Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2018

Mencintai Indonesia

Haedar Nashir
Harian Republika 29 Oktober 2018

Anda mencintai Indonesia? Penyanyi nyentrik almarhum Mbah Surip menjawab dengan lagu populernya: “I Love You Full”. Cinta sepenuh hati sampai mati. Ibarat kisah romantis Zainudin dan Hayati dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka.

Semua warga bangsa tentu mencintai Indonesia. Namun, ekspresi cinta Indonesia itu beragam dan tidak satu warna. Mungkin ada yang suka menggebu-gebu dan gemar berslogan heroik “Aku Indonesia”, “Aku Pancasila”, “NKRI harga mati”. Ada yang terbiasa melakukan pekik “Merdeka” terutama ketika berpidato. Ada pula yang pamer kaus oblong bertuliskan “I love Indonesia”. Suatu idiom cinta gaya verbal.

Sebagian mengekspresikan cinta Indonesia dengan berbagai upacara dan kegiatan-kegiatan simbolis, seperti pada perayaan HUT kemerdekaan atau hari-hari nasional lainnya. Dari berbagai kirab cinta negeri dan ritual-ritual sosial kebangsaan yang bersifat massal sampai kegitan lomba panjat pinang, balap karung, dan makan krupuk. Bendera Merah Putih dibawa ke mana-mana untuk menunjukkan simbol lekat keindonesiaan. Cinta penuh gembira ala kerumunan massa.

Banyak pula yang tidak suka gembar-gembor menyuarakan “Aku cinta Indonesia” kecuali sesekali ketika dipandang perlu untuk berkata-kata. Tetapi, bakti dan pengorbanannya luar biasa untuk merawat dan memajukan Indonesia. Mereka bekerja gigih untuk rakyat tanpa pamrih memajukan Indonesia.

Mereka menjadi sukarelawan membantu saudaranya yang terkena musibah banjir, gempa bumi, tsunami, dan bencana alam lainnya, bahkan dengan taruhan nyawa. Mereka berkhidmat di sudut-sudut negeri dalam ruang sunyi tanpa publikasi dan retorika sarat citra.

Boleh jadi terdapat pula cinta palsu. Setiap hari lantang menggelorakan cinta NKRI, setia Pancasila, pro-kebinekaan, dan idiom-idiom kebangsaan lainnya yang merah menyala. Pada saat yang sama menyelinap ke seluruh relung negeri mengejar keuntungan diri secara politik, ekonomi, dan akses pamrih lainnya tanpa rasa kenyang.

Di antara mereka haus proyek dan segala akses kuasa untuk menguras bumi, alam, kekayaan, dan hajat hidup rakyat Indonesia. Klaimnya cinta Indonesia, tetapi kenyataannya memperdaya dan menyandera Indonesia!

Eksistensi cinta

Sungguh, ekspresi kecintaan terhadap Indonesia tidak harus sama dan sebangun antara satu warga dengan lainnya. Ketika kecintaan itu diwujudkan dalam bentuk kritik dan pendewasaan tanpa memanjakan, apakah itu bukan cinta Indonesia? Tentu kritik yang konstruktif itu pun merupakan wujud cinta Indonesia agar yang dicintai tetap utuh lahir dan batin serta tidak salah arah jalan.

Cinta sejati bukan memanjakan dan membiarkan yang dicintai terjerumus dalam jurang. Cinta itu menyayangi setulus hati disertai mendidik, mendewasakan, memberdayakan, memajukan, dan membebaskan.

Dalam filsafat eksistensialisme Gabriel Marcel, cinta memerlukan fidelite, yakni sikap setia dalam membangun hubungan dengan yang dicintai. Tetapi, kesetiaan itu, kata sang filosof Prancis, bukanlah taklid minus pendirian. Kesetiaan cinta mengandung kesediaan untuk terlibat dengan keberanian mengambil risiko.

Jangan dibiarkan Indonesia yang dicintai jatuh dan salah kaprah. Seperti mencegah Indonesia dari cengkeraman pihak mana pun, baik domestik maupun asing yang dapat menghancurkan kedaulatan negeri serta menguras kekayaan alam milik rakyatnya.

Kata Marcel, cinta pun harus memiliki sifat engagement, yakni mengambil bagian dalam membangun relasi yang positif. Dalam makna ini, jika cinta Indonesia maka semua pihak harus terlibat dalam mencegah Indonesia dari kemunduran, ketertinggalan, kejumudan, luruh nilai, krisis, korupsi, dan segala perbuatan yang membuat negeri ini jatuh.

Jika benar-benar “Aku Indonesia”, jangan biarkan rupiah terpuruk, ekonomi krisis, politik disandera, perusahaan-perusahaan milik negara disalahgunakan, mafia-mafia impor merajalela, narkoba meluas, penjahat kerah putih beraksi leluasa, para petualang politik dan ekonomi berbuat sekehendaknya, dan segala ancaman masuk dengan leluasa ke negeri ini.

Manakala benar-benar cinta Indonesia, maka “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” seperti spirit dalam salah satu bait lagu “Indonesia Raya”. Bawa, bangun, dan kelola negeri dan bangsa ini dengan amanah yang sebaik-baiknya menuju keadaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana cita-cita nasional yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa tahun 1945.

Baik pemerintah maupun komponen rakyat semua bersatu menjadikan Indonesia benar-benar maju dan berdaulat di segala bidang kehidupan. Bahkan, jika benar-benar cinta Pancasila maka wujudkan kelima sila yang luhur itu dalam kebijakan dan praktik kehidupan nyata, tidak berhenti dalam slogan dan kata-kata indah belaka.

Makna refleksinya, bahwa cinta Indonesia tentu bukan cinta buta apalagi cinta pura-pura alias pura-pura cinta. Indonesia mesti dijaga agar benar-benar layak untuk dicintai.

Cinta Indonesia, cinta NKRI, cinta Pancasila, cinta Bhinneka Tunggal Ika, dan sederet aklamasi cinta yang gempita mesti diwujudkan agar negeri ini benar-benar menjadi unggul, jaya, dan berkemajuan menuju peradaban tinggi sejajar dengan bangsa dan negara lain yang telah maju di pentas dunia. Itulah cinta Indonesia yang murni atau autentik. Inilah wujud cinta sejati, bukan cinta verbal dan komunal.

Indonesia yang dicintai tidak boleh dibiarkan menjadi negeri yang disandera dan digerogoti oleh para koruptor, pengeruk kekayaan alam, petualang politik, tangan-tangan perkasa yang haus kekayaan alam, dan aktor-aktor rakus yang haus kuasa, harta, dan gemerlap duniawi tak berkesudahan.

Sementara, mayoritas rakyat belum menerima keadilan dan kemakmuran sebagaimana didambakan mereka dalam suasana miskin, sulit pekerjaan, marginal, dan tidak menjadi tuan di negeri sendiri. Jika benar-benar cinta Indonesia yang sejati, maka meminjam istilah WS Rendra, jangan biarkan negeri dan bangsa ini seperti “kasur tua”. Cinta sejati tidak ingin menyaksikan Indonesia yang dicintainya hidup nestapa!

Ketika cinta Indonesia digelorakan sedemikian rupa hingga mematikan nalar sehat dan kewajaran, sesungguhnya aura cinta seperti itu sering kehilangan zauhar atau esensi cinta yang penuh makna. Cinta verbal seperti itu rapuh, bahkan ketika bersenyawa dengan kepentingan-kepentingan lain yang eksklusif dan menyelinap dalam nafsu egoisme diri atau kelompok secara berlebihan, boleh jadi malah dapat menumbuhkan aura cinta gelap mata.

Cinta yang mengandung cemburu buta sekaligus kehilangan rasionalitas, akan memandang orang lain sebagai ancaman dan musuh negara hanya karena berbeda ekspresi cintanya kepada Indonesia. Indonesia seakan miliknya sendiri, orang lain dianggap penumpang gelap.

Cinta berlebihan disertai ekslusivitas yang menutup diri akan rasa ketanah-airan jika salah kelola dapat memupuk benih nasionalisme yang ekstrem sebagaimana tumbuhnya ideologi ultra-nasionalisme di Italia, Jerman, dan Jepang pada era Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Nasionalisme yang ultra atau ekstrem menumbuhkan gelora “chauvinisme”, suatu virus yang mematri keyakinan berlebihan (true believing) bahwa bangsa dan negeri sendiri adalah yang paling segalanya dibanding negara dan bangsa lain di muka bumi ini.

Negeri dan bangsa sendiri satu-satunya di muka bumi yang paling unggul, seraya merendahkan bangsa dan negara lain dengan nafsu serbadigdaya. Meskipun negerinya ringkih dan dirundung banyak masalah.

Ideologi ultra-nasionalisme di tiga negara tersebut pada masa itu melahirkan rezim fasis yang totalitarian. Negara atau pemerintah sebagai pusat hegemoni yang absolut, sedang warga negara kehilangan kebebesannya. Pemerintahan fasis yang ultra-nasionalis atau ultra-nasionalis yang fasis itu serbasensitif terhadap kebebasan warganegaranya.

Sedikit saja warganya berbeda pandangan akan dianggap antipemerintah dan dianggap mengancam negara. Pendukung rezim pemerintah pun ikut-ikutan fasis dan ultra-nasionalis sehingga selalu ingin mengawasi, meneror, mengendalikan, dan merepresi siapa pun yang tidak sejalan dengan pemerintah dan paham nasionalismenya yang bergaris keras.

Oleh karena itu, paham ultra-nasionalis di mana pun selalu bermasalah. Sikapnya cenderung represif terhadap pihak lain. Cinta bangsa dan bela Tanah Air diterjemahkan secara monolitik berdasarkan pahamnya sendiri yang sempit, naif, dan meneror. Kelompok nasionalis yang ultra tersebut tidak toleran terhadap perbedaan.

Kelompok lain yang berbeda dengan dirinya akan dianggap ancaman terhadap negara memgikuti pandangannya sendiri yang tertutup. Akibatnya, sikap dan tindakannya pun suka sewenang-wenang atas nama cinta bangsa dan negara, bahkan tak segan melakukan kekerasan atas nama bela negara.

Dalam konteks keagamaan, ketika cinta bangsa dan negara atau cinta Tanah Air dibungkus dengan kredo hubbul wathan min al-iman, yang terjadi malah bias perilaku dan represif. Agama dan iman bukan menjadi ajaran pencerah, sebaliknya sebagai alat pemukul yang sakral. Gampang menuding pihak lain radikal, padahal dirinya sama radikalnya.

Karena paham ultra-nasionalisme yang berlebihan, maka melahirkan ketidakseimbangan antara jiwa keimanan dan cinta ketanah-airan. Imannya menjadi kering karena serbaverbal dan jarang dijernihkan, sementara cinta negerinya serbaekstrem dan berhenti di kulit luar. Dimensi iman yang sublim (jernih dan mencerahkan ruhani) dikalahkan atau bahkan menjadi subordinasi dari nasionalisme yang ingar-bingar.

Akibat lebih jauh bahwa iman sebagai ranah transendensi (melampaui, tak terbatas) yang bersumbu pada tauhid menjadi serbaimanen (dekat, sekuler)dan kehilangan pengaruh nilai ruhaniahnya yang mencerahkan dalam jiwa berbangsa dan bernegara.

Dengan ultra-nasionalisme yang naif seperti itu, maka sensitivitas terhadap simbol-simbol ketuhanan, keagamaan, dan keimanan yang murni menjadi mati suri dikalahkan simbol-simbol verbal nasionalisme yang dangkal. Lafaz Asma al-Husna pun dengan ringan direduksi oleh orientasi ideologi dan politik yang sempit sehingga kehilangan nilai dan maknanya yang luhur.

Paham nasionalismenya yang ultra dan radikal dapat mengalahkan pandangan keagamaan atau keimanannya yang damai dan luhur. Kalimah tauhid dihayati serba dhahir dan tercerabut dari batinnya yang esensial karena dibayangi cemburu buta dan sikap curiga terhadap siapa pun yang dianggap ancaman bagi diri dan negerinya.

Cinta butanya terhadap Tanah Air sampai mengalahkan cinta sejatinya kepada Allah sebagaimana dilukiskan Alquran, yang artinya: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS: at-Taubah Ayat: 24).

Muslim di mana pun, meskipun cinta Tanah Air, niscaya lurus tauhidnya kepada Allah sebagaimana firman-Nya: ”Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-An’aam: 162). Bukankah di antara ciri orang-orang yang beriman, mereka amat sangat mendalam cintanya kepada Allah?

Maka, sungguh merugi manakala ada yang bersikap tahawwur atau nekat dengan meluruhkan iman nan jernih dan mengoyak keutuhan ukhuwah dengan saudara seiman demi cinta Tanah Air yang berlebihan. Padahal, Islam mengajarkan, sebaik-baik urusan ialah yang bersifat tengahan. Lalu, mengapa mesti mengambil jalan radikal untuk mencintai Indonesia dalam sangkar besi ultra-nasionalisme yang usang?

Senin, 02 Juli 2018

Menarasikan Tokoh-tokoh Bangsa

*Menarasikan Tokoh-Tokoh Banngsa*
Indra Trenggono

Nasionalisme adalah "menu" yang kurang diminati kalangan anak muda. Nasionalisme masih termarjinalisasi di atas "meja prasmanan" yang penuh sesak nilai, gagasan, paham, filsafat, atau ideologi yang berbasis pada agama, materi, kapital, dan pasar.

Kalangan anak muda pun terbelah. Mereka yang taat beragama cenderung menyukai atau dekat dengan radikalisme. Adapun mereka yang sekuler cenderung menjadi hedonis atau menyukai hedonisme. Lalu, di mana anak-anak muda yang nasionalis atau penghayat dan pengamal nasionalisme?

Fenomena yang mengkhawatirkan itu bisa kita lihat dari dunia pendidikan. Banyak sekolah berorientasi pada nasionalisme kini susut, surut, bahkan gulung tikar. Ini berkebalikan dengan sekolah-sekolah yang berorientasi pada agama yang semakin menguat. Adapun sekolah negeri, yang semestinya mengembangkan nilai-nilai nasionalisme, tidak sedikit yang terpapar paham radikal.

Sekolah sebagai lembaga yang mendidik mengasah akal budi dan mengajarkan pengetahuan/ keilmuan serta kemampuan teknis bisa disebut garda depan kebudayaan bangsa. Otomatis kualitas, karakter, dan orientasi nilai para siswa lebih ditentukan  internalisasi nilai-nilai dalam sistem pendidikan dan pengajaran yang dijalankan sekolah daripada  keluarga dan masyarakat.

Jika kurang dihadirkan dalam wahana pendidikan formal dan informal, nasionalisme terancam jadi "jimat" dibandingkan ideologi yang bekerja. Sebagai "jimat", nasionalisme dimunculkan hanya dalam ritus-ritus sosial dan politik. Itu pun dengan cara yang kurang menyentuh kesadaran dan memberikan inspirasi.

Melemahnya nasionalisme dan mengecilnya jumlah nasionalis berdampak pada pelucutan identitas, karakter, dan perilaku patriotik warga negara dan penyelenggara negara. Lahirlah masyarakat "anonim" dan pragmatik yang permisif terhadap penguatan segala paham/ideologi non-kebangsaan dan penguasaan aset bangsa atas kuasa modal asing. Akhirnya yang muncul lebih banyak komprador atau kolaborator daripada patriot-patriot sejati bangsa. UU dan regulasi pun otomatis cenderung berpihak pada kuasa modal asing.

Di sisi lain, lenyapnya rasa cinta dan bangga pada bangsa dan negara berakibat tergerusnya integritas, komitmen, dan dedikasi mereka yang punya otoritas atas negara. Terjadi reduksi kepentingan dari publik ke privat melalui korupsi uang dan korupsi politik/kekuasaan. Setiap aktor kekuasaan merasa hanya bertanggung jawab pada diri sendiri dan keluarganya sehingga tidak malu menumpuk harta yang semestinya didistribusikan kepada rakyat. Begitu juga dalam soal akses ekonomi yang dikuasai lebih banyak kelompok elite. Rakyat kian sulit mendapatkannya.

Generasi steril

Kehidupan berbangsa dan bernegara yang nir-nasionalisme melahirkan generasi muda yang "tuna-nasionalisme". Mereka bersekolah, kuliah, lulus, mendapat ijazah dan bekerja hanya bercita-cita jadi orang yang mukti (melimpah harta) dan lupa keadaan kanan-kiri. Mereka jadi steril atas persoalan-persoalan kebangsaan, seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan serta kebangsaan. Mereka pintar, tetapi tidak lantip (memiliki orientasi nilai sosial) dan waskita (memiliki orientasi nilai ideologis-spiritual).

Generasi yang lahir pun lebih banyak generasi "mesin". "Mesin" hanya patuh pada perintah yang mengendalikan dan memberinya bahan bakar. Mereka hanya tahu knop on dan off atau layaknya komputer mereka hanya enter, shift, backspace, save,   tapi lupa hal-hal di luar dirinya.

Mereka pun menyerahkan totalitas dirinya pada gawai, hidup dalam kubangan isu, gosip medsos dari soal narsisme sampai hoaks. Melemahnya daya kritis menjadikan mereka gampang diindoktrinasi paham-paham radikal dan mudah diadu domba. Mereka hanya tahu yang serba tampak dan sedang aktual. Jangan kaget jika mereka gagap mengucapkan sila-sila dalam Pancasila atau menyanyikan lagu "Indonesia Raya". Jangan kaget juga jika mereka tidak paham apa itu Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, Sukarno, Soeharto,  dan presiden RI berikutnya. Apalagi nama-nama menteri. Mereka lebih hafal nama-nama artis atau pemain sepak bola yang sedang populer.

Forum udar kisah

Bahaya terbesar bagi suatu bangsa adalah lupa pada sejarah. Bangsa yang ahistoris tak lebih dari kumpulan besar manusia tanpa orientasi nilai. Bangsa macam itu gampang ditelikung dan dikuasai kekuatan yang mengincar kekayaan negeri ini. Dalam konteks ini, inisiasi sekolah kebangsaan menjadi penting.

Namun, bukan sekolah  kebangsaan yang diselenggarakan secara konvensional layaknya anak didik menghafal teks buku-buku sejarah, melainkan sekolah dengan pendekatan baru. Yakni, proses pendidikan dan pengajaran yang tidak formal, kaku, dan kering, melainkan lebih mendekati sebuah forum udar kisah dan gagasan yang mengutamakan kekuatan narasi.

Selain itu, materi pelajaran tak selalu berupa teks-teks pengetahuan yang konseptual dan abstrak, tetapi teks-teks tentang tokoh-tokoh bangsa. Misalnya ngobrol bareng tentang HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Kartini, Tjut Nya Dien, atau Hamengku Buwono IX.

Narasi tentang mereka berisi tentang karakter para tokoh yang terpantul dari perjalanan dan dinamika perjuangan yang mereka lakukan. Banyak fakta historis berupa sisi-sisi kemanusiaan yang perlu diangkat karena selama ini tak pernah muncul jadi pengetahuan publik. Sambil menikmati minuman dan kudapan, mereka mendengar, memaknai, dan melakukan internalisasi nilai-nilai patriotisme para tokoh bangsa. Selanjutnya dilakukan dialog dengan narasumber dan sesama peserta ngobrol. Kiranya cara ini sesuai dengan gaya anak muda yang tidak suka diindoktrinasi dengan gaya ceramah.

Proses menyimak dan menghayati berbagai narasi mendorong imajinasi mereka hidup, berkembang, dan membuka ranah-ranah kemungkinan yang memperkaya cara pandang. Soal ini, bisa menjadi tebusan kultural atas bangsa kita yang selama ini cenderung miskin imajinasi.

Pola penarasian tokoh-tokoh bangsa, baik secara pemikiran, kepribadian, maupun proses terbentuknya ketokohan melalui paparan peristiwa penting bisa dilakukan berbagai kalangan anak muda dan kantong-kantong sosial-budaya. Tentu dengan pendekatan masing-masing. Yang penting, kisah tokoh itu mengandung nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme, sekaligus watak yang terbangun dalam diri tokoh yang menjadikannya mendarmakan totalitas dirinya pada rakyat dan negara.

Indra Tranggono
Pemerhati Kebudayaan

Kompas, 2 Juli 2018

Sabtu, 24 Maret 2018

Ingin merasakan kehadiaran Tuhan

Ada yang datang membawa cerita "Masa mudaku kurang berbunga-bunga bukan kurang bergaul dan kurang banyak teman, melainkan karena kurang bermain."

"bermain-manilah kalau begitu" kataku.

"itulah, sudah kucoba mengikuti mengikuti gaya hidup orang yang nampak sangat membahagiakan: jalan-jalan, semalaman di tempat hiburan, pesta pora, karaokean, dan lain-lainnya. Tapi entah mengapa, dari setiap aktivitas itu tak sedikitpun ada kerinduan untuk mengulanginya. semua terasa kosong, tak ada makna,  sia-sia. hanya buang-buang waktu saja."

"kalau begitu jatuh cinta-lah"

"Apalagi itu, saya merasa tak punya waktu untuk jatuh cinta." Katanya.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan atau apa yang sebenarnya kau sibukkan?" tanyaku

"Aku ingin merasakan kehadiran Tuhan, benar-benar hadir. aku sibuk mencari cara untuk itu."

"Wah... abottt tenan.. aku yo pengin juga, cuma bedanya belum menyibukkan diri sepertimu dan merasa tak perlu sibuk-sibuk untuk itu" jawabku..

"Kenpa begitu?"

"Entahlah..,!!"

Senin, 19 Maret 2018

Kita Butuh Nyepi

I WAYAN WESTA

Nyepi menjenguk kita kembali, satu perayaan tahun baru Saka yang tak dirayakan dengan ingar-bingar.  Tak ada kembang api dan suara terompet, tak ada tepuk tangan, tak ada pesta jalanan  dengan suara gemuruh. Sungguh antiklimaks dari riuh keseharian  sepanjang tahun.

Dan Nyepi menjadi semacam drama kesunyian di mana kegaduhan dipulangkan ke dalam hening. Dan kita  kemudian menyepakati; Nyepi adalah cara ampuh menge-nol-kan diri. Ke titik inilah  semua drama hidup dikembalikan: dari nol menuju nol, dari sunyi menuju sunyi.
Semua atribut badani diistirahatkan, indria-indria dikendalikan. Ini ritual agung ke dalam diri paling dramatik— poya-poya, nafsu rendah, kerakusan akan materi ditekuk ke titik nadir, bahwa  jalan materi bukanlah tempat bersandar  abadi.

Musuh terbesar

Nun dalam perjuangan paling dramatik itu, lawan paling tangguh  manusia adalah dirinya sendiri. Bukankah globalisasi, kapitalisme, dan konsumerisme telah menyentuh sisi-sisi paling dasariah manusia? Betapa mahalnya hening hari ini di tengah-tengah  revolusi informasi yang telah mengubah penduduk bumi  menjadi homo digital, hal mana dunia bisa direngkuh dalam satu lentikan ujung jari di layar ponsel cerdas. Ini adalah dunia  senyap sekaligus dunia yang gaduh.

Satu misteri bumi  disulap menjadi kian datar. Lewat kebudayaan nirkabel, manusia berhadapan dengan sejumlah kemungkinan dan pilihan. Inilah "durga maya", sesuatau yang dianggap misteri sekaligus menjadi realitas.  Eric Schmidt bersama Jared Cohen, lewat buku bertajuk The New Digital Age,   diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dengan judul Era Baru Digital (2014), mengingatkan kita tentang lompatan besar itu. 

Dalam kata pengantar cukup menegangkan, penulis The New Digital Age itu mencatat, dalam sejarah planet ini, internet-lah eksperimen terbesar yang melibatkan anarki. Setiap menit, ratusan juta orang membuat dan menyerap konten digital yang tak terhitung banyaknya, dalam dunia online yang tak terikat pada hukum bumi. Kemampuan baru berekspresi dan menggerakkan informasi dengan leluasa pun melahirkan lanskap virtual mahakaya yang kita kenal hari ini.

Bayangkan setiap hubungan yang ditempa, setiap perjalanan yang direncanakan, setiap pekerjaan yang ditemukan, juga setiap mimpi yang terlahir, mendewasa, dan mewujud lewat platform ini. Sampai di sini, Jared Cohen bersama Eric Schmidt pun mewanti, "Renungkan juga semua fenomena yang dimungkinkan ketiadaan kendali atas-ke-bawah: penipuan online, kampanye hitam, situs kelompok pembenci, dan ruang-ruang obrolan teroris. Inilah internet, ruang nirpenguasa terbesar dunia".

Krisis kejiwaan dan moral

Dan dalam dunia  yang riuh sekaligus senyap itu Nyepi kita butuhkan untuk mengontrol insting-insting primata kita yang liar, menemukan kemanusiaan kita, menyadari hening  itu menjadi kebutuhan menghaluskan jiwa dari kekasaran-kekasaran libido primata. Lawan ketamakan sesungguhnya adalah kesederhanaan. Satu aras hidup dikendalikan dengan satu kata; cukup.

Itulah Nyepi, upaya terus-menerus merawat jiwa. Hidup bukan melulu menyangkut  soal bagaimana  rasa lapar dan  haus dipuaskan, nafsu-nafsu dikobarkan, semua dikuasai. Dalam semesta hidup ada jiwa yang perlu dirawat,  karenanya ia  perlu nutrisi jiwa (amreta jiwa). Setelah menyadari bekapan tubuh yang rapuh,   jiwa pun sadar, bahwa  sejatinya ia adalah hening, melampaui  kehadiran dan ketidakhadiran. Melampaui masa kini, masa lalu, dan masa depan. Itulah parama artha sunya, jiwa yang mengatasi hidup.

Nyepi adalah persoalan merawat jiwa, persoalan merawat batin di dalam. Dalam kehidupan berbangsa misalnya, kita perlu memeriksa ulang pendekatan-pendekatan pembangunan kita, yang selama ini melulu mengejar pertumbuhan ekonomi.  Willy Brandt, dari TheIndependent Comission on International Development Issues, Leppenas, 1980, jauh-jauh hari telah mengingatkan, mengajukan diadakannya penilaian kembali atas prioritas-prioritas, pertimbangan-pertimbangan non-ekonomi diperhitungkan secara bersungguh-sungguh.

Pertimbangan-pertimbangan non-ekonomi ini penting disadari dalam rangka pembangunan jiwa. Proyek-proyek fisik mesti diimbangi dengan proyek-proyek meta-fisik. Pemberdayaan sedalam-dalamnya peran kebudayaan dan  peran seni dalam pengertian lebih luas akan menyalakan  gen peradaban batin  bangsa ini. Betapa di situ, seluruh dimensi pembangunan tak cuma menyentuh pembangunan fisik, tapi turut serta merawat jiwa anak-anak bangsa.

Krisis semesta hidup yang kita alami hari ini boleh jadi berhulu sumber pada krisis kejiwaan– krisis moral. Karena yang sesungguhnya terjadi jiwa-lah yang lupa kita rawat. Praktik pendidikan  jauh dari spirit pemuliaan hidup. Seperti mencetak robot-robot tak berjiwa. Otak mereka cerdas, tapi jiwa-jiwa mereka lemah, moral mereka tak menyala. Kita lupa mengajarkan kesederhanaan, kita lupa mendidik mereka memaknai hidup, saling menghormati dan bertanggung jawab.  Kita tahu, kemulian itu sejatinya adalah kebaikan-kebaikan kecil yang menyala di setiap sanubari anak bangsa.

Melawan ketamakan diri

Dan kita semua sesungguhnya butuh Nyepi. Kita butuh energi untuk melawan ketamakan diri sendiri. Bila sehari sebelum Nyepi orang Bali menggelar ritual Tawur, makna simboliknya tak semata menggembalikan unsur pembangun semesta hidup untuk menjadi segar kembali, akan tetapi  ini sekaligus menjadi ajang "pertempuran" tak pernah  henti. Pertempuran melawan musuh-musuh di dalam diri,  melawan; ketamakan, kemalasan, kedengkian, kemarahan, kebodohan, dan karakter-karakter rendah lainnya.

Nyepi bukanlah pertunjukan kolosal yang riuh, bukan perjalanan keluar dengan pesta melimpah, penuh sorak gempita. Nyepi menjanjikan bahwa keheningan itu adalah juga nutrisi jiwa, yang terlalu lama kita lupakan. Keheningan yang kelak membuat jiwa-jiwa tersenyum, seperti senyum matahari saat fajar menjenguk. Kita memang telah lama membiarkan jiwa ini tak  menyala, tertekan sejumlah problem tubuh dan mental. Karenanya para tetua  Nusantara-Bali memberi jalan, temukan hening di dalam, saat mana, niat rendah, indria-indria liar bertemu jiwa hening di dalam — di situ semua yang kasar, kembali pada  ke maha-heningan. Itulah sunyi yang membebaskan.

Bila esok hari  Nyepi jatuh bertepatan dengan hari suci Saraswati, hari pemuliaan Tuhan karena telah menurunkan ilmu pengetahuan untuk membebaskan derita hidup manusia, segera kita sadar, tugas penting ilmu pengetahuan itu untuk memuliakan hidup dan mengharmonikan dunia. Tentu hanya mereka yang telah menemukan hening dalam diri bisa melakukan itu– karena ia bebas dari dialektika,  ia telah melampaui tubuh dan pikiran

I WAYAN WESTA
PEKERJA KEBUDAYAAN, TINGGAL DI DENPASAR


Kompas, 16 Maret 2018

Jumat, 16 Maret 2018

Mencari Kabar ”Mutawatir”

Oleh DAMHURI MUHAMMAD
Kompas, 15 Maret 2018


Ribuan  tahun silam, nun di Yunani kuno, filsuf Plato (427-347 SM) menukilkan sebuah kisah yang lazim dikenal sebagai Allegory of the Cave. Tentang sejumlah  manusia yang terkurung dalam gua.

Dalam Politeia (514a-517a)—sebagaimana dikutip A Setyo Wibowo (2010)— Plato menggambarkan satu sisi dari dinding gua itu memantulkan bayang-bayang dari api unggun yang menyala di belakang orang-orang terkurung itu. Oleh karena sekumpulan manusia dalam gua itu berada dalam keadaan terbelenggu—tak bisa menengok ke kiri, ke kanan, dan ke belakang—lalu mereka memercayai bayang-bayang yang memantul di dinding gua sebagai kenyataan yang sejati.

Hingga suatu saat ada yang berhasil membebaskan diri, lalu menengok ke belakang. Ia melihat secara langsung realitas yang lebih asali dari sekadar bayang-bayang di dinding gua.

Dari kisah alegoris itu Plato kemudian merumuskan empat tingkatan pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang didasarkan pada bayang-bayang di dinding gua, yang ia sebut pengetahuan konjektural, alias dugaan belaka.

Kedua, sebagaimana  manusia bebas yang telah melihat kenyataan secara langsung, tetapi masih berada di dalam gua, maka pengetahuan indrawi itu masih diselimuti oleh doxa (opini) atau pistis (kepercayaan). Bagi Plato, jika manusia bebas itu mau bersusah payah, ia akan mencapai pengetahuan sejati, atau dalam istilah Plato disebut noetik.

Meski begitu, noetik tak mudah digapai karena sebelum menggapainya orang terlebih dahulu harus melihat bayang-bayang sebagai simbol dari pengetahuan analitis dan matematis. Dengan demikian, pada level indrawi (di dalam gua) atas dasar obyek indrawi yang dapat dilihat (bayang-bayang atau benda riil), manusia memang memiliki semacam pengertian, tetapi hanya dalam arti konjektur dan doxa. Sementara di level intelligible, di luar gua, manusia dapat meraih pengetahuan rasional.

Alegori platonik itu mengingatkan saya pada lalu lalang informasi di linimasa media sosial semacam Facebook—yang secara kebetulan juga menggunakan istilah ”dinding” (wall)– yang dapat saya umpamakan sebagai  bayang-bayang lidah api di dinding gua, sementara para facebooker adalah orang-orang yang terpenjara di labirin gua.

Para netizen begitu lekas menerima setiap kabar yang muncul sebagai pengetahuan. Padahal, informasi yang berseliweran itu masih diselubungi doxa.

Tak banyak yang bersusah payah untuk membebaskan diri dari kepungan linimasa, akibatnya mutu pengetahuan yang diperoleh tak meningkat ke level intelligible.


Fakta dan fiksi bersenyawa

Inilah sebuah kurun ketika fakta dan fiksi telah bersenyawa hingga sukar dipilah secara jernih. Dukungan dari kerumunan orang bisa membuat dusta beralih rupa menjadi kebenaran. Sebaliknya, kebenaran yang minim pembela bisa terpelanting sebagai bohong belaka. Berangkat dari dunia yang sedang terkeranda oleh semesta keabu-abuan itu, tahun 2016 kamus Oxford memilih terminologi post-truth sebagai Word of the Year.

Menurut catatan Wisnu Prasetya Utomo (2017), jumlah penggunaan istilah tersebut di tahun 2016 meningkat 2.000 persen jika dibandingkan dengan tahun 2015. Di ”dunia pascafakta”—demikian terjemahan Reza AA Wattimena (2017) atas istilah post-truth era—kebenaran tak lagi penting.

Yang dicari adalah kehebohan sesaat. Politisi bisa memenangi pilkada bukan karena ia berpijak pada kebenaran, tetapi karena mampu menghibur massa dengan kebohongan dan kehebohan dangkal.

Oleh karena itu, kata Reza, ”Fakta dan data tidak lagi penting. Yang dicari adalah sensasi yang mengaduk-aduk emosi. Berita di media sosial lebih berpengaruh ketimbang data dan fakta tentang kenyataan. Ini semua lalu menjadi pembenaran untuk kemalasan dan kedangkalan berpikir.”

Maka, terbuktilah kiranya apa yang telah diramalkan filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900) dalam On Truth and Lies in a Nonmoral Sense (1896) dengan konsep army of metaphors. Bagi Nietzsche, yang kita sebut sebagai ”kebenaran” tak lebih dari ilusi tentang sesuatu yang telah dikelupaskan dari diri sejatinya. Nietzsche menggunakan analogi sebuah koin yang martabatnya telah terdistorsi sebagai logam karena simbol dan gambar di permukaan koin itu sudah luntur dan tak dapat dikenali lagi.

Adapun yang mengakibatkan kebenaran terpelanting menjadi ilusi menurut Nietzsche adalah armada metafora, army of methapors, yang di era digital mungkin dapat diamsalkan dengan cyber army atau pasukan buzzer yang saban hari berkhidmat mendistribusikan informasi berdasarkan pesanan, guna membangun persepsi atas kepentingan tertentu. Akibatnya, seperti koin yang hanya tersisa sebagai logam, kebenaran terdegradasi jadi persepsi dan opini.


Melarikan diri

Lalu, masih mungkinkah kita melarikan diri dari gua platonik atau keterbelengguan di dinding linimasa alam maya?

Saya teringat kaji lama semasa di madrasah, nun di pedalaman Sumatera, khususnya perbincangan intens perihal hadis mutawatir. Makna dasar kata mutawatir sama artinya dengan kata at-tatabu’u, yakni ’berturut-turut atau beriring-iringan’.

Mahmud Thahhan (2007) menjelaskan, hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi (orang yang meriwayatkan) kepada semua thabaqat (generasi) yang menurut akal dan adat (kebiasaan) tak mungkin bersekongkol untuk berdusta.

Dari pengertian ini, A Qadir Hassan (1966) kemudian merumuskan sejumlah syarat bagi hadis mutawatir. Pertama, sanad -nya (rangkaian perawi yang mengantarkan materi hadis sampai ke sumber mula-mulanya; Muhammad SAW) harus banyak. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan besaran jumlah perawi tersebut dan pendapat yang terpilih adalah minimal 10 orang.

Kedua, ada keseimbangan jumlah perawi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, jika sanad di generasi terkini berjumlah 50 perawi, maka generasi di belakangnya harus berjumlah sama, begitu seterusnya, hingga generasi sanad yang secara langsung mendengar matan (materi) hadis dari Nabi.

Ketiga, dari semua tingkatan generasi sanad yang sampai kepada sumber pertama, secara rasional dan secara adat (kebiasaan), mustahil mereka melakukan dusta bersama.

Keempat, sandaran kabarnya adalah pancaindra alias pengalaman empiris, yang ditandai dengan kalimat ra-ai-na (kami telah melihat) dan sami’na (kami telah mendengar). Artinya, perawi paling mula sungguh berhadapan langsung dengan sumbernya. Satu saja dari empat syarat itu tak terpenuhi, derajat ke-"mutawatir"-an hadis akan gugur seketika.

Tentang mutu kebenaran hadis mutawatir, jumhur ulama telah menyepakatinya dengan nilai dharury, yakni suatu keharusan untuk mengakui kebenaran informasi, sebagaimana orang yang telah menyaksikan suatu peristiwa dengan mata kepala sendiri. Semua hadis mutawatir adalah maqbul alias dapat diterima sebagai dasar hukum.

Metode verifikasi yang ketat, terukur, dan sudah ratusan tahun bekerja di ranah Ulumul-Hadist ini sangat berguna dalam memilah dan menyaring kabar di jagat maya. Kabar mutawatir dapat menyelamatkan kita dari kepungan doxa dan armada metafora di rimba raya pascafakta.



Damhuri Muhammad,
Pengajar Filsafat Universitas Darma Persada, Jakarta; Tenaga Ahli UKP-PIP

Selasa, 19 September 2017

Logika kekuatan vs kekuatan logika

Dahulu, ada seorang laki-laki tua yang meninggal tak wajar di penjara. Ketidakwajarannya itulah yang membuatnya dikenang, diabadikan sejarah dan menjadi inspirasi serta pelajaran berharga bagi umat manusia setelahnya. Lelaki tua itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan minum racun karena tak ingin berkompromi dengan penguasa yang memintanya untuk berhenti membuat ‘keresahan’ di tengah masyarakat yang menurut penguasa waktu itu mengganggu ‘stabilitas politik’ dan ‘keamanan nasional’.
Keresahan apakah yang dibuatnya gerangan, sehingga penguasa merasa terganggu? Penjahatkah dia?, Pemberontakkah?, Koruptorkah?, Penghianatkah? BUKAN. Lekaki tua itu menyebut dirinya “Aku hanyalah dukun beranak yang membantu orang untuk melahirkan. Bukan melahirkan bayi, tapi melahirkan gagasan.” Sebagai dukun yang bertugas melahirkan gagasan ia menganjurkan pada para ‘pasiennya’ yang kebanyakan anak muda untuk membuka dan mendayagunakan akal-pikirnya agar selalu kritis, terbuka, jujur dan berani mengungkapkan kebenaran.
Profesi sebagai ‘dukun beranak’ itulah yang ternyata dianggap oleh penguasa meresahkan dan mengganggu stabilitas, keamanan dan ketertiban masyarakat umum. Sehingga ia harus menerima hukuman atas ‘kejahatan’ yang dibuatnya yaitu menganjurkan keterbukaan. Ia ditawari untuk hidup bebas dan dipenuhi segala kebutuhan hidupnya asal profesinya ditinggalkan. Tapi ia menolak. Ia memilih mengakhiri hidupnya dari pada harus hidup penoh kebohongan. Dan ketika ia disodorkan sebuah minuman beracun segera diambil dan diminumnya. Perlahan tubuhnya lemas dan akhirnya meninggal dengan senyum ketengangan di raut mukanya. Lelaki tua yang laku hidupnya diabadikan sejarah itu bernama SOCRATES.
Berpuluh, beratus bahkan beribu-beribu tahun setelah itu sejarah memberikan catatan serupa. Ada banyak pejuang, filosof, pemikir, ulama, yang harus mengalami hidup serupa Socrates. Mereka harus menerima hukuman karena ‘dosa’ yang sama yaitu “MENGANJURKAN KETERBUKAAN, KEBERANIAN, KEJUJURAN, DAN KEBENARAN.” Husain cucu Nabi, Galileo, Suhrawardi, Descartes, dan masih banyak lagi pejuang, pemikir dan ilmuan lain yang dianggap meresahkan sehingga harus menanggung hukuman yang berujung pada kematian. Mereka adalah orang-orang yang menganjurkan keterbukaan dan mengedepankan akal sehat atau keuatan logika dalam setiap tindak-tanduk dan laku hidup sehari-hari.
Sedangkan lawan-lawannya adalah orang-orang yang mengedepankan LOGIKA KEKUATAN dan KEKUASAAN. Melalui KEKUATAN dan KEKUASAAN segala yang (dianggap) mengancam jalan, kedudukan dan kenyamanan hidupnya akan dibungkam dan dibinasakan. Bagaimanapun caranya.

Pertarungan orang-orang yang mengedepankan KEKUATAN LOGIKA dan mereka yang mengedepankan LOGIKA KEKUATAN itu masih berlangsung dan bisa kita saksikan hingga KINI dan di SINI...

Minggu, 23 April 2017

Ujian Para Pemimpin Negeri

PUBLIKA.CO.ID, Oleh : Haedar Nashir
Syahdan, suatu saat akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Kapan? "Ketika para pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanat, sementara orang yang amanat dianggap khianat." Demikian sabda Nabi dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah.

Nabi juga mengindikasikan pada situasi kehidupan yang anomali itu, akan tampil sosok-sosok yang disebut Ruwaibidhah. Sahabat bertanya, "Siapa Ruwaibidhah itu"? Baginda Rasul menjawab, yakni "Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad).

Ketika para elite suatu negeri memiliki perangai Ruwaibidhah, maka sejak itulah kekisruhan berbangsa datang silih berganti. Maka, betapap penting isi hati dan kepala para pemimpin yang berongga luas dan kaya. Luas dan kaya ruhani, wawasan, serta pola tindak yang mengandung serba kebajikan layaknya para pemimpin sejati berbingkai kerisalahan. Bukan para petinggi negeri yang kerdil visi dan ruhani.

Para pendiri bangsa di Republik ini dikenal sebagai sosok-sosok negarawan yang cerdas dan menjunjung tinggi kebajikan. Bung Karno, Hatta, Natsir, Kasimo, Ki Bagus Hadikusumo meski sering berbeda pandangan, mereka saling menaruh percaya. Bahkan, tatkala Soekarno tengah berbenturan keras dengan kalangan Islam di tengah badai politik nasional yang kian memanas, tokoh sentral Indonesia itu masih kukuh menetapkan Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Para pemimpin sejati dan negarawan memang memiliki karakter utama, ucapannya dapat dipegang lahir dan batin. Mereka pecinta nilai-nilai kebajikan utama. Sekali mereka berjanji dan mengikrarkan satu hal, mereka menepatinya. Sikapnya kestaria, berani berkorban demi penyelamatan bangsa. Bung Hatta di puncak pengandiannya lebih memilih uzlah dari kekuasaan yang mulai pongah demi keutuhan negeri.

Nilai kebajikan 

Para pemimpin negeri selalu diuji Tuhan atas jabatan dan kekuasaanya. Bahwa  jabatan itu mandat, bukan pulung atau anugerah gratis kekuasaan. Mandat itu amanat yang mesti ditunaikan dengan keterpercayaan tinggi. Dalam menunaikan amanat itu para pemimpin bukan sekadar menunaikan tugas-tugas fungsional, lebih-lebih yang bersifat praktis; tetapi tidak kalah pentingnya menegakkan nilai-nilai ideal kehidupan. Bagimana mengurus negeri dengan prinsip-prinsip bernegara yang benar.

Menjadi para pemimpin partai politik pun tak perlu angkuh diri seakan kekuasaannya milik sendiri dan lepas dari pertanggungjawaban publik. Kedudukan politik tersebut merupakan mandat rakyat, bukan warisan dinasti atau pusaka yang berkeramat. Bukan pula sebagai kendaraan kekuasaan belaka, yang boleh dioperasikan dengan semaunya sendiri. Jadikan partai politik dan kekuasaan sebagai wahana sebesar-besarnya untuk mengurus hajat hidup dan kebajikan publik.

Negara dan kekuasaan itu menurut Plato harus melandaskan diri pada kebajikan, sedangkan kebajikan ditopang pengetahuan. Artinya, dalam mengurus negara tidak boleh lepas dari dasar-dasar kebajikan yang kaya ruhani dan persepektif. Mengurus negara bukan sekadar membangun jagad fisik, tetapi juga ruhani bangsa. "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya", demikian frasa dalam lagu Indonesia Raya. Maka para pemimpin dan pejabat negara harus memiliki idealisasi kebajikan di dalam dirinya dan dalam mengurus negerinya.

Persoaalan bangsa biasanya dimulai ketika para pemimpin negeri kehilangan nilai kebajikan yang mesti ditepatinya dalam kata dan laku. Berikrar tidak akan membela yang salah, malah mengerahkan segala daya dan kekuatan untuk menjadikannya bertahta. Suara lirih hingga nyaring tentang pentingnya nilai-nilai utama dalam mengurus kehidupan orang banyak malah tak mengusik hati karena kuatnya rasa digdaya. Mata air kebenaran tak mampu menggugah kesadaran yang membatu.

Karena prinsip kebajikan, maka para pemimpin negeri memiliki sifat futuwah yang memancarkan jiwa kesatriaan atau kenegarawanan. Dia bunuh ego dan kepentingan sempit dirinya demi kemaslahatan yang lebih luas. Dia legawa menerima apapun yang positif jika hal itu untuk kepentingan bangsa dan negara. Sebaliknya, dia lepas apapun yang dapat menjadi benih kerusakan di tubuh bangsa, meski menyangkut orang terdekat. Belajar adil meskipun pahit. 

Pemimpin agama pun harus menunjukkan teladan dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan. Para tokoh agama dengan ilmu agamanya yang kental jangan larut dalam pesona kebenaran semu karena tingginya hasrat kuasa, kepentingan, dan pesona inderawi. Melarang orang lain mempermainkan dan mempolitisasi Tuhan, Nabi, dan kitab suci malah diri sendiri melakukan hal sama demi kepentingan sesaat. Sama-sama menjual agama dengan harga termurah, samanan qalila.

Mati kesadaran 

Para pemimpin bajik biasanya bertumpu pada kebenaran nurani, selain rasionalitas yang jernih dan cerdas. Nabi mengajarkan agar bertanya pada nurani ketika diri bimbang antara benar dan salah. Hati itu biasanya bening, tak bisa dibohongi. Meski lidah berkata benar dan baik, tetapi hati tak pernah dusta manakala yang terjadi sesungguhnya salah dan buruk. Allah menciptakan hati autentik atau qalbu salim senapas dengan pikiran jernih, yang sama-sama jujur menyuarakan kebenaran dan kebaikan sejati dari Dzat Ilahi.

Namun, biasanya suara hati dan pikiran hati yang jernih sering dikalahkan oleh hawa nafsu yang membara. Nafsu duniawai atau inderawi yang haus akan kedigdayaan ego diri, harta atau materi, dan tahta yang membara melebihi takaran. Pesona duniawi yang satu ini tak kenal agama, suku, ras, dan golongan. Kalangan agama pun bisa terjangkiti, babkan dengan sumir maupun terbuka dengan menggunakan dalil kitab suci, nabi, dan Tuhan yang boleh jadi jauh lebih "khusyuk" ketimbang orang sekuler karena mengalami "sakralisasi".

Ulah ugal-ugalan orang "sekuler" maupun "beriman" yang mematikan suara hati yang jernih sama hasilnya, melahirkan kegaduhan hidup bersama. Mereka biasanya muka badak di jalan salah dengan keyakinan tinggi merasa berada paling benar. Bedanya yang satu memakai nalar verbal yang tampak cerdas di permukaan tetapi sesungguhnya mengecoh kebenaran. Satunya lagi berbingkai dalil agama yang kental ditunjang retorika indah dalam alfabeta "kesucian" yang semu dan memetikan kebenaran hakiki. Menjadi pemimpin kaum beriman malah kasar hati dan mengecoh umat.

Dibalut hawa nafsu sesaat, tidak jarang pikiran verbal menyesatkan pikiran dan tindakan jernih yang bersarang di hati. Meras berada dalam bungkai jiwa berpikir merdeka, yang mencuat malahan pilihan kerdil. Bertahan dalam kebenaran absurd, yang mewujud justru keangkuhan diri. Merasa menjadi insan cendekia atau ulama yang jumawa, tetapi ujaran dan hasil tindakannya kerdil menyalahi kebenaran dan kebajikan yang sublim. Mereka gampang berpandangan ekstrem, padahal  Tuhan mengingatkan bahwa ciri ulil-albab dan orang yang memperoleh hidayah ialah "yang mendengar setiap pendapat lalu mengikuti mana yang terbaik di antaranya" (QS Az-Zumar: 18).

Nalar verbal berbalut nafsu sesaat seringkali mengicuh. Asal kontroversial dan menyempal dari arus umum disebut maju dan melintasi. Tidak pernah dipersoalkan substansi dan hakikat ujarannya. Sudah tahu salah tetap dijalani dan didukung karena yang ada di pikiran adalah kalkulasi-kalkulasi kegunaan yang sarat kepentingan. Kebenaran hanya dilihat dari luar secara verbal, tak pernah diselami hingga ke lubuk terdalam yang hakiki. 

Dunia hanya dicanda dengan nalar syariat yang kering, tanpa masuk ke lubuk hakikat dan makrifat untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi! Karena matahati tertutup hawa nafsu dan nalar verbal yang mengecoh, maka yang tampil adalah sosok-sosok bebal diri yang mati kesadaran ruhaninya. Mereka merasa digdaya atas nama apapun, lalu tebal muka dan tak mau diberi peringatan berbuah kebenaran dan kebaikan yang utama. 

Mereka tumpul akal dan ruhaninya dalam membaca tanda-tanda zaman yang diisyaratkan Tuhan. Semua baru tersentak setelah apa yang terjadi sungguh mengejutkan dan di luar perkiraan, bahwa takdir Allah menentukan jalannya sendiri (QS Al-Hadid: 22): bahwa tidak ada suatu kejadian apapun yang menimpamu kecuali atas ketentuan-Nya, dan bagi Allah semuanya mudah!

Rabu, 19 April 2017

Dalam Kepungan Kisah

DAMHURI MUHAMMAD

Kompas 19 April 2017

Gue sekarang enggak tahu mau apa. Gue bimbang. Kita lihat aja gue berani apa enggak. Mungkin gue akan siarin langsung. Kalo enggak, ya hanya video kenang-kenangan untuk istri gue aja…

Begitu curhatan seorang lelaki yang bermukim di Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebelum ia bunuh diri dengan cara gantung diri, Jumat (17/3/17). Hingga artikel ini diturunkan, video itu masih dapat ditonton di YouTube.

Para netizen gempar karena lelaki itu menyiarkan aksinya secara live di laman akun pribadi. Media melaporkan, sebelum ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, lelaki itu terlibat pertengkaran dengan istrinya dan diduga pasalnya adalah cemburu. Sekilas, peristiwa itu seperti dramaturgi belaka, tetapi amat nyata di depan mata kita.

Orang tak perlu repot berhari-hari membaca guna meraih puncak peristiwa dramatik dari roman percintaan setebal 800 halaman, misalnya. Tak perlu pula datang ke gedung teater menyaksikan kisah cinta berdurasi satu-dua jam. Sebab, dunia keseharian telah menyuguhkan dramaturgi. Dalam sepersekian menit, kisah-kisah dramatik datang silih berganti. Satu peristiwa berlalu, datang lagi peristiwa baru, yang boleh jadi jauh lebih tragik. Begitu seterusnya.

Bermula dari cinta

Dalam arus deras kisah-kisah itu, ibarat menginjakkan kaki di sungai dangkal, sesungguhnya kita tak pernah turun ke sungai yang sama. Air yang menyentuh lingkar tumit kita selalu air yang baru. Air yang kemarin telah mengalir menuju muara. Tak ada kisah yang kekal karena yang abadi hanyalah perubahan dari satu dramaturgi ke dramaturgi baru.

Berselang beberapa hari dari kegemparan yang datang dari Jagakarsa, 20 Maret 2017, dari Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, tersiar kabar tentang pernikahan antara Rokim (24) dan Tampi (67). Kisah pengantin baru dengan selisih usia 43 tahun itu bukan dongeng, melainkan peristiwa yang berlangsung dengan cinta yang utuh dan ijab kabul di hadapan penghulu, 15 Maret 2017-dua hari sebelum lelaki di Jagakarsa bunuh diri-juga atas nama cinta.

“Saya menikahi Tampi karena cinta dan kasihan hidupnya yang menyendiri terus,” kata Rokim, pria kelahiran Nganjuk, sebagaimana dikutip  www.kompas.com (20/3/17).

Disebutkan, Tampi berprofesi sebagai tukang pijat dengan penghasilan tak menentu. Sejak usia 16 tahun, Rokim mengenal Tampi. Jika letih sepulang bekerja, Rokim datang ke rumah Tampi. Rokim mulai menyukai Tampi setahun terakhir. Bermula dari rasa kasihan, lama-lama Rokim jatuh cinta. Apalagi Tampi selalu memberikan perhatian tulus saat Rokim datang ke rumahnya. Meski usia Rokim jauh lebih muda daripada Tampi, pria itu mengaku tidak malu punya istri berusia sepantaran neneknya.

Sekali lagi netizen mengurut dada. Apabila kisah lelaki dari Jagakarsa membuat netizen berduka cita, kisah dari Madiun membawa emosi netizen ke batas antara sedih dan bahagia. Sebagai anak-anak muda yang selalu riang  tentunetizen sulit membayangkan rumah tangga seperti apa yang bakal berlangsung pada pasangan Rokim-Tampi. Namun, sebagai generasi yang masih mendambakan ketulusan cinta di abad milenial, pengantin baru dari Madiun itu dapat membuktikan bahwa keajaiban cinta yang termaktub dalam novel-novel besar dari ratusan tahun silam tak dapat dibantah. Bermuram durja sekaligus gembira. Terperangah sedemikian rupa, tetapi takjub luar biasa pada saat yang sama.

Netizen bagai terombang-ambing di laut lepas. Dilanda takut bakal karam sia-sia, tetapi beroleh harapan bakal terdampar dengan selamat pada saat yang sama.

Dua kisah penting itu bukan hoaks, bukan omong kosong, melainkan kenyataan yang mungkin lebih mencemaskan ketimbang kabar bohong yang selama ini dikhawatirkan. Kisah-kisah itu patah tumbuh hilang berganti.Netizen mustahil mengelak dari kepungannya. Sepanjang hidup masih berdenyut, kisah demi kisah akan terus muncul. Manusia adalah makhluk yang selalu membuat kisah. Bukan kisah rekaan sebagaimana dalam prosa atau sinema-sinema garapan sutradara terkemuka, melainkan kisah nyata yang tak dapat disangkal keberadaannya.

Saling terhubung

Kepungan kisah ini mengingatkan saya pada diskusi kecil bersama Bagus Takwin, pengajar psikologi pada Universitas Indonesia, di Cak Tarno Institute pada 2006. Bagi Takwin, setiap manusia adalah produsen kisah yang di dalamnya ia selalu memegang peran utama.

Kisah itu bernama “diri” (self), pusat dari aktivitas kesadaran sekaligus medan tempat berbagai daya dari luar ikut menyumbangkan cerita guna melengkapi kisah utama itu. Dengan memahami kisah itu, menurut Takwin, kita dapat memahami bahwa “diri” setiap orang senantiasa terhubung dengan “diri” orang lain. Seperti tanda dan lambang dalam sebuah roman-yang merujuk pada berbagai peristiwa di luar roman itu-maka diri manusia juga mengandung berbagai rujukan ke luar pada kehidupannya bersama dengan manusia lain.

Maka, kisah-kisah yang berhamburan saban hari di tengahtengah keseharian kita tak mungkin lepas dari keterhubungannya dengan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Memang, yang melakukan aksi bunuh diri dan menyebarluaskannya secara langsung adalah seorang lelaki di Jagakarsa, tetapi alur, plot, dan karakter yang terkandung dalam kisah itu boleh jadi erat kaitannya dengan kita, orang-orang di sekitar kisah itu. Secara hermeneutik dapat dibenarkan bahwa mentalitas yang rapuh dan ketakberdayaan kita dalam menghadapi persoalan yang semakin runyam di kurun mutakhir ini adalah “panggilan penciptaan” dari kisah dramatik dari Jagakarsa itu.

“Manusia sebagai pembuat kisah” adalah analogi yang digunakan Bagus Takwin untuk menjelaskan konsep diri sebagai identitas naratif  dari  filsuf Paul Ricoeur (1913-2005). Tokoh hermeneutika modern itu berpandangan bahwa manusia memahami identitas pribadinya seperti seorang pembaca memahami identitas dari tokoh-tokoh rekaan dalam sebuah cerita yang sedang dibacanya.

Prinsip hermeneutik mengajarkan, setiap kisah yang lahir dari tangan pengarang tak pernah berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kisah-kisah lain yang muncul sebelum atau bersamaan dengannya. Bagi Takwin, aku yang berinisiatif membuat kisah selalu terkait orang lain yang juga berinisiatif membangun kisah. Dari situ jelaslah bahwa setiap identitas individual selalu bersekutu dengan “identitas kita.”

Dengan begitu, asmara tak biasa Rokim-Tampi adalah juga kisah kita semua. Tanda dan lambang yang terkandung di dalamnya merujuk pada kepasrahan kita menerima kepayahan dalam situasi yang tak banyak memberi pilihan. Tak apa-apa dipandang sebelah mata, asal kita bahagia dalam cinta. Biarlah sawah-ladang saudara-saudara kita di Jawa digempur alat-alat berat guna pembangunan pabrik raksasa, asal Indonesia gemilang masa depannya.

Damhuri Muhammad

Sastrawan; Pengajar Filsafat di Universitas Darma Persada, Jakarta

Sabtu, 18 Februari 2017

Medan Syahid di Jalan Cinta

Farid al-Din Muhammad bin Ibrahim ‘Attar adalah seorang sufi besar dari Persia. Ia dikenal dan terkenal melalui karyanya berjudul “Musyawarah Burung-Burung” berisi tentang kisah perjalanan ruhani dalam mendekati Tuhan yang disampaikan melalui cerita-cerita menarik dan penuh hikmah. Selain itu, Sufi besar yang namanya lebih akrab disebut ‘Attar ini punya karya lain berjudul “Buku Tentang Tuhan” yang didalamnya juga berisi kisah penuh hikmah.


Berdakwah melalui cerita merupakan keunggulan yang dimiliki kaum sufi. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami perjalanan terjal menuju Tuhan dikemas dengan menarik sehingga menggairahkan dan menyadarkan pembaca bahwa Tuhan adalah segalanya. Siapapun yang menangkap pesan dari kisah yang dituturkan kemudian diamalkan niscaya secara ruhani hidupnya kan diliputi penuh kebijaksanaan dan kedamaian.

Dalam sebuah sesi kajian Tasawuf Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) menyampaikan salah satu kisah hikmah yang diambil dari “Buku Tentang Tuhan” karya ‘Attar. Kisah ini berisi perjalanan seorang sufi yang menempuh syahid di jalan cinta pada Allah. Tetapi karena tingkah-lakunya tak bisa dipahami, oleh kebanyakan orang pecinta itu diperlakukan dan dianggap sebagai orang gila. berikut kisahnya:

“Dahulu di Baghdad setiap musim panas, para pedagang disusahkan karena tingkah laku anak-anak muda. Umumnya anak-anak muda itu mengganggu para pedagang dengan mencuri barang dagangannya. Tapi pada suatu musim panas kejadian itu berbeda, anak-anak muda Baghdad tidak lagi mengganggu atau mencuri para pedagang karena mereka menemukan sebuah permainan yang lebih menyenangkan mereka. Saat itu ada seorang yang aneh yang muncul di tengah-tengah pasar kota. Keanehan orang itu mampu memikat anak-anak muda Baghdad untuk mengganggunya sehingga mereka tak lagi mengganggu para pedagang. Orang yang aneh itu namanya Bahlul. Dia tampak luar biasa, tingkah lakunya berbeda dengan kebanyakan orang. Pakaiannya compang-camping serupa dengan pakaian pengemis dan para gelandangan. Dari pakaian yang sobek di sana-sini badan kurusnya terlihat jelas dan terbayang oleh anak-anak muda bahwa Bahlul semacam kerangka manusia yang dibungkus dengan kain yang rusak.

Bahlul mempunyai penampilan yang sangat aneh dan sesekali menimbulkan kebencian orang-orang yang melihatnya. Kecuali pada pandangan matanya. Orang seolah melihat sebuah cahaya memancar dari matanya dan cahaya itu begitu bersinar sehingga tidak seorangpun yang sanggup memandang langsung wajah Bahlul. Bahlul sering berjalan kesana kemari, sesekali ia menganggukkan kepalanya kali yang lain ia tersenyum bahkan tertawa keras. Ia begitu terpukau pada temannya yang tak kelihatan sehingga kadang-kadang ia tidak terganggu dan tak peduli oleh apapun yang ada dan terjadi disekitarnya.

Anak-anak muda tidak mengerti, siapa sebenarnya Bahlul. Kadang-kadang mereka melemparkan batuan kapadanya dan mengolok-mengolok penampilannya. Sebagai balasan Bahlul yang biasa menundukkan kepala dan menutup mata perlahan-lahan mengangkat kepala dan membuka matanya kemudian tersenyum kepada mereka. Reaksi Bahlul sungguh tidak disangka sehinga anak – anak tidak tahu bagaimana mereka harus memberikan reaksi. belakangan mereka mendengar bahwa Bahlul itu adalah orang gila dan perkataan gila itu membantu mereka memahami siapa Bahlul sebenarnya.

Suatu kali, ada seorang pedagang dari Negeri Persia yang biasa berkelana ke beberapa Negeri, namanya Ahmad. Ia berkunjung pada kawanya di Baghdad dan kebetulan melihat anak-anak muda sedang tertawa karena baru saja mengganggu Bahlul. Kemudian ketika Ahmad bertanya “kenapa anak-anak tidak lagi mengganggu para pedagang?” pedagang yang ditemuinya berkata “Berkat Bahlul”. Begitu mendengar kata Bahlul Ahmad tercengang dan berkata “Owh,, ternyata orang itu ada di sini”. 

“Bagaimana anda tahu orang aneh seperti itu” tanya salah seorang pedagang. Ahmad lalu bercerita “Bahlul memang orang aneh, tapi dia sangat terkenal di negeri bagian Timur ketika aku bepergian ke sana” Ahmad diam sejenak memandang sahabat-sahabatnya lalu melanjutkan ceritanya “saya tahu engkau terkejut, kawan. Saya tahu kita semua mencitai Tuhan yang Maha Kuasa. Tapi dari yang saya dengar dan lihat dari kelakuan Bahlul, kecintaan Bahlul kepada Tuhan yang Maha Kuasa jauh berbeda dengan kecintaan kita. Ia berbicara dengan kekasihnya siang-malam seolah ia jatuh cinta pada perempuan yang paling jelita di alam semista dan perempuan itu sudah mencuri seluruh hati dan jiawanya. Ia membawanya kemanapun pergi, berbicara kepadanya  pada waktu bangun dan tidurnya.”

Ahmad menarik nafas kemudian melanjutkan “pada suatu hari kecintaan Bahlul pada Tuhan sudah tidak dapat dikendalikan sehingga ia tinggalkan rumah, pekerjaan dan mulai berkelana. Hanya Tuhan yang tahu apa tujuannya. Sejak saat itu ia betul-betul tenggelam dalam kecintaan pada Tuhan, sehingga ia meninggalkan semua pikiran selain tentang Tuhan, kekasihnya. Ia mengabaikan penampilan dan kesehatannya, ia seolah tak punya waktu untuk dirinya, karena itulah bajunya begitu compang camping, dan rambutnya kusut. Bahlul suatu ketika pernah kedengaran berkata ‘setiap waktu yang dihabisakan, yang tidak dihabiskan untuk memperhatikan Sang Kekasih adalah waktu yang sia-sia’.” 

Mendengar cerita itu kawan-kawannya terdiam, Ahmad pun tidak melanjutkan ceritanya. “ini betul-betul cerita yang aneh” kata salah satu diantara mereka. “memang betul” kata ahmad “Bahlul aneh, hanya sedikit orang yang bisa memahaminya, dan karena itu ia diperlakukan sebagai orang gila. Ia selalu diperlakukan sebagai orang gila hanya karena satu dosa saja yaitu ia tidak bisa dipahami oleh orang lain dan, Bahlul selalu mengalami berbagai penderitaan. Tapi Bahlul menganggap segala yang terjadi pada dirinya berasal dari Tuhan.”

Beberapa hari kemdian, ketika anak-anak yang menggaggu menyebabkan babak belur, Bahlul memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan berangkat menuju Basrah. Tubuhnya sakit, kakinya luka-luka parah. Tertatih ia berjalan menuju Basrah sambil tersenyum dan terus berbicara pada kekasihnya. Ia sampai di pintu Gerbang kota Basrah waktu menjelang tengah malam. Karena tidak menemukan tempat tidur dan kebetulan ia melihat seorang berselimut berbaring didinding kota Bahlul meletakkan tubunya di samping orang berselimut itu kemudian tertidur.

Pada pagi hari, ketika Bahlul mau membuka mata ia merasakan ada tombak tajam hampir menusuk bahunya dan ketika membuka mata ia melihat sudah dikelilingi sekelompok tentara. Di sampingnya, ada sebuah mayat yang sudah tertutup darah. Rupanya Bahlul semalaman tidur di samping mayat.

Bahlul dituduh sebagai pembunuh dan ringkas cerita ia dibawa ke pengadilan. Karena pembincaraannya tidak bisa dipahami maka Bahlul divonis hukuman mati. Hukumannya adalah digantung. Ketika hendak dilakukan eksekusi, tali gantungan sudah menjerat lehernya tiba-tiba seorang datang meminta agar Bahlul dibebasakan. Orang itu mengaku sebagai pembunuh mayat yang tidur bersama Bahlul. Kemudian kedua-nya dibawa ke pengadilan. Bahlul pun di bebaskan.

Saat di pengadilan, seorang hakim penasaran kemudian bertanya pada Bahlul, “apa yang menyebabkanmu begitu tenang meski tali gantungan sudah menjerat lehermu? Apakah karena kamu yakin kalau kamu tidak akan dibunuh?.” Bahlul menjawab “ketenangan ini, bukanlah karena keyakinan karena aku tidak akan digantung. Tetapi karena aku yakin bahwa apa yang diputuskan Allah kepadaku pastilah yang paling baik. Karena itu aku menyerahkan seluruh kehendakku pada kehendak-Nya. Inilah yang membawakanku kedamaian dan ketenangan tuan Hakim.”

Sekali lagi hakim bertanya “apa doa terakhir yang kau panjatkan sebelum lehermu dijerat oleh tali gantungan itu?”. 
“saya tidak berdoa seperti yang kalian maksud. Karena seseorang yang percaya pada Tuhan tahu bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu. Bukanlah tugas kita untuk meminta-Nya mengubah jalannya peristiwa yang telah ditentukan-Nya. Untuk para pecinta Tuhan, apa pun yang terjadi adalah yang paling baik.” Bahlul berhenti sejenak lalu melanjutkan “sebetulnya apa yang aku lakukan adalah berbicara pada Tuhanku. Aku katakan bahwa Tuhanku tahu betul bahwa aku sangat mencintai-Nya dan apapun yang Dia lakukakan padaku tidak akan mengubah kecintaaku pada-Nya kecuali kalau Ia ingin agar cintaku ini berubah. Sekiranya Ia memilih untuk mengirimku racum yang pahit sekalipun aku akan menegukknya sebagai madu yang manis dan sebagai hadiah yang berharga.”

Demikian, wallahu a’lam.

Rabu, 15 Februari 2017

Merawat Marwah Kebinekaan

FATHORRAHMAN GHUFRON 

15 Februari 2017


Kebinekaan adalah kosakata lama yang selalu menyejarah di setiap lipatan zaman. Ia hadir sebagai pemandu jalan kehidupan yang di dalamnya terselip banyak ekspresi dan cara manusia memanifestasikan eksistensinya.


Dalam konteks Nusantara, kebinekaan diperkenalkan oleh Sutasoma untuk menganggit sekian rupa, warna, dan corak yang terbangun dalam relasi sosial antar-individu dan kelompok. Bhinneka Tunggal Ika adalah gagasan sublimatik Sutasoma yang diresonansikan sebagai cara untuk mempertemukan banyak manusia yang tersebar di berbagai kawasan di bumi pertiwi.

Secara senada, apa yang ditegaskan Sutasoma terlansir pula dalam berbagai kitab suci yang menjadi basis ajaran setiap umat beragama, bahwa dalam keragaman dibutuhkan semangat menjembatani (bridging) melalui perkenalan (taaruf).

Dalam proses perkenalan ini, tentu tiap-tiap pihak harus memahami bagaimana sebuah ciri dan tipologi yang melekat pada diri masing-masing orang. Tiap-tiap pihak juga harus mengerti bahwa setiap orang lahir ke dunia sudah dilingkupi oleh perbedaan yang kaya rasa dan selera.

Oleh karena itu, setiap orang harus mengimprovisasi dirinya dengan baik melalui cara adaptasi dan kontekstualisasi yang menempatkan setiap pihak dalam semangat ke-kita-an (nahnuwiyah).

Dengan demikian, ketika kebinekaan sudah ditakdirkan sebagai bangunan sosial yang mengakomodasi aneka perbedaan, dan melalui perbedaan setiap orang perlu menjalin titik temu dan titik lebur agar tercipta rasa saling menghargai, lalu masih adakah di antara kita yang masih menuntut adanya keseragaman cara pandang, cara berpikir, dan cara berperilaku dalam mengekspresikan eksistensinya? Baik eksistensi dia sebagai pemeluk keyakinan, umat beragama, suku, maupun ras, dan sebagainya.

Meretas kegagapan aksiologis

Dalam sebuah penelitian akademik yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah di banyak daerah dikemukakan bahwa perihal kebinekaan yang disadari oleh masyarakat Indonesia masih bersifat normatif dan bahkan cenderung eksklusif.

Realitas ini menunjukkan bahwa sebenarnya kebinekaan itu telah diketahui oleh masing-masing orang. Ketika masing-masing orang ditanya tentang kebinekaan, sebagian besar dapat menjawab bahwa kebinekaan merujuk pada posisi setiap individu yang beragam. Secara kognitif, kebinekaan sudah menjadi bangunan pelafalan yang tak dapat diragukan.

Meski demikian, ada persoalan sangat mendasar yang bisa dicermati dari hasil penelitian PPIM di atas. Bahwa dalam praktiknya, kebinekaan tersebut tidak berpengaruh dalam perilaku setiap orang ketika berinteraksi dengan banyak pihak. Ini artinya, apa yang diketahui tentang arti sebuah kebinekaan berbanding terbalik ketika berhadapan dengan kenyataan.

Tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang di balik layar berkoar-koar tentang kebinekaan, tapi ketika berada di hadapan banyak orang justru mencemari praktik kebinekaan itu sendiri. Banyak di antara masyarakat kita yang masih mengalami kegagapan aksiologis ketika kebinekaan perlu dijadikan sebagai proses saling mengenali dan memahami.

Bahkan, tak terhitung pula, bagaimana tindakan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan hanya karena pihak lain tidak sebangun keyakinannya dengan dirinya. Merujuk pada pemikiran Edwin N Wilmsen dalam buku The Politics of Difference: Ethnic Premise in A World of Power seakan-akan kebinekaan hanya menjadi politik perbedaan yang menekankan sebuah kontestasi masing-masing individu dengan motif menonjolkan dirinya sembari meminggirkan pihak lain.

Belum lagi ingar-bingar media sosial yang secara masif di antara kita menggelorakan diksi kebinekaan. Namun, ketika berhadapan dengan yang liyan, setiap orang nyaris terlibat dalam baku hantam psikologis dengan cara menghujat, mencemooh, dan perang kata-kata fitnah (hoax). Bahkan, untuk sekadar menyatakan bahwa dirinya adalah paling benar, di latar kata-katanya diselipkan sekumpulan dalil sebagai basis legitimasinya.

Di ruang media sosial yang penuh dengan absurditas, kebinekaan hanya dijadikan jargon eksistensial secara sepihak yang digambarkan sebagai penegasan bahwa dirinya memang berbeda dengan pihak lain. Namun, sayangnya perbedaan sering kali digunakan sebagai alasan untuk membangun jarak ketika berhadapan dengan pihak yang tak  satu iman, tak satu suku, tak satu kelompok, dan tak satu paham dengan pandangan dan pemikirannya.

Padahal, sudah jelas kitab suci semua agama menegaskan perlunya saling mengenali dalam perbedaan agar antara satu dan lain bisa saling menghargai. Akan tetapi, mengapa ada pandangan lain yang masih mengatasnamakan ajaran agama, bahwa ketika tak satu iman dengan pihak lain lalu dikatakan kafir? Ketika tak satu kelompok lalu dikatakan murtad? Ketika tak satu ideologi lalu dikatakan sebagai musuh?

Di sinilah problem kegagapan aksiologis selalu berlangsung dalam kehidupan masyarakat. Menjadi wajar apabila asosiasi antropolog Indonesia menyatakan bahwa kebinekaan di Indonesia kian terancam. Kebinekaan yang menjadi warisan sejarah Nusantara yang terbukti mampu menyatukan seluruh komponen bangsa Indonesia lamat-lamat mulai terkikis. Oleh karena itu, agar marwah kebinekaan ini tetap terjaga dan terawat dengan baik, diperlukan spirit pelibatan empatik (empathic engagement) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Pelibatan  empatik

Dalam kaitan ini, untuk menumbuhkan spirit pelibatan empatik, kita harus memahami dan menyadari keberadaan identitas kita sebagai warga dan bangsa Indonesia. Tidak sepatutnya apabila yang dikedepankan adalah semangat parokialisme-semacam narasi keumatan ataupun etnisitas-yang selalu membentangkan egosentrisme. Sebab, merujuk pada pandangan Amin Malouf dalam buku In The Name of Identity, sesungguhnya setiap individu adalah titik temu bagi banyak pertalian yang berbeda.

Lalu, yang menjadi tantangan kita dalam menumbuhkan spirit pelibatan empatik dalam kebinekaan adalah bagaimana kita mampu menghadirkan sosok individu yang pada dirinya bersemburat aura kedamaian dan kesejukan sehingga pihak lain yang berada di sisinya justru menjadi pelengkap dari segala kekurangan yang dimiliki.

Dalam spirit pelibatan empatik, merujuk pada pandangan Prof Alberto Gomes, yang diperlukan adalah bagaimana kita mampu merasakan, mengimajinasikan, dan mengidentifikasi suka dan duka orang lain.

Dengan cara ini, kita akan mampu menyadari dengan penuh hikmat dan bijaksana bahwa sesungguhnya diri kita yang menjadi titik temu bagi banyak pertalian harus menjadi modal sosial yang bisa merajut sekian perbedaan untuk saling memahami dan mengapresiasi.

Pada posisi ini, kita akan selalu melakukan refleksi diri perihal bagaimana menempatkan diri orang lain ke dalam diri kita, bagaimana merespons permasalahan sosial yang ada di lingkungan kita, dan sekaligus bagaimana menempatkan diri kita sebagai problem solveryang menenteramkan bagi semua pihak.

Apabila upaya ini bisa kita lakukan dengan baik, maka marwah kebinekaan yang sudah diwariskan oleh Sutasoma dan nilai keluhurannya ditegaskan dalam banyak kitab suci akan bisa terawat dan terjaga dalam kehidupan kita sepanjang masa.

Fathorrahman Ghufron 
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga; Wakil Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Februari 2017 di halaman 7 dengan judul "Merawat Marwah Kebinekaan".

Sabtu, 11 Februari 2017

Apakabar aksi bela-bela?

Dipenghujung 2016 aksi bela Islam mampu menarik perhatian. Dari ibu sampai anak-cucu kota - bahkan sebagian dari desa/kampung - ikut menyemarakkan aksi super damai yang dipusatkan di Jakarta pada 2/12/2016. Ada yang menyebut, massa aksi tersebut adalah yang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Tak tanggung-tanggung jumlahnya lebih dari 7 juta.

Selain aksi tersebut, di 2016 juga muncul aksi bela yang lain yang tak selalu berbentuk demonstrasi: seperti bela pancasila, bela negara, bela rakyat, bela ulama, belah buruh, bela petani, dan aksi bela-bela sekawannya.  Olehnya, tidak keliru jika 2016 dinobatkan sebagai tahun bela-bela.

Di era informasi yang menbanjir begitu deras perhatian publik pun cepat berubah. Dampaknya setiap gerakan yang muncul baik sosial, budaya, politik, ekonomi, dll., dst., pun juga bersifat sementara. Apa yang diviralkan di media mendapat perhatian publik tetapi ketika fenomina lain muncul dan diviralkan yang sebelumnya dilupakan. Bersamaan dengan itu masalah yang diperjuangkan juga tak dipikirkan sampai tiba saatnya muncul gejala serupa dan kita baru sadar bahwa masalah yang lalu ternyata tak terselesaikan.

Begitulah, tampa disadari secara perlahan kita hanya sibuk mencari masalah dan mempermasalahkan tanpa pernah serius mencari jawaban apalagi menyelesaikan masalah. Akumulasi dari masalah-masalah yang ditabung itulah sepertinya yang kemudian menggunung dan kini kita memanin buahnya. Karena yang ditabung masalah maka buahnya pun berupa masalah.

Kini, kita baru mengetahui bahwa di semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara bermasalah. Sektor politik, hukum, keagamaan, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, energi, agraria, kesehatan, dan sektor lainnya penuh masalah. Maka muncullah beragam aksi bela di semua sektor sebagai bentuk luapan emosi pada keadaan yang (dirasa) menyesakkan.

Dalam sebuah tulisan, Kuntowijoyo pernah bilang kurang lebih begini "ketika masalah kini dirasa sangat menyesakkan dan tak kunjung dijumpai solusinya, maka banyak orang yang merindukan masa lalu." bersamaan dengan itu orang-orang ada yang berimajinasi  untuk membandingkan dengan keadaan saat ini yang kacau "kalau dulu begini, kalau dulu begitu, kalau dulu tidak begini dan tidak begitu,  andai saja dulu tidak begini dan tidak begitu".

Selanjutnya, dalam kebingungan menghadapi masalah saat ini, masa lalu yang dianggap lebih baik ingin dihadirkan sebagai solusi. Bahkan yang meninggalpun ikut bangkit dan aktif di media kekinian dengan sering bertanya "Piye, penak Jamanku toh?".

Nampaknya, saat ini kita baru sampai pada tahap mengetahui bahwa tabungan masalah sudah menggunung. Tetapi belum pada tahap menyadari. Olehnya, keingininan untuk menyelasikan masalah masih dibarengi dengan semacam fanatisme yang membuat solusi yang muncul dari diri dan kelompoknya dirasa paling segalanya. Yang agamawan merasa bahwa masalah saat ini hanya bisa diselesaikan dengan mengikuti petuahnya, yang politisi, ahli hukum, ahli ekonomi, ahli budaya pun juga berpandangan bahwa pendekatan berdasarkan keahlian mereka masing-masing yang bisa menyelesaikan. Dalam setiap kelompok keahlian masing-masing itu diam-diam mereka menertawakan dan meremehkan keahlian  kelompok yang lain.

Kalau masih seperti ini, aksi bela ini dan bela itu seberapun maraknya hanya akan menjadi seremoni insidental yang tak akan menjawab persoalan..