Oleh: SAMUEL MULIA
Saya ini suka tak habis berpikir kalau melihat begitu banyak orang bisa menjadi pahlawan untuk banyak orang. Mereka berjuang tanpa lelah, diancam tanpa berniat untuk berhenti dan menyerah. Yang satu menjadi pahlawan melawan penjajahan, apa pun bentuk penjajahan itu sampai yang memperjuangkan hak asasi manusia, dan sejuta bentuk perjuangan lainnya.
Serigala
Saya berasumsi, orang-orang yang diberi predikat pahlawan sama sekali tak bercita-cita melakukan kegiatan di atas untuk disebut pahlawan. Mereka hanya memiliki semangat kepahlawanan yang ada dalam diri mereka. Saya jadi ingat penyanyi Mariah Carey pernah mendendangkan kalimat there's a hero if you look inside your heart dalam lagunya yang berjudul "Hero".
Dan, saya berasumsi bahwa dengan memiliki semangat itu, mereka mampu melakukan semua aktivitas yang penuh perjuangan dan yang pastinya melelahkan lahir dan batin. Pahlawan itu mungkin sebetulnya adalah mereka yang sudah dapat menaklukkan ketakutan di dalam diri mereka.
Mereka sudah sampai di tingkat pengenalan diri yang luar biasa. Mereka telah mengerti yang mereka butuhkan dari apa yang mereka inginkan. Karena itu, sebelum perjuangan terjadi, mereka telah memenuhi kebutuhan itu. Maka, kalau sudah begitu, dalam melakukan perjuangan, target mereka hanya ada satu. Menyenangkan hidup orang lain.
Sebab, kalau mereka masih seperti saya yang ogah dan malas berjuang untuk orang lain, dan masih memikirkan untuk memperjuangkan keinginan dan bukan kebutuhan, perjuangan itu akan dijalani dengan banyak kegiatan yang tampaknya mulia, tetapi dilakoni dengan penuh tipu daya.
Mau memperjuangkan orang menjadi manusia yang lebih baik dan mengajak orang ke jalan yang benar, tetapi menjerat yang ditolong pada waktu bersamaan dengan mulut manis dan rayuan yang memanipulasi, sehingga yang ditolong melihat tipu daya itu sebagai sebuah jalan yang benar. Benar-benar jalan menuju jurang, maksudnya.
Nah, mungkin itu juga disebut sebagai sebuah perjuangan yang melahirkan seorang pahlawan bernama serigala berbulu domba. Saya sungguh tak tahu, apakah dalam dunia serigala yang berbulu domba itu, ada juga istilah pahlawan.
Robin Hood
Nah, kalau kalimat yang didendangkan mbak Mariah itu, there's a hero if you look inside your heart, itu benar, kenapa saya tidak bisa seperti mereka-mereka yang menjadi pahlawan untuk orang lain? Apakah di dalam hati saya, kepahlawanan itu tidak ada?
Apakah kalimat dalam lagu itu kelewatlebay, maksudnya hanya sebagai penyemangat, tetapi sesungguhnya itu sebuah hal yang imajiner untuk ditemukan? Apakah manusia yang menjadi pejuang dan diberi predikat pahlawan oleh orang lain itu memang dari sejak lahir sudah memiliki kepahlawanan di hatinya? Apa bentuk hatinya berbeda dari bentuk hati saya?
Di tengah segala pertanyaan itu, kemudian saya berpikir begini. Mungkin saya keliru. Yaa. dimaklumilah, ya. Selama ini saya menulis yaa... karena pengalaman hidup saja, hanya dari membuka mata dan hati, jadi bukan karena belajar di sebuah sekolah atau institusi pendidikan yang lebih tinggi.
Mungkin Mbak Maria itu benar. Saya punya semangat kepahlawanan, saya punya keinginan untuk menolong orang lain. Hati saya tidak berbeda dengan hati seorang pahlawan. Tetapi, kepahlawanan yang ada di hati saya itu sesungguhnya tidak pernah saya pergunakan. Saya tidak melatih kemampuan kepahlawanan itu.
Latihan pertama yang mungkin harus saya lakukan adalah berhenti berpikir bahwa pahlawan itu seseorang yang harus melakukan hal-hal yang besar, yang memikat dunia. Pahlawan itu mungkin hanyalah seseorang yang membersihkan toilet setelah ia gunakan baik di dalam mal atau di dalam pesawat karena berpikir bahwa ada orang lain yang nantinya akan mempergunakan fasilitas itu.
Mungkin saya juga harus berhenti berpikir kalau mau jadi pahlawan itu harus tidak berdosa dan tidak boleh memiliki kekurangan. Pahlawan itu mungkin adalah manusia yang penuh kekurangan, tetapi dengan kekurangannya itu, ia menolong orang lain.
Pahlawan itu bukan korupsi untuk menolong orang lain, meski jadi terlihat seperti Robin Hood, tetapi kalau tidak ada uang untuk menolong, yaa. menyediakan waktu untuk mendengar, menasihati bila perlu atau tenaga untuk menolong. Pahlawan itu tidak menjerat dirinya sendiri dan orang lain.
"Pahlawan itu gak banyak bohongnya kayak kamu. Tiap minggu nulis kayak malaikat, tapi hidup kesehariannya seperti. ah sudahlah. kasihan ntar gakbisa nulis lagi." Demikian nyanyian sumbang nurani saya di hari Minggu ini.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Oktober 2016, di halaman 25 dengan judul "Pahlawan".






0 comments:
Post a Comment