Tampilkan postingan dengan label Caper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caper. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Sekedar Catatan tentang Ngaji Filsafat


Ngaji Filsafat yang dilaksanakan di Masjid Jendral Sudirman sejak april 2013 merupakan kegiatan unik dan menarik. Unik karena acaranya dilaksanakan di Masjid dan menarik karena “Filsafat”.
Untuk ukuran sebuah Masjid, acara tersebut terbilang “aneh” karena selain acara pengajian atau sekawannya yang memang berbasis di Masjid, di beberapa masjid lain di kota Yogyakarta yang lebih mudah dijumpai adalah kajian-kajian praktis dan populis berlabel syariah seperti: Keajaiban Sedekah, Menguak Keajaiban Rezeki, Pelatihan Sholat Khusyu, sampai diskusi tentang Jodoh pun ada. Tetapi itu tidak dilakukan di masjid ini.

Masjid Jendral Sudriman justru memilih ‘Filsafat’, sebuah disiplin yang dalam asumsi sebagian orang njlimet, rumit, membosankan atau bahkan ada yang beranggapan menyesatkan. Maka, tidak keliru kalau ada yang bilang ‘dimana ada kajian filsafat di situlah selalu sepi peminat’.
Bagaimana dengan Ngaji Filsafat?
Tulisan ini brojol dari kekagetan. Dalam Ngaji Filsafat, saya termasuk santri generasi awal. Sekitar satu, dua, tiga, empat sampai sekitar tujuh bulan pertama acara itu dirutinkan saya sering hadir, meskipun tidak selalu. Setelah itu, karena berbagai hal yang  sudah lupa apa saja ‘hal-hal’ itu saya semakin jarang hadir, salah satu yang saya ingat adalah karena acara itu mulai disebarkan ke internet melalui rekaman dan bisa diakses oleh siapa saja, saya kemudian lebih memilih mengunduh rekaman itu dan menyimaknya sabagai pengantar tidur. Pada masa awal sampai satu tahun pertama, acara itu lebih sering dilaksanakan di ruang kelas samping markas takmir. Waktu itu selain dapat suguhan materi dari Pak Fahrudin Faiz, takmir juga menyuguhkan Teh dan aneka macam makanan ringan: kadang kacang rebus, kadang gorengan, kadang roti bakar, dan kadang ketiganya atau lebih. Dulu, yang sering menjadi pembuka acara itu Selain Mas Yaser ada juga Mas Angga.
Selain ‘Ngaji Filsafat’ Masjid Jendral Sudirman punya agenda lain yang juga diadakan pada tahun 2013, diantaranya: Ngaji Serat Jawa oleh Ki Herman Sinung Janutama, Kursus Macapat bersama Ki Muhammad Bagus Febriyanto, dan kalau tidak salah pernah ada juga sekolah Tari Jawa (sepertinya yang ini baru ide, tapi di MJS pernah ada acara yang menghadirkan komunitas Joget Mataram—saya lupa.) Selain itu, pada 2013 akhir atau 2014 pernah juga diadakan acara Ngaji Kapitalisme, pernah ada agenda menculik tokoh atau ilmuan yang ke Jogja, diantara yang pernah diculik adalah Evi Idawati, ia diminta untuk memaparkan tentang karya yang baru diluncurkan, juga pernah menculik Yasraf Amir Piliang. Pada saat Prof Mulyadi Kartanegara ngisi acara di UIN Sunan Kalijga, oleh Mas Yaser saya disuruh untuk memintanya mampir ke MJS. Prof Mulyadi melalui media sosial katanya sudah mengetahui acara-acara yang diadakan di MJS, dan beliau sangat mengapresiasi, saat diminta untuk mampir mengisi di MJS Prof Mulyadi bilang “Saya tidak berjanji mas, tapi nanti sore atau malam coba konfirmasi lagi ya, ini catat nomer saya..” Saat saya konfirmasi, Prof Mulyadi ternyata tidak bisa hadir ke MJS, dan sejak saat itulah saya punya nomer hpnya Prof Mulyadi (tapi kayaknya nomer istrinya,..).
Diantara berbagai kegiatan itu, “Ngaji Filsafat” merupakan kegiatan yang benar-benar rutin, dan masih berlangsung hingga kini. Tiap episode peminatnya tidak pernah berkurang, bertambah sering. Di tahun 2015 dan 2016 saya hanya beberapa kali hadir di acara Ngaji Filsafat, biasanya kalau ada teman ke Jogja atau kenalan baru saya mengajak untuk memperkenalkan acara itu. acaranya sudah tidak di kelas lagi, tapi dipindah ke Masjid. Saya masih sering ke MJS, tapi kalau acara lain, seperti Ngaji Bersama Cak Kuswaidi Syafii atau Ngaji al-Hikam bersama K.H Imron Jamil, belakangan hadir juga di acara Ngaji Postkolonial yang diisi oleh Katrin Bandel.
Setelah sekian bulan tidak menghadiri itu, Rabu 11 Januari 2017 saya menghadiri kembali, dan sesampainya di MJS saya sedikit kaget dan bilang pada teman “Kok Banyak sekali yang hadir,.!!”. Di dalam, saat Pak Faiz lagi asik menyampaikan ceramah filsafatnya tentang Sunan Kalijaga yang sesekali disambut gelak tawa oleh jamaah, saya tak bisa konsentrasi karena masih bertanya-tanya “Kok Banyak Sekali Ya,” ada teman yang bilang “ceweknya banyak juga ya sekarang..” saya membatin “sepertinya bagus kalau diantara mereka ditanya apa kira-kira yang membuat mereka tertarik mengikuti acara ini..?”, selepas acara, kepada Mas Ain, saya bilang lebih kurang “kayaknya ini bagus kalau dibikin tulisan semacam reportose berisi testimoni peserta ngaji ini tentang ngaji filsafat ini,” Mas Ain hanya ketawa sangat bahagia entah karena menanggapi saya atau karena ada yang tanya  “kenapa istri Mas Ain mau menikah dengan sampean,? apa kira-kira yang dilihat dari Sampean Mas?”
Kembali ke: Bagaimana dengan Ngaji Filsafat?
Dalam episode awal Ngaji Filsafat, Pak Faiz pernah bilang “Semua orang itu harus jadi filosof, tapi tidak mesti jadi ahli filsafat”. Sepertinya pernyataan itu disampaikan dalam konteks pengertian filsafat secara etimologi yaitu “Cinta Kebijaksanaan”, dalam pengertian ini Pak Faiz membedakan antara ahli filsafat dan filosof. Orang yang mengetahui tentang sejarah filsafat, hafal nama-nama tokoh dan dan pandai membual tentang teori-teori filsafat bisa disebut ahli filsafat,tetapi mereka belum tentu filosof. Filosof adalah mereka para pecinta kebijaksanaan, dan dibuktikan dengan laku hidup yang penuh kebijaksanaan. Apa itu kebijaksanaan?, silahkan dengarkan saja rekaman Ngaji Filsafat edisi awal atau baca buku Filosof juga manusia yang ditulis Pak Faiz.
Pernyataan Pal Faiz, membekas diingatan sebagaimana aneka makanan ringan yang dulu disuguhkan tetapi sekarang hanya tinggal suguhan teh/kopi. Mendengar pemaran Pak Faiz mengurai tentang teori-teori filsafat dengan gaya dan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami akan membuat siapapun (atau mungkin hanya saya ya...?) berhenti beranggapan bahwa filsafat itu adalah disiplin yang njlimet dan susah dipahami. Inilah yang menurut saya menjadi pesona tersendiri yang membuat Ngaji Filsafat ini selalu memiliki jamaah melimpah dan cenderung bertambah. Pak Faiz mampu menyadarkan jamaah bahwa Filsafat bisa dipelajari siapa saja, bisa dipahami oleh siapa saja, dan siapa saja bisa jadi filosof.
Selain itu, menarik jika ngaji filsafat ini dikaitkan dengan fenomina diluar dirinya. Antusiasme yang mayoritas adalah anak muda-mahasiswa pada aktifitas ini  adalah gejala unik yang secara sosial berkaitan dengan perubahan sosial-budaya. Pertama, Dalam kebudayaan masyarakat kini dan di sini gejolak perubahan besar yang terjadi telah begitu giat merampas sendi-sendi kearifan hidup. Di sana-sini, bangunan fisik yang hadir mengelilingi kota bukanlah tempat-tempat “beradab” seperti museum, toko buku, perpustakaan, dan taman-taman bacaan. Akan tetapi, pusat-pusat belanja, restoran mewah, distro, salon, hotel, dan segala tempat yang lebih mengarahkan kaum muda menjadi manusia yang lupa diri bahwa ia manusia, yang memiliki tugas dan tanggungjawab kemanusiaan.
Masjid-masjid pun yang berdiri, baru dibangun, atau masjid yang sedang direnovasi pun (agaknya) lebih menitik-beratkan pembenahan fisiknya. Di sana-sini, masjid mulai memewah-mewahkan diri. Menara di bela-bela untuk dibangun. Lantai, dinding, serta perabotan masjid disulap menjadi lebih mewah dari pada rumah seorang tukang becak yang hidup bertetangga dengan masjid. Akan tetapi sayangnya masjid tersebut sering kosong-melompong setiap kali sholat lima waktu ditegakkan. Ini membuktikan bahwa menara masjid itu tidak penting dibangun. Masjid tidak perlu dimewah-mewahkan karena yang terpenting adalah bagaimana caranya agar masjid itu ramai didatangi oleh orang-orang pencari kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan hidup.
Kedua, generasi baru  pemuda era ini, sebagian besar adalah generasi yang sejak ia mulai bisa membuka mata dan mendengar dengan telinga, adalah generasi populer. Suara yang masuk ke telinganya adalah alunan musik pop remeh nan cengeng, plus lirik picisan. Ketika ia memasuki masa akil-baligh, malam-malamnya sering dihabiskan untuk menonton sinetron dan acara kontes-kontes musik. Anak-anak tersebut dibesarkan dalam sistem pendidikan yang memaksa mereka untuk tidak mengasah nalar, akan tetapi hanya mengasah otak.
Mereka diajarkan matematika, tetapi mereka tidak diajarkan memahami kenyataan hidup dengan menggunakan matematika. Pelajaran sejarah yang masuk ke memori mereka adalah pelajaran sejarah nusantara yang diramu berdasarkan “resmi” yang telah dibakukan oleh para penjajah negeri ini sejak lama. Sementara saat mereka bersentuhan dengan sastra dan filsafat, mereka akan cepat bersikap antipati. Pelajaran agama yang mereka terima pun lebih sering diarahkan untuk mengantarkan mereka menjadi makhluk yang beragama tanpa memegangi kekayaan batin agama itu sendiri. Akibatnya, agama hanya menjadi kekayaan intelektual. Ia kerap dikhutbahkan tapi jarang diamalkan. Di masa remaja rezim image dan kosmetik telah menjebak generasi ini untuk memenuhi kriteria hidup yang digariskan oleh layar kaca dan media sosial maya, sehingga berlomba untuk tampil mempesona dan menggoda untuk memburu respon berupa like atau viral di dunia maya. Pembenahan fisik dan citra memang merupakan garis besar peradaban saat ini.
Sementara itu, dunia kampus saat ini telah berlari begitu cepatnya. Mahasiswa tidak dibiarkan untuk belajar mencari kuliah alternatif berupa diskusi bebas dan pencarian rumus atau teori baru. Kampus mengkonteskan mahasiswanya untuk selalu punya IPK bagus, cepat lulus, cepat kerja, dan cepat-cepat lainnya, sementara penguasaan materi barada di bawah ambang rata-rata. Karena mahasiswa yang masuk kampus pun generasi pop, maka kampus semakin rapuh. Generasi yang kuliah terlanjur mempunyai sofware yang menyebabkan kepalanya lemot diajak berpikir, dan hatinya lola diajak merasa.
Dalam konteks generasi yang hampa makna inilah, kekeringan batin memaksa sebagian generasi pemuda ini untuk sadar bahwa mereka adalah manusia, yang membutuhkan ketenangan jiwa, kebahagaiaan dan cinta. Ngaji Filsafat dalam hal ini hadir menyuguhkan kebutuhan itu. Dengan pemaran yang baik, Pak Faiz melalui ngaji Filsafat mampu mengisi ruang kosong generasi muda ini lewat diminisi pengetahuan yang mendalam. Kegiatan Ngaji Filsafat dan yang terbaru Ngaji Postkolonial bersama Katrin Bandel adalah ruang alternatif bagi para pemuda mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan yang tidak didapat atau bebeda dengan di kampus.
Sedangkan aktifitas lain di MJS, seperti Ngaji Kitab Ruba’iyat karya Rumi dan Tarjuman al-Asywaq Syaikhul Akbar Ibnu Arabi, bersama Kyai Kuswaidi Syafi’i, Ngaji Selapanan Kitab Al-Hikam Karya Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandary, yang dilaksanakan setiap malam selasa kliwon dengan pembicara KH. Imron Djamil, Ngaji Serat Jawa (kalau diadakan lagi) dan lain-lain melengkapi kekosongan itu dari sisi spritual dan kebudayaan.
Karena itulah, saya menilai bahwa para jamaah ngaji filsafat ini adalah generasi kini yang kekinian tetapi tidak kekini-kinian, mereka adalah sekelompok anak muda yang sadar bahwa selain harus memenuhi asupan layar kaca, juga mesti memenuhi asupan jiwa dan kepala...
Sebagian mungkin ada yang ingin memenuhi asupan kopi...!!
Wallahu a’lam... 
__________
diolah dari ingatan, pengamatan dan buku Apakabar Islam Kita?..

Jumat, 21 Oktober 2016

Merayakan Kebaikan Kopi

Jakarta adalah belantara beton yang tidak menyisakan ruangnya untuk kebun kopi. Namun, di Ibu Kota ini, kopi dirayakan sedemikian rupa. Kaum mudanya memastikan sudut kota wangi dengan aroma karamel dari biji kopi yang terbakar.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI
Pencicip kopi bersertifikasi atau Q Grader, Jon Liman, Mirza Luqman, dan Muhammad Aga (kiri ke kanan), menjadi juri kompetisi seduh Battle of Brewers pada Minggu (16/10) di Jakarta Coffee Week 2016 di Hype Pantai Indah Kapuk, Jakarta.
Aroma manis dan wangi karamel itulah yang menyergap indra penciuman tatkala memasuki ruangan sekitar 21 meter persegi di Jalan Duta Raya, Duri Kepa, Jakarta Barat, akhir September silam. Hanya ada Jeffrey Satria (31) seorang di situ. Ia mengenakan apron coklat bertuliskan ”Kopikohlie”, nama dagangnya.
Jeffrey sedang menyangrai kopi gayo jenis arabika di mesin sangrai di sudut ruang belakang rumahnya yang rindang. Di hadapan mesin yang nyaris berumur 20 tahun itu, mata Jeffrey mengawasi lekat-lekat biji kecoklatan yang berputar-putar. Sesekali ia mengambil sampel dari dalam tungku dan menghirup aromanya. Ketika aroma kopinya makin wangi, proses goreng itu hampir selesai.
Kopi gayo yang disangrai itu terlihat coklat tua, hampir hitam. Itu adalah tingkat panggangan antara sedang dan gelap, istilahnya medium to dark. Hasil panggangan sedemikian biasanya menghasilkan citra kopi yang tebal dan berujung rasa agak pahit.
”Kopi ini untuk disajikan di Aceh sana. Selera orang sana memang seperti itu karena biasanya dipakai untuk kopi tarik dan dicampur susu,” kata Jeffrey, sarjana psikologi ini.
Cara penyajian seperti itu agak berbeda dengan yang sedang menggejala di Jakarta kini. Belakangan, sejumlah kafe menyediakan biji kopi dengan tingkat panggangan ringan hingga sedang (light to medium). Rasanya berlawanan dengan kopi ala gayo tadi, yaitu menimbulkan citarasa manis, bernuansa wewangian tumbuhan dan buah.
Jeffrey juga menyediakan biji kopi dengan profil seperti itu. Di rak yang ada di ruangan itu ada beberapa kantong kemasan 250 gram berstiker pengenal asal kopi (single origin). Ada kopi salatiga, sindoro, toraja rambu, toraja sapan, toraja sulotco, kerinci sungai lintang, padang air dingin, dan lima varian kopi gayo.
Semua kopi jenis arabika itu punya ciri rasanya sendiri. ”Kopi kerinci ini menurut saya paling unik, ada aroma rempah seperti merica,” katanya. Untuk mengeluarkan rasa unik itu, diperlukan biji tergoreng yang tidak terlalu gosong, cukup matang saja. Cara menyeduhnya pun menggunakan teknik tertentu.
Namun, Jeffrey tidak menyeduhkan kopi. Kopikohlie hanya menggoreng beras kopi atau green bean hasil proses pasca panen. Kopi tersangrainya terdistribusi ke sejumlah kedai kopi di Jakarta, juga kota lainnya. Namun, ia berencana membuka kedai kopi juga.
Metode alternatif
Berbeda dengan Kopikohlie, Cubung Hanito (26) membuka kedai kopi Wisang Kopi di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Awalnya dia memesan kopi tersangrai. Lama-kelamaan, ia merasa harus menyangrai sendiri untuk menekan harga jual segelas kopi murni, atau istilah sekarang adalah kopi spesial.
Segelas kopi bengkulu saba ia jual Rp 18.000. Kelak, Cubung ingin harga kopinya bisa lebih murah lagi supaya semakin banyak orang bisa meminum kopi spesial. ”Mungkin nanti seduhnya dengan cara tubruk saja. Tapi, tetap memakai kopi murni segar yang baru digiling sebelum diseduh, atau kopi dadakan. Seperti dagang tahu (digoreng dadakan), ha-ha-ha,” katanya.
Saat ini, Cubung memakai metode seduh manual. Rata-rata pelanggannya meminta kopi diseduh dengan teknik tetes memakai filter kertas. Metode filter ini yang sedang sering dipakai di banyak kedai kopi.
Metode seduh menggunakan filter adalah cara alternatif untuk mendapatkan rasa kopi sejati tanpa memakai mesin. Harga mesin espresso elektrik relatif mahal, bisa seharga mobil minibus baru. Sementara itu, dengan bermodal Rp 1 juta, orang sudah bisa dapat alat giling dan saringannya.
Harga peralatan yang relatif murah itu pula yang mendorong terciptanya fenomena kopi belakangan ini. Kedai-kedai kopi bermunculan, mulai yang kinclong hingga yang menclok di pelataran parkir pertokoan.
Kalau alat dan kedainya sudah tersedia, bagaimana dengan bijinya yang menjadi esensi dari fenomena ini? Jangan khawatir, ada banyak rumah pemanggang kopi macam Kopikohlie itu. Beberapa di antaranya yang baru muncul adalah Smoking Barrels, Arv Coffee Roasters, dan Juno The Coffee Company.
Ketiganya ikut nampang di ajang Jakarta Coffee Week 2016 pada Sabtu hingga Minggu (16/10) di Hype Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Itu adalah ajang ekshibisi para pelaku kopi, mulai dari kedai, penyangrai, penyedia peralatan, koperasi petani, dan tentunya peminum kopi. Penyelenggara mencatat ada 12.546 orang yang datang.
Demam kopi
Nama tempat ekshibisi itu seperti menegaskan bahwa perkopian memang sedang heboh alias hype. Beberapa gerai kehabisan stok biji tersangrai. ”Kalau mau pesan bisa tinggalkan nomor kontak. Nanti kami hubungi kalau kopi sudah tersedia lagi,” kata awak Juno The Coffee Company menjelang acara bubar.
Pengunjung juga berkesempatan mencicipi kopi terbaru dari kedai atau penyangrai. Pada jadwal tertentu mereka mengadakan sesi cupping—mencicipi kopi. Pengunjung bisa ngobrol panjang kali lebar dengan pelaku kopi secara langsung.
Jon Liman (33), pendiri roastery Smoking Barrels, memanfaatkan acara itu untuk bertemu langsung dengan konsumen dan pemasok kopinya. ”Banyak orang yang bertanya tentang asal muasal kopi yang mereka minum. Itu yang jadi kecenderungan konsumen sekarang. Di sini kami bisa menjelaskan secara langsung,” katanya, yang biasa berkomunikasi dengan pembelinya lewat medium internet.
Geliat kopi di perkotaan rupanya juga memberikan dampak bagi petani kopi. Para petani di pegunungan makin giat menanam kopi. Mereka menambah luasan lahan kebun kopi demi memenuhi permintaan.
”Dampak demam kopi ini sangat baik bagi konservasi alam. Petani menambah pohon kopi sehingga kawasan hutan sebagai daerah serapan air makin luas,” kata Deni Glent (39), Ketua Koperasi Klasik Beans.
Koperasi itu memayungi 1.003 petani di empat kabupaten di Jawa Barat. Mereka menghasilkan sekitar 1.000 ton kopi per tahun, sebagian besar diekspor dan sisanya untuk memenuhi pasar kopi di perkotaan termasuk Jakarta.
Kalau sudah begitu, demam kopi ini tak cuma perayaan belaka. Ada aspek konservasi alam di dalamnya. Jadi, sudah menyeduh kopi apa hari ini? (HEI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Oktober 2016, di halaman 24 dengan judul "Merayakan Kebaikan Kopi".

Senin, 10 Oktober 2016

Mengenal islam Nusantara


Bagi orang muslim kebenaran dan kesempurnaan Islam sudah barang tentu tidak perlu diragukan, tetapi siapapun sulit atau barangkali tidak bisa untuk menunjukkan Islam sebagaimana seharusnya, dalam perjalanannya Islam lebih mudah dikenal melalui atribut atau bentuknya yang beragam, sehingga dikenallah misalnya islam yang berdasarkan mazhab fikih atau kalam seperti, muktazilah, sunni, syiah, atau berdasarkan wilayahnya misalnya islam arab, islam persia, islam jawa, dan lain-seterusnya. Kemampuan islam untuk menembus batas budaya dan pemikiran sepanjang zaman itu barangkali sebagai bukti bahwa Islam agama ramhmatan lil alamin.
Nusantara sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang dan berpenduduk muslim terbesar memiliki nalar keislaman sendiri yang berbeda dengan wilayah lainnya. Hal itu dibentuk melalui proses panjang dari sejak pertama kali islam masuk, hingga berkembang menjadi agama mayoritas. Proses masuk yang ditempuh melalu jalur damai seakan menunjjukan bahwa pembawa islam ke nusantra sudah mengenal karakter manusianya yang cendrung harmoni, sehingga islam dengan mudah diterima dan berkembang pesat di nusantara ini.
Dalam ber-islam, mayoritas orang nusantara lebih menunjukkan sebagai pelaku atau penikmat agama, hal itu tercermin dari berbagai ritual tradisi yang diselenggarakan dalam setiap momen penting islam, seperti, grebek mulud, grebek syawal, sekatenan, mobeng benteng dan lainnya yang dapat dijumpai di Jawa, begitupun di daerah-daerah lain di Nusantara dengan tampilannya yang berbeda. selain dalam bentuk ritual tradisi, corak keberislaman orang nusantra sebagai penikmat dan pelaku agama juga juga terlihat dari pengaruh tasawuf yang sangat kuat. Keduanya didukung dengan tradisi ilmiah yang dibangun. Sehingga bisa dikatakan bawah Islam Nusantara dibangun di atas tiga metode yang saling berkaitan yaitu: khazanah kebudayaan (simbolik) berupa tradisi ritual budaya yang berbasis pada pemuliaan kanjeng nabi muhammad, spritualitas berbentuk tasawuf, dan tradisi ilmiah berupa naskah-naskah kuno.

Atas dasar itu, untuk memahami dan mengenal islam Nusantara tidak cukup dengan melihat atribut kekinian yang diwakili oleh ormas-ormas islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, HTI, al-Irsyad, dan lainnya, yang menurut saya hal itu harus dipandang sebagai respon dari kolonialisme. Yang dibutuhkan untuk mengerti dan memahami islam nusantara yaitu pemahaman yang menyeluruh dan tepat terhadap tiga dimensi diatas, yaitu: tasawuf, naskah-naskah kuno, dan tradisi-tradisi keislaman di masyarakat.

Rabu, 28 September 2016

Sejarah

Oleh PUTU WIJAYA
25 September 2016

1.

Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam dalam sejarah. Agar aku tahu arah yang benar dalam meneruskan langkah.

Sejarahku mentok, berhenti sebelum aku lahir. Jadi biar pun sejarahku ngelotok, sampai tahu berapa ekor nyamuk sudah terbunuh dalam kamar ini, aku tetap saja buta ke masa lalu. Maka terus-terang sejarahku tidak afdol. Dan itu membuat panca inderaku cacat. Timpang.

Mataku, kupingku, mulutku, alat peraba, penciuman, terutama perasaanku tidak komplit. Semua yang tertangkap jadi tidak bulat, lengkap, tuntas, tapi hanya sebagian-sebagian. Bahkan celakanya, tak jelas, itu sebagian besar atau sebagian kecil?

Karena itu tolong las bolong-bolongku! Tambal, sulam, supaya air yang kuciduk tidak berceceran dan akhirnya sudah capek-capek turun ke lembah, mendaki bukit bawa air untuk menyirami tanaman di kebun, sampai di rumah emberku kosong. Semua akan marah. Aku bisa frustrasi dan seluruh tanamanku terancam mati.

Jadi ayolah, ceritakan sejarah yang lengkap, jangan ada yang ketinggalan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Sejarah bukan cerita fiksi untuk menobatkan seorang pelaku jadi pahlawan. Juga bukan sebaliknya! Sejarah bukan tuduhan jaksa untuk menyeret seorang bandit narkoba ke vonis pidana mati.

Sejarah biarkan jadi sejarah saja. Jangan diubah, direnovasi, dipugar atau dimanfaatkan untuk keperluan lain. Biarkan sejarah tetap bagai bianglala peristiwa, prisma berwarna Newton, supaya jadi cermin putih yang mampu menampilkan bayangan semua orang dengan jujur tak memihak.

Ayo cepat, jangan tunda-tunda lagi! Tuturkan sejarah selengkapnya dengan sederhana, apa adanya. Jangan didandani dengan emosi. Jangan meniru gaya para pembawa berita di TV swasta yang sudah membawakan berita yang ditulis menurut kemauan pemilik TV dan dibaca dengan ironi yang sudah dipesan untuk kemenangan kompetisi politik.

Paparkan saja sejarah seadanya. Biarkan pahit tetap pahit, manis terus manis, lepas saja apa adanya. Tak perlu dikomentari, jangan dipandu dengan interpretasi.

Sejarah bukan orang jompo, bukan orang stroke, bukan tunanetra yang harus dibantu perawat. Sejarah akan bergerak menurut kodratnya sendiri. Tak perlu ditata dulu jadi puisi supaya menggigit. Atau dibalut pesan moral supaya beriman. Karena itu bukan nantinya mencuci tapi melumpuhkan saraf.

Silakan mulai, mulai saja tuturkan tanpa seremoni. Biarlah sekarang aku diguyurnya, sebelum keadaan parah, sebelum, sebelum, ya, ya mulai saja, mulai saja begitu, aku dengar sembari aku mulai tidur, grrrrrr grrrr grrrrr, grrrrr gerrrr....

2.

Adikku, waktu kau lahir, aku juga masih kecil. Aku bisa melihat tapi terbatas. Mendengar juga cuma sepotong. Aku tak bisa menyimpulkan.

Jadi catatan sejarahku, tergantung pada omongan orang. Kalau takut, mata aku pejam, ibulah yang lebih tahu. Sejarahku pun pincang sebatas yang ingin kulihat, yang terpaksa aku dengar.

Aku juga tak percaya kenapa hidup lebih menakutkan dari mimpi. Dikejar setan dalam tidur, aku bisa meloncat bangun dan setannya tak bisa memburu keluar. Tapi dalam kejadian nyata, kalau mau lari, kemana?

Jadi lebih baik kulupakan saja kejadian pagi itu. Kuanggap seperti tak pernah terjadi. Karena aku tak mengerti.

Aku bingung. Bapak yang selalu mengurut kakiku sesudah seharian mengejar capung di lapangan, subuh itu ditarik keluar rumah.

Aku bangun, tapi ibu memegang tanganku, menutup kepalaku dengan selimut. Tapi waktu dia mengintip keluar dari kisi-kisi dinding, aku ikut ngintip.

Lalu kulihat bapak berlutut di halaman. Kakek mengangkat kelewang dan aku tak sadarkan diri. Waktu aku buka mata lagi, aku tak pernah lagi lihat bapak.

Ibu bilang bapak sudah berangkat jauh, terlalu jauh, mungkin tak kembali sampai kamu lahir, besar, dan katanya juga, mungkin sesudah aku dan kamu berkeluarga, kita semua akan menyusul. Kata ibu, bapak akan menunggu di situ.

Kalau belum jelas, tanya Ibu. Tapi hati-hati nanya, nanti dia nangis. Kalau aku nanya lagi, dia pasti marah. Tanyakan kenapa kakek memenggal kepala bapak?

3.

Anakku, kebetulan kamu nanya. Memang Ibu mau bercerita. Tetapi dengarkan saja, jangan menyela, jangan banyak bertanya.

Di dalam kehidupan tidak semua pertanyaan ada jawabannya. Ada yang terpaksa kita biarkan karena jawabannya bertentangan dengan tetangga. Kalau dijawab, kita akan bertengkar. Padahal bagaimana kita hidup tenang kalau tidak rukun dengan tetangga?

Mereka juga begitu. Kita wajib menjaga perasaan masing-masing. Jadi nanti kalau setelah mendengar cerita ini kamu mau bertanya, tanya saja hati kamu. Atau tanya kawan-kawanmu sendiri yang sekiranya akan mau memberikan jawaban.

Jangan bertanya karena ingin menuntut keadilan. Jangan berperkara di masyarakat. Itu tempatnya di pengadilan. Bertanya itu untuk mendengar cerita, jangan menuntut apa-apa.

Sudah bukan zamannya.

Bapakmu sebelum pergi, minta maaf atas kesalahannya. Karena ia lebih memikirkan partai. Lupa kamu yang ada dalam kandungan ibu, adalah juga kewajibannya.

Sebagai bapak aku wajib untuk mengantar anakku tumbuh sampai dewasa, katanya. Sampaikan nanti, kalau dia sudah besar, aku minta maaf, katanya.

Sekarang aku permisi pergi duluan karena aku sudah dijemput. Usahakanlah dengan segala cara asal benar, supaya mereka, maksudnya kamu dan kakakmu, mendapat pendidikan yang baik, sehingga nanti dia bisa mengerti sendiri apa yang sudah terjadi.

Teman-teman lain sudah duluan berangkat. Aku ini yang terakhir. Sebenarnya mereka tidak berniat memberangkatkan aku. Karena mereka tahu, kau sedang mengandung. Tetapi tetangga kita itu, yang pintar cari muka, menunjuk-nunjuk siapa yang harus dijemput, maksudnya supaya dia sendiri tidak dijemput.

Katakan padanya nanti kalau sudah besar, katanya sambil menyentuh perutku, maksudnya kamu, supaya dia belajar saja jadi orang biasa, jangan ikut-ikutan politik.

Sampai di situ, lalu datang bapaknya, kakekmu. Mereka bicara, aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Tapi aku lihat keduanya menangis, lalu pelukan. Sesudah itu ibu pingsan.

Jangan percaya omongan orang. Bukan kakekmu yang membunuh bapakmu, itu bohong!

4.

Cucuku, sekarang umurmu sudah cukup untuk bertanya. Hanya aku masih ragu, apa kamu sudah siap untuk mendengar.

Sejatinya mendengar tak selalu menunggu umur atau disiagakan oleh umur. Utamanya dalam mendengar adalah batinmu sendiri terbuka. Hati nuranimu saja yang boleh menjawab.

Tetapi karena usiaku sudah larut senja, aku takut nanti tidak sempat. Nanti kamu bisa terkurung dalam gelap. Terkatung-katung seperti layangan putus. Kesana-kemari dipentalkan angin.

Kamu akan gamang antara yang bilang kakek membunuh bapakmu, anakku sendiri. Atau kakekmu sudah berkomplot menyingkirkan lawan politiknya, bapakmu, anakku sendiri.

Dengar baik-baik, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Simak makna seluruh tuturanku, jangan sampai salah tangkap.

Pertama sekali yang perlu kamu ingat, kita adalah keluarga petani. Garapan kita tanah. Milik kita atau milik orang lain, itu tidak membuat kita jadi atau bukan petani.

Kalau kamu hidup dari kerja bertani, kamu petani. Tapi bapakmu tak setuju. Awalnya ia petani yang rajin. Tapi setelah ketemu teman-temannya dari kota, ia berubah.

Ia masuk partai. Kerjanya berunding, rapat tiap malam. Tak mau lagi bertani. Karena sawah yang kita garap punya orang lain. Bangsawan puri di kota. Petani harus punya sawah sendiri, kalau tidak punya bukan petani, katanya.

Sejak itu, ia tidak mau lagi ke sawah. Ia jadi kader pimpinan partai. Ikut bentrokan dengan partai lain. Ibumu dilarang sembahyang tak ada gunanya, katanya.

Ia melarang penggarap-penggarap tanah tunduk pada pemilik tanah. Nanti kalau waktunya sudah tiba, tanahnya akan kita bagi, orangnya kita sembeleh! Revolusi harus memenangkan rakyat jelata, kaum borjuis, feodal, kita bakar!

Bapakmu jadi beringas dan ditakuti. Kakek pun dia musuhi dianggap antek feodal. Dia berani karena Gubernur yang satu partai, mendukungnya.

Desa kita waktu itu kisruh dicekam ketakutan. Warga terbelah. Dalam keluarga ada permusuhan. Orang curiga-mencurigai. Kalau ada yang meninggal tidak lagi saling menyambangi.

Lalu hari yang berdarah itu tiba. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Yang dulu ketakutan berbalik jadi menakutkan.

Subuh itu, sejumlah pemuda muncul. Mereka datang baik-baik meminta bapakmu merelakan pergi jauh selamanya. Mereka minta nyawa bapakmu. Bapakmu paham. Aku pun terpaksa paham.

Keadaan pagi itu sungguh aneh. Bapakmu minta jangan orang lain, tapi aku yang harus melakukannya, sebab akulah yang memberinya hidup. Aku tak mampu menerima tugas itu, tapi bapakmu meminta sungguh-sungguh karena ia tidak mau dibunuh tapi diantarkan oleh bapaknya sendiri, aku. Waktu aku ayunkan kelewang itu, aku sedang membunuh diriku sendiri.

Ya, pagi itu, sebenarnya kakek sudah mati. Anak yang bertahun kutunggu, kurawat, kegendong ke mama pun pergi, kududukkan di punggung sapi waktu membajak sawah, harus kuhabisi. Tas.

Bapakmu pergi dengan damai di tanganku yang bukan membunuhnya tapi mengantarnya. Tapi aku tak bisa memaafkan diriku. Begitu banyak yang terjadi di hari-hari itu yang tak akan bisa kita mengerti.

Karena itu menanggapinya dari jauh, seperti sekarang, memerlukan jiwa yang besar. Jangan biarkan peristiwa itu jadi lingkaran setan. Paham? Peristiwa itu jadi sejarah hitam kita bersama.

Aduh, kakek tak kuat lagi. Cerita subuh itu menggelapkan hidup kakek. Semoga kamu bisa menerimanya dengan batin yang bijaksana. Jangan biarkan lingkaran setan itu lebih panjang.

Sekarang berpulang kepadamu. Paham? Aduh ini, kamu bagaimana? Kok grrr, grrr, molor! Bangun! Katanya mau dengar sejarah.

5.

Di dalam kemerdekaan, ternyata masih ada ketidakmerdekaan. Di dalam ketidakmerdekaan ada pembunuhan tanpa peradilan. Apakah betul kita sudah merdeka? Kalau sudah, aku menggugat, adili semua pembunuhan. Termasuk pembunuh bapakku! Seret tangan-tangan kotor. Minta maaf kepadaku, bapakku sudah dieksekusi tanpa peradilan! Bangsa yang tidak tahu sejarah adalah bangsa keblinger! Orang yang tidak peduli sejarah adalah tukang molor dan anarkis yang harus disikat habis!!




*Putu Wijaya,* lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, ia pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon. Sejak akhir 2012 aktif melukis. Ribuan cerpen dan puluhan novel sudah lahir dari tangan Putu. Beberapa novel dan karya dramanya mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta.
__________
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 September 2016, di halaman 21 dengan judul "Sejarah".

Senin, 19 September 2016

Waktu ke Wonosobo



candi Arjuna Wonosobo

Sabtu, 17 September 2016

"Wukuf" di Tebuireng"

Perjalanan ke Jombang kali ini di sempatkan mampir ke makam K.H Hasyim Asyari & Gus Dur.

Sejak 2009, setiap hendak berangkat ke dan Balik dari Jogja, selalu melewati Jombang. Tapi tak sekalipun sempat mampir. Karena bertepatan dg hari Jumat, kemaren peziarah lumayan banyak. Untung saja tidak ada Indosiar yang meliput, krena bisa jadi kalau ada mreka para peziarah itu akan di beritakan  dengan judul "banyak umat Islam di Jatim Wukuf di Tebuireng", kemudian kalau brta itu dikutip kalangan anti-makam akan muncul berita berjudul "wukuf di tebuireng: bukti nyata banyak masyarakat di Indonesia  yang keluar dari Islam".

Pagi ini, tak disengaja jalan-jalan pagi mempertemukan dengan Makam Mbah Sayyid Sulaiman. Sepagi ini ternyata juga sudah banyak yang "wukuf"

Sabtu, 17/09