. Bagi Sabang, batu-batu itu bersatu padu melindas kenangan masa kecilnya di rumah kayu yang tak lama lagi akan dirobohkan. Ia banyak melihat keadaan itu terjadi pada kawan-kawan di kota saat sekolah dulu. Saat itu ia hanya tertawa karena yakin kampungnya tetap teguh mempertahankan rumah adat mereka, kenangan mereka akan hidup. Tapi, sekarang tampaknya akan pupus pula kebanggaan itu.
Sabang sadar, tak ada guna lagi menentang. Tak pantas lagi berharap. Semua bilah-bilah kayu itu, jendela-jendela, lantai, usuk, papan-papan, tempat semua kenangan masa kecil melekat dan menancap, akan segera lenyap. Rencana sedang dijalankan, keinginan tengah diwujudkan untuk melumat wujud sejarah sebuah keluarga. Semua akan tinggal kenangan yang mengambang. Melayang-layang mendesak-desak dada.
Mulut Sabang terkunci, ia pulang tanpa pamit, membiarkan Kakek Songkok terdiam hampa. Memang, Sabang sangat keras soal rumah. Ia juga yang menentang saat sang ipar, suami kakak perempuannya, membangun rumah batu sedari awal mereka menikah.
Kakek berjalan terbungkuk ke arah balai bambu di bawah rumah panggungnya. Langkahnya lunglai, matanya kuyu. Istrinya menyusul. Mereka duduk dalam diam dielus angin sepoi yang biasa lewat di bawah rumah. Balai-balai ini tempat kesukaan pasangan tua itu. Pagi, siang, sore, bahkan malam, angin akan datang menghampiri, tak peduli musim apa pun yang sedang hinggap di kampung. Tapi tak ada yang terlalu suka di balai saat malam. Selain karena gelap tak menyenangkan, nyamuk-nyamuk akan berpesta pora, membuat penghuni sibuk menggaruk seluruh badan.
"Ah, kenapa aku marah ke Sabang. Harusnya tak usah sampai begitu," bisik Kakek pada dirinya sendiri. Lama Kakek duduk diam, tenggelam dalam pikiran sendiri.
Sesekali Kakek Songkok memandang berkeliling, seolah ingin menelan rumah dengan tatapan matanya. Balai itu sendiri tanpa dinding papan. Kakek memasang bambu-bambu melintang di tengah tiang-tiang rangka rumah. Di situlah mereka biasa bercengkerama. Rumah mandar seperti rumah Kakek, besar, luas, dan memiliki tiang-tiang rangka kokoh sebagai penyangga. Orang-orang menyebut rumah ini rumah panggung. Tiang rangka yang digunakan tinggi, hingga tiga meter, sebelum mencapai papan pijakan rumah. Biasa dibuatkan tangga untuk bisa memasukinya.
Kakek Songkok menatap tangga rumahnya yang sudah berlubang, beberapa papannya lapuk dimakan usia. Seminggu lalu, cucu Kakek terluka karena berlari-lari di sekitar meja tamu. Ia terperosok di antara papan yang remuk karena tua. Kaki gadis kecil lima tahun itu berdarah-darah.
Kejadian itu menyadarkan Kakek, rumahnya sudah renta. Memperbaikinya menjadi rumah batu bagi Kakek seperti memastikan keluarganya aman, tak ada lagi yang perlu terluka.
Masih menekuri kerapuhan rumahnya sendiri, tiba-tiba menantu Kakek memberi salam, memanggil kembali Kakek dari buaian angin sepoi.
"O, Darman, sini, sini," sapa Kakek Songkok mendengar suami anak sulungnya mengucap salam.
Masih berdiri Darman berujar, "Bagaimana jadinya pembangunan rumah ini, Kek?"
Kakek menghela napas, memandang sekeliling rumah lagi, lalu menatap Darman, sambil berkata muram, "Yah, Sabang tetap tak setuju. Tapi pemesanan bahan sudah berjalan, akan datang besok. Malam nanti kita bujuk lagi Sabang agar setuju ubah rumah."
Darman mengangguk-angguk. Ia bukan orang Mandar. Tidak seperti Sabang dan Kakek Songkok. Ia tak pernah menikmati kebersamaan memindahkan rumah panggung beramai-ramai. Kebersamaan yang menyatukan warga kampung. Di tanah Mandar, masyarakat biasa saling bantu saat akan memindahkan rumah. Dari kampung sebelah pun datang mengangkat rumah panggung itu ke tempat baru.
Tawa riuh rendah bercampur masam bau keringat serta teriakan semangat selalu menyemarakkan pemindahan rumah. Semua lelaki kampung turun tangan, rumah panggung yang berat dengan tiang dan tangga itu akan dipindahkan dalam sekali waktu, bersama-sama. Setelah rumah pindah, masyarakat menikmati makanan ringan, seperti loka yanno, pisang goreng gurih sedap disantap selagi hangat, dan bubur kacang hijau yang disuguhkan oleh si empunya rumah. Kebersamaan itu mengikat masyarakat kampung. Sabang suka sekali membantu pemindahan rumah, ia akan bersenda gurau dengan pemuda kampung yang ikut serta. Apalagi ayahnya, Kakek Songkok, ditunggu-tunggu pemuda kampung karena selalu memberi guyon semangat saat akan memindahkan rumah. Hari-hari Sabang kecil riuh oleh pekik semangat dan kebersamaan warga. Tapi, itu semua tak pernah dirasakan Darman. Kenangan indah kebersamaan itulah yang merasuk dalam diri Sabang sehingga ia selalu menentang pembangunan rumah batu.
Darman datang dari pulau sebelah. Belum lama di tanah Mandar, ia merantau sebagai tukang listrik di Malaysia. Dengan uang hasil kerjanya, ia membangun rumah batu pertama di kampung itu. "Rumah panggung sudah ketinggalan zaman," katanya sengit.
Tak disangka pembangunan rumah batu diikuti warga lain. Menimbulkan gengsi sendiri kata mereka. Hanya Sabang yang berang, mengatakan rumah panggung adalah tradisi, adat yang harus mereka rawat. Dalam tiga tahun sejak Darman membangun rumah batu pertama itu, hampir seluruh warga yang mampu langsung mengubah rumah mereka menjadi rumah batu. Warga yang tidak mengubah rumahnya dianggap berkehidupan di bawah standar. Keberadaan rumah batu menentukan tingkat sosial mereka. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dipandang tidak mampu oleh warga sekampung.
Kepala kampung yang seolah peduli dengan kehidupan warganya melontarkan gagasan membantu warga yang tempat tinggalnya belum rumah batu, dengan memberi sumbangan dari dana desa. Ia menyampaikan gagasan itu dengan lembut, tetapi terasa sangat mendesak-desak, juga membujuk-bujuk, yang kemudan disambut riang gembira oleh warga. Pembangunan rumah batu dimulai. Hanya dua orang yang menolak: Sabang, yang tidak mau mengubah rumahnya sama sekali, dan Kakek Songkok, ayah Sabang, yang mengatakan ia punya cukup uang untuk membangun rumah batu, hanya menunggu waktu.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu," kata Darman, tidak naik ke rumah. Kakek Songkok mengangguk singkat.
Sepeninggal Darman, Kakek menaiki tangga rumah, membuat bunyi berderak dan kriut kencang. Ia berjalan ke kamarnya, berjingkat, menghindari lubang-lubang rapuh kayu rumah. Kakek lalu berbaring di dipan tanpa kapuk yang dipenuhi sarung dan baju-baju. Pikirannya dipenuhi rasa sesal karena pertengkaran dengan Sabang pagi tadi.
Belum lama berbaring, Kakek Songkok terlonjak oleh salam Sabang. Lekas-lekas Kakek merapikan sarung, menyambut Sabang, siap menerima gelegak marah putranya lagi.
Tapi kali ini Sabang datang dengan penuh kelembutan. "Sudah saya putuskan. Lanjutkan saja pembangunan rumah ini. Saya mendukung apa pun yang akan dilakukan," ujar Sabang pelan, terasa seperti igauan yang teduh.
Kakek setengah melongo, tergagap menjawab, "Ah, benar setuju ko?"
"Iye, kalau memang sudah diputuskan dan itu yang paling baik, teruskan," kata Sabang. Kakek mengangguk-angguk senang, tak menyangka anaknya akan mendukung.
"Tapi bagaimana denganmu? Ubah juga rumahmu jadi rumah batu, ya?" bujuk Kakek.
Sabang hanya tersenyum kecil. Kakek merasa senyum putranya lebih dari cukup untuk sebuah persetujuan. "Nanti rumah ini juga punyamu, kan. Keluargamu bisa hidup baik di rumah batu, tak perlu panas-panas karena atap seng ini, nanti ganti juga jadi genteng," tambah Kakek kegirangan.
Sabang memandang berkeliling. Matanya melahap kenangan masa kecil ketika tinggal di rumah kayu ini. Jatuh pertamanya di papan kayu, cengkeh pertama yang ia poteki semasa kanak, semua di ruang ini. Air muka Sabang menyiratkan ia sungguh tak rela menjadikan rumah ini rumah batu. Namun, ia sudah memutuskan mengikuti keputusan ayahnya. Kakek Songkok masih berkata tanpa henti tentang rumah batu saat Sabang pamit.
Pembangunan pun dimulai. Papan-papan rumah dibongkar, tiang-tiangnya dibuang. Pasir dan semen dicampur, batu-batu disusun. Darman dan semua keluarga berdatangan membantu, atau sekadar melihat pembongkaran rumah tua mereka. Sabang tak pernah datang, tak juga muncul saat rumah selesai dibongkar. Dinding batu pertama sudah rampung, tapi Sabang tak juga tampak.
Banyak yang memuji, atau setengah menyindir, akhirnya Kakek Songkok memperbaiki rumah, dan tidak dipandang sebelah mata lagi oleh tokoh kampung. Ia hanya tersenyum menyaksikan rumahnya menjadi rumah batu. Meski heran mengapa putranya tak pernah menjenguk pembangunan rumah, Kakek tak terlalu gelisah, ia ingat perbincangan terakhir saat Sabang menyetujui keputusan tersebut.
Ketika rumah batu itu rampung, Kakek mengadakan syukuran kecil. Kepala kampung yang diundang memberikan sambutan betapa bijak keputusan Kakek Songkok untuk mengubah rumah, dan memuji betapa indah rumah-rumah batu di kampung yang ia pimpin. Sebelum syukuran, Sabang dipanggil, tapi yang dicari tak ada di rumah. Acara tetap berjalan tanpa kehadiran Sabang.
Masih subuh, saat akan bersiap ke kebun, Sabang menghampiri ibunya, di depan rumah. Kakek minum kopi di teras.
"Ke mana saja ko? Kenapa tak pernah datang? Mau ke mana lagi?" tanya Kakek melambai pada Sabang.
"Saya mau pindah ke Ratte. Tak ada lagi yang sanggup saya bikin di sini, rumah kita juga sudah berubah," ujar Sabang menahan isak. Ia menggendong ransel. Di motornya ada satu tas besar lagi, dipegang oleh Sarti, istri Sabang. Ia akan tinggal di kampung istrinya di Ratte, letaknya di balik bukit. Di sana ia bisa tetap tinggal di rumah panggung, terhindar dari tekanan untuk mengubah rumahnya menjadi rumah batu.
"Rumahmu ini bagaimana? Kami bagaimana?" tanya Kakek, melonjak dari duduknya, kaget saat Sabang memutuskan pergi.
"Tak apa. Rumah saya berikan pada Darman untuk anaknya, mau dijadikan rumah batu juga. Semua kan sudah aman dalam rumah batu. Lenyap kenangan kita, hilang juga saya," jawab Sabang menghidupkan motornya. Ia berlalu, sedih.
"Saya sudah berusaha tahan. Dia tak mau dengar, aih," tiba-tiba Darman datang, berusaha selekas mungkin sampai pada Kakek. Sabang sudah tak terlihat lagi.
Kakek Songkok duduk dengan tatapan kosong, matanya sembab, bayangan Sabang semakin jauh. Deru motornya kian sayup, begitu jauh. Angin tak kuasa lagi mengantarnya.
Lina PW, lahir dan besar di Pulau Dewata, Bali. Memulai menulis sejak sekolah menengah dengan menuangkan ide dan pengamatannya melalui tulisan jurnalistik. Lina pernah menjadi wartawan lepas di beberapa media lokal dan kontributor kisah perjalanan di sejumlah media nasional. Tulisan-tulisannya antara lain dibukukan dalam antologi Merajut Mimpi di Sudut Negeri dan Kerlip Cahaya di Perbatasan. Tahun 2016, ia mengikuti workshop penulisan cerpen yang diselenggarakan harian Kompas. Kini Lina menetap di Bali, bersama teman-temannya, ia tengah merancang komunitas menulis bagi kaum belia.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Januari 2017, di halaman 24 dengan judul "Rumah Batu Kakek Songkok".

Minggu, 16 Oktober 2016

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau pergi

Oleh Faisal Oddang
16 Oktober 2016

PERANG yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan alasan untuk bertahan. Karena itu saya memilih pergi. Ketika surat ini kau baca, barangkali saya sudah tiba di Tiongkok. Tidak usah khawatir, ada Hanafi yang membantu kepulangan saya. Surat ini saya tulis ketika dia tiba-tiba menghubungi untuk menjemput, demi keamanan, katanya. Aku meremas tanpa menyelesaikan surat itu, setelah menghela napas panjang, setelah gagal menahan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dan, tentu saja, setelah menyesali semuanya.

Dia memperkenalkan diri sebagai Malia. Kutahu bukan nama aslinya bahkan sebelum dia mengakui.

"Arung," kataku meraih tangannya siang itu di bekas kantor harian Indonesia Timur, tempatku pernah bekerja sebelum berhenti terbit awal 1950, lima tahun sebelumnya. Ia memperkenalkan diri sekaligus mengatakan maksudnya untuk mencari data mengenai koran-koran yang didirikan komunitas Tionghoa di Makassar.

"Aku tidak bisa membantu banyak. Dan sini, Nona lihat sendiri, tidak ada yang tersisa."

"Tuan Huang Sung Chie tidak mungkin salah mengusulkan orang," tepisnya.

"Aku hanya wartawan biasa, Nona. Mantan wartawan, tepatnya."

Matanya jelas tidak memercayai mataku sekaligus apa yang aku ucapkan waktu itu. Huang Sung Chie adalah pendiri beberapa koran Tinghoa di Makassar--dan aku bertahun-tahun menjadi bawahannya. Bahkan sejak ia menjabat pimpinan redaksi Pemberita Makassar hingga pada 1947 menerbitkan koran baru bernama Negara Baru serta majalah Timur Raja yang menjadi cikal-bakal harian Indonesia Timur.

"Saya tidak pernah salah memercayai orang, dan saya memercayai Bung."

"Kata orang bijak, selalu ada yang pertama untuk semua hal, Nona."

"Yang jelas, Bung harus tahu, saya tidak akan salah kali ini."

Aku menyerah lantas menuju beranda. Malia paham itu adalah pengiyaan sekaligus isyarat baginya untuk mengikutiku sebelum akhirnya kami duduk berhadapan di kursi kayu jati dengan diantarai meja bundar dari jenis kayu yang sama. Malia tersenyum menang dengan bola mata yang hilang ditelan kelopaknya. Yang masih membuatku tidak habis pikir adalah bahasa Indonesianya, lebih baik dari totok manapun yang pernah kutemui.

"Saya bertahun-tahun belajar soal Indonesia termasuk bahasanya, bagi kami, hal itu penting apalagi sejak Indonesia kami perkirakan akan menjadi negara komunis yang kuat di kawasan Asia. Kami mempelajari kalian sejak revolusi komunis di negara kami enam tahun yang lalu."

Aku terkejut tetapi tetap berlagak tenang. Dan apa guna koran-koran yang diinginkan Malia? Ah, itu bukan persoalan bagiku. Ia tampak menguasi percakapan kami--dan itu cukup sebagai modal pertama baginya untuk memancing perhatianku.

Tidak cukup setahun setelah pertemuan pertama yang telah kujelaskan, kami pacaran. Setahun kami pacaran, Jumat 2 Maret 1957 Malia mendatangi kontrakanku ketika azan Subuh baru saja terdengar sekitar setengah jam sebelumnya. Ia biasanya datang setelah Magrib lalu tinggal hingga pagi. Tetapi yang dilakukannya kali itu sungguh membuatku bertanya-tanya. Sebelum benar-benar kutanyakan, ia sudah menjelaskan dengan tampang yang sungguh aneh sekaligus tidak tertebak; senang atau sedih atau kaget atau apa pun itu, yang jelas Malia aneh.

"Ada proklamasi SOB," katanya tenang setelah duduk meleseh di karpet biru tipis ruang tamuku.

_"Staat van Oorlog on Beleg_? Tidak masuk akal!"

Aku tidak sengaja mengepulkan asap tebal ke wajahnya dan juga tidak sengaja menumpukan ujung jari tengah dengan telunjuk di dahiku. Seakan-akan aku yang bertanggung jawab memikirkan hal itu.

"Memang tidak seharusnya ada proklamasi, darurat perang hanya bikinan militer, sesukanya mereka demi kepentingan ini dan kepentingan itu. Tapi itu sudah terjadi, Arung, sudah masuk akal. Militer ambil kemudi. Puluhan tokoh dijemput tentara dan dua wartawan diikutkan. Tadi Hanafi mengantarku ke sini lalu buru-buru ke gubernuran. Katanya, tokoh-tokoh itu telah menandatangani piagam di gubernuran sana. Piagam Permesta tep..."

"Ini makar!" potongku, lagi-lagi seperti orang yang harus turut resah, "ini permai..."

Malia balas memotong dengan ciuman singkat di bibir bawahku. "Permainan apa, Sayang? Kau terlalu semangat. Tenanglah dulu, saya buatkan kopi."

Aku tidak percaya ia sudah tiba di Tiongkok. Tetapi apa pentingnya? Tiba atau tidak, sama saja, dia telah meninggalkanku. Dia pergi dan tujuannya tidak lagi penting. Kembali kupunguti suratnya, kubaca lagi--tetapi tidak berubah; ia pergi. Semalam, ia datang ke kontrakanku untuk menginap dan menemaniku. Hal itu tidak aneh, dia sering melakukannya. Kemudian, bisakah kita bercinta untuk terakhir kalinya? Aku seharusnya merasa aneh untuk permintaan itu, tetapi segera kukulum bibirnya dengan buru-buru. Terakhir untuk malam ini, sayang, tetapi tidak untuk malam-malam selanjutnya. Ia hanya tersenyum lalu memelukku sangat erat sebelum kami saling cumbu hingga subuh dan benar-benar untuk yang terakhir kalinya.

Aku melanjutkan membaca surat Malia tanpa berhasil mencegah diri untuk bersedih. Saya mencintaimu, Arung, tulisnya, tetapi.., kita harus berakhir di sini. Saya benar-benar tidak mengerti, tiga tahun lalu ketika Permesta menguasai Makassar, kami dimusuhi. Kau tahu, musuh Amerika adalah musuh bersama. Kini mereka menyerah dan saya pikir semua akan kembali seperti semula, tetapi ternyata keliru; perang tidak menyelesaikan apa-apa. Sekolah dan semua yang pro-Kuomintang ditutup, koran dilarang terbit, dan izin usaha orang-orang Tionghoa dicabut bahkan dirampok oleh militer, saya pikir kata dirampok lebih tepat daripada diambil alih, seperti istilah mereka. Saya, seperti yang kau tahu, memang bisa menghindari genangan lumpur itu, tetapi cipratannya senantiasa mengotori juga. Konon, ada banyak bukti bahwa pemerintah saya mengirim pesawat tempur untuk membantu Permesta merebut Morotai dan mempertahankan Minahasa. Itu di luar nalar, meski tuduhan itulah yang dipercaya pemerintahmu--atau tepatnya, dipaksa oleh Amerika yang pengecut itu untuk percaya. Arung, saya mohon pergilah yang jauh untuk beberapa saat. Maafkan saya telah mencipratimu juga. Koran-koran itu kami jadikan contoh untuk propaganda yang disiapkan kaum nasionalis di negara saya. Jujur, saya awalnya ingin memanfaatkanmu tetapi cinta mengubah segalanya. Saya menyerah di hadapan cintamu dan...

Mataku masih sembab dan surat Malia belum selesai ketika kudengar gedoran yang sudah pasti pertanda sesuatu sedang tidak baik-baik saja. Terdengar teriakan memintaku keluar. Terdengar teriakan memintaku menyerahkan diri--dan belum sempat kujawab teriakan itu, pintu kontrakanku jebol dan aku tidak mengingat apa-apa lagi setelahnya.

Kali ini adalah pertemuan kedua kami setelah sehari yang lalu Malia membuatku menyerah lalu berjanji membantu kepentingan penelitiannya.

"Terima kasih, Bung membantu saya, benar yang saya percaya."

Ia mengucapkan itu sambil menyodorkan rokok dengan nada dan gerakan yang tampak sungkan. Di tangannya, selain rokok dan arloji, juga ada beberapa koran Makassar yang akhirnya berhasil kami kumpulkan. Hampir lengkap mulai yang lama sampai yang baru--yang berbahasa Tionghoa hingga berbahasa Melayu.

"Terima kasih," ucapnya sekali lagi, "tapi kita belum selesai. Bung saya harap masih mau membantu."

Aku tiba-tiba bengah mendengarnya. Apa? Kulihat tumpukan koran yang kini ia kepit di ketiak kirinya. Di tumpukan itu bahkan ada koran Mata Hari, yang tertua di Makassar, setahuku. Selain itu, koran-koran seperti Tionghoa Poo, Makassaarsche Courant, Indo China, Xijian Ribao, bahkan Sek Kang Siang Po--yang tergolong tak begitu penting karena hanya terbit beberapa dan hanya berisi berita dagang, ia dapatkan pula.

"Seharusnya Nona berterima kasih pada orang-orang Koumintang yang merelakan arsipnya buat kita, tadi kan aku hanya bantu catat nama-nama koran yang kita dapatkan, tapi tunggu," aku mengambil jeda dengan mengisap dalam-dalam rokok pemberiannya, "belum selesai? Apanya?" Ia tertawa renyah menyusul pertanyaanku. Ia mengangguk lantas menjelaskan bahwa Koumintang berada di pihak kami. Kami? Maksudmu kita? Aku bertanya.

"Baiklah, saya ralat. Koumintang bersama saya, Bung."

Aku semakin tidak mengerti ke mana arah kami, dan semakin penasaran tentang apa yang harus selesai. Belum ada jawaban untuk rasa penasaranku ketika Malia pamit dan seorang lelaki yang tampaknya berusia tiga puluhan sepertiku, menghampiri kami.

"Bung, terima kasih," senyumnya sangat manis mengatakan itu, "saya pamit pulang. Ah iya," Malia seperti melupakan sesuatu yang sangat penting, "kenalkan, Hanafi," ia memberi isyarat kepada kami untuk berkenalan dan benar saja, temannya mengulurkan tangan yang segera kusambut sambil menyebutkan nama. "Dia tentara," lanjut Malia, dan bagian terakhir itu sangat tidak penting.

Malia datang membawa kopi yang ia maksud. Wajahnya tampak tegang, aku tahu itu dan semestinya ia tahu pula bahwa senyumannya tidak bisa menyembunyikan apa-apa.

"Tidak ada yang perlu disembunyikan. Ceritalah..."

"Amerika di balik semuanya," suaranya ia pelankan, ia memasang tampang serius, "CIA tepatnya, tunggu saja beberapa hari, mereka akan kirim bantuan."

Aku ragu.

"Tidak ada yang ingin kalah seorang diri meskipun mereka kelak harus menang bersama-sama."

Aku seharusnya percaya.

"Komunis menang di Tiongkok, di sini PKI semakin kuat, kurang alasan apalagi Amerika itu? Mereka itu penakut!"

Aku membuka mata dan sudah duduk bersandar di tiang dengan tangan diikat ke belakang. Yang terakhir kuingat adalah gedoran di pintu dan hantaman berkali-kali ke tubuhku. Apa-apaan ini? Aku membatin. Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban apa-apa selain sepatu lars yang menghunjam dadaku dan menimbulkan bunyi seakan-akan seseorang tengah melupuh bambu. Napasku tersengal dan tanpa sengaja kumuntahkan surat Malia yang belum selesai kubaca. Tadi, ketika tentara datang, aku tidak bisa memikirkan cara menyembunyikan surat tersebut selain menyimpannya di dalam mulut. Sejulur tangan memungutnya. Aku tidak berani mengangkat tatapan. Perang yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Terdengar pemilik sejulur tangan itu membaca surat Malia dengan nada jengekan.

"Lonte," rutuknya. "Jadi kalian mengkhianatiku selama ini?"

Aku mengingat suara itu. Kutengadahkan wajah dan kudapati muka Hanafi yang merah padam.

"Ternyata kalian selingkuh. Antek sialan!"

Sekali lagi tungkainya menghunjamku. Aku tidak sempat menanyakan nasib Malia dan juga masih menduga-duga lanjutan suratnya ketika Hanafi menempelkan ujung pistol ke jidatku. Tidak usah khawatir, katanya, kalian akan bertemu di neraka.

Makassar, 2016


cerita untuk Christine M Udiani

Faisal Oddang, mahasiswa Sastra Indonesia Unhas. Terpilih sebagai penulis cerpen terbaik Kompas 2014 dan Tokoh Seni Tempo 2015 melalui novelnya, Puya ke Puya (KPG, 2015), yang juga memenangi sayembara novel DKJ 2014 dan menjadi Novel Terbaik 2015 pilihan majalah Tempo. Novel terbarunya Pertanyaan kepada Kenangan (Gagasmedia, 2016).
_____________
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Oktober 2016, di halaman 23 dengan judul "Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau pergi".