Oleh: JEAN COUTEAU
Selama ini aku tidak pernah punya masalah apa pun dengan kau, Indonesiaku. Kau dan aku, kita memang tidak ada problem, kan? Biar pun aku orang luar. Lihat pengalamanku ini: aku lahir puluhan tahun yang lalu di depan kastel besar sebuah kota zaman Pertengahan Perancis, dan kini sibuk berceloteh dengan kau di halaman budaya surat kabar satu negeri-negerimu-yang tadinya, ketika saya kecil, hanya eksis di benakku sebagai negeri dongeng yang dihuni wanita bertelanjang dada.
Menarik, kan? Meski aku tidak menceritakan apa yang terjadi setelah kelahiranku itu, ketika aku berjubahboubou di pinggir Sungai Niger di Mali, atau minum ouzo di pulau Yunani yang berlangit biru! Tetapi, saya tahu bahwa kau tidak apa-apa. Kau menerima kelainan yang asingku itu. Kau sangat "luwes" dengan aneka tingkahku dan aneka baju kultural yang aku tampilkan itu. Apakah sebagai warisan, adaptasi, atau pemahaman intelektual, kau selalu bersedia menerima apa pun-bahkan yang paling asing pun-tanpa pernah menolaknya. Kau tidak pernah menuduhku bertopeng karena alasan ini atau membohongi kau karena alasan itu. Maka, Indonesiaku, berkat sikap terbukamu ini, aku bisa, di negerimu, memberikan bentuk lain pada impian universalku, yang lahir nun jauh di Barat sana.
Lebih-lebih lagi, kau berikan pada impianku itu suatu warna khas, yang hanya ditemui pada diri kau: Aku bisa bertakziah takzim di masjid, berdoa untuk keselamatan dunia di gereja Katolik, merenungkan pengorbanan Abraham di gereja Protestan, memikirkan dinamika Bhwana Agung di biara dan pura, atau, lebih sederhana lagi, berdiri bengong di hadapan pemandangan hampa. Sama saja. Apa pun sikapku di rumah ibadah di atas, atau di hadapan kehampaan, kau diam, bersenyum saja, menikmatinya. Apakah kau memang tak terlalu peduli tentang rahasia keyakinan pribadiku? Dan, tentang Apa atau Siapa yang aku harapkan menjadi juru kunci Kebenaran yang tak tergapai itu? Tidak! Kau peduli, Indonesiaku, tetapi kau tak terganggu melihat di dalam diriku seorang lintas batas yang masih mencari-cari Batas Tak Terhingga. Kau membiarkan pencarian itu menggenangi diriku secara halus, bukan untuk menjelma menjadi suatu Kebenaran absolut, berikut kutukan dahsyat yang dijanjikannya, tetapi hanya sebagai suatu upaya, upaya "menuju" tanpa henti-hentinya. Menuju ke mana? Ya! Itulah pokok masalahnya. Apalagi, jawabanku pun tidak jelas. Tetapi, dalam heningnya pikiranmu, kau pasti sudah ketahui, kan? Bahwa "menuju" lebih bijak daripada "mencapai". Karena tidak bermuara pada kekecewaan, melainkan pada harapan! "Menuju" adalah tujuan yang membuka kita pada segala kemungkinan.
Indonesiaku, aku amat mencintaimu, tetapi kini aku ingin bertanya. Bukankah keterbukaan yang saya puji dan selama ini kau pegang teguh, bukankah semakin kendor. Lihatlah! Hingga baru-baru ini kau tidak pernah memberikan nama pasti pada sila ke satu dari Pancasila-mu itu. Kamu cukup membiarkan rakyatmu menamakannya. Dengan lain kata, kau membantu rakyat itu "menuju" ke Yang Mahatunggal itu, tanpa menunjukkannya. Alhasil, sang Mahatunggal ini menunggalkan mereka yang berbeda, bukan memisahkannya. Tidak mengherankan bila hingga kini negerimu tetap bersatu.
Namun, jangan-jangan kau sekarang ini salah jalan, Indonesiaku. Kini saya mulai khawatir bila kau terbawa angin yang salah, menuju badai yang terlihat mendekat dari horizon Barat sana. Agaknya kau kini kian sering membiarkan Kebenaran absolut mengambil tempat sang Mahatunggal. Kau membiarkan kata ganti "kami" yang eksklusif menggantikan kata "kita" yang inklusif-dengan masing-masing: "busana kami", "kitab kami", "sekolah kami", real-estate kami, "hukum kami". Aku bertanya: dengan kami itu, bukankah akan cepat muncul pula kata "mereka"-yaitu mereka yang "lian" itu: para kafir, pagan, dan sebagainya. Maka, apakah aku kini harus bersiap-siap menjadi "lian" di antara "lian-lian" yang lain. Tergantung sikapmu, Indonesiaku.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Oktober 2016, di halaman 23 dengan judul "Jangan Aku Jadi"Lian", Indonesiaku".






0 comments:
Post a Comment