Marxisme!
Mendengar perkataan ini, maka
tampak sebagai suatu bayang-bayangan di penglihatan kita gambarnya
berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat-muka dan
kurus-badan, pakaian berkoyak¬-koyak ; tampak pada angan-angan kita dirinya
pembela dan kampiun si¬ mudlarat tahadi, seorang ahli-fikir yang ketetapan
hatinya dan keinsyafan akan kebisaannya “mengingatkan kita pada
pahlawan-pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Germania yang sakti dengan tiada
teralahkan itu”, suatu manusia yang “geweldig” (haibat) yang dengan
sesungguh-sungguhnya bernama “grootmeester” (maha guru) pergerakan kaum buruh,
yakni: Heinrich Karl Marx.
Dari muda sampai pada wafatnya,
manusia yang haibat ini tiada berhenti-hentinya membela dan memberi penerangan
pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara dan bagaimana
mereka itu pasti akan mendapat kemenangan; tiada kesal dan capainya ia berusaha
dan bekerja untuk pembelaan itu: duduk di atas kursi, di muka meja-tulisnya,
begitulah ia dalam tahun 1883 menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Seolah-olah
mendengarlah kita di mana-mana negeri suaranya men¬dengung sebagai guntur,
tatkala ia dalam tahun 1847 menulis seruannya:
“Kaum buruh dari semua negeri,
kumpullah menjadi satu!” Dan sesungguhnya! Riwayat-dunia belumlah pernah
menceriterakan pendapat dari seorang manusia, yang begitu cepat masuknya dalam
keyakinan satu golongan pergaulan-hidup, sebagai pendapatnya kampiun kaum buruh
ini. Dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan, dari ribuan
menjadi laksaan, ketian, jutaan .. begitulah jumlah pengikutnya
bertambah-tambah. Sebab, walaupun teori-teorinya ada sangat sukar dan berat
untuk kaum yang pandai dan terang-fikiran, tetapi “amatlah ia gampang
dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara: kaum melarat fikiran yang
berkeluh-kesah itu”.
Berlainan dengan sosialis-sosialis
lain, yang mengira bahwa cita-cita mereka itu dapat tercapai dengan jalan
persahabatan antara buruh dan majikan, berlainan dengan umpamanya: Ferdinand
Lassalle, yang teriaknya itu ada suatu teriak-perdamaian, maka Karl Marx, yang
dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali mempersoalkan kata asih atau kata
cinta, membeberkan pula faham pertentangan golongan; faham klassenstrijd, dan
mengajarkan pula, bahwa lepasnya kaum buruh dari nasibnya itu, yalah oleh
perlawanan-zonder-damai terhadap pada kaum “bursuasi”, satu perlawanan yang
tidak boleh tidak, musti terjadi oleh karena peraturan yang kapitalistis itu
adanya.
Walaupun pembaca tentunya semua
sudah sedikit-sedikit mengetahui apa yang telah diajarkan oleh Karl Marx itu,
maka berguna pulalah agaknya, jikalau kita di sini mengingatkan, bahwa jasanya
ahli-fikir ini yalah:- ia mengadakan suatu pelajaran gerakan fikiran yang
bersandar pada perbendaan (Materialistische Dialectiek) ; – ia membentangkan
teori, bahwa harganya barang-barang itu ditentukan oleh banyaknya “kerja” untuk
membikin barang-barang itu, sehingga “kerja” ini yalah “wert¬bildende Substanz”,
dari barang-barang itu (arbeids-waardeleer); – ia membeberkan teori, bahwa
hasil pekerjaan kaum buruh dalam pembikinan barang itu adalah lebih besar
harganya daripada yang ia terima sebagai upah (meerwaarde); – ia mengadakan
suatu pelajaran riwayat yang berdasar peri-kebendaan, yang mengajarkan, bahwa
“bukan budi-¬akal manusialah yang menentukan keadaannya, tetapi sebaliknya
keadaan¬nya berhubung dengan pergaulan-hiduplah yang menentukan budi-akalnya”
(materialistische geschiedenis-opvatting) ; – ia mengadakan teori, bahwa oleh
karena “meerwaarde” itu dijadikan kapital pula, maka kapital itu makin lama
makin menjadi besar (kapitaals-accumulatie), sedang kapital-kapital yang kecil
sama mempersatukan diri jadi modal yang besar (kapitaals-centralisatie), dan
bahwa, oleh karena persaingan, perusahaan¬-perusahaan yang kecil sama mati
terdesak oleh perusahaan-perusahaan yang besar, sehingga oleh desak-desakan ini
akhirnya cuma tinggal beberapa perusahaan sahaja yang amat besarnya
(kapitaals-concentratie); – dan ia mendirikan teori, yang dalam aturan
kemodalan ini nasibnya kaum buruh makin lama makin tak menyenangkan dan
menimbulkan dendam¬ hati yang makin lama makin sangat (Verelendungs-theorie); –
teori-teori mana, berhubung dengan kekurangan tempat, kita tidak bisa
menerangkan lebih lanjut pada pembaca-pembaca yang belum begitu mengetahuinya.
Meskipun musuh-musuhnya, di antara
mana kaum anarchis, sama menyangkal jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan di
atas ini, meskipun lebih dulu, dalam tahun 1825, Adolphe Blanqui dengan cara
historis-materialistis sudah mengatakan, bahwa riwayat itu “menetapkan
kejadian-kejadiannya” sedang ilmu ekonomi “menerangkan sebab-apa
ke¬jadian-kejadian itu terjadi”; meskipun teori meerwaarde itu sudah lebih dulu
dilahirkan oleh ahli-ahli-fikir sebagai Sismondi, Thompson dan lain-lain;
meskipun pula teori konsentrasi-modal atau arbeidswaardeleer itu ada
bagian-bagiannya yang tak bisa mempertahankan diri terhadap kritik musuhnya
yang tak jemu-jemu mencari-cari salahnya; – meskipun begitu, maka tetaplah,
bahwa stelselnya Karl Marx itu mempunyai pengertian yang tidak kecil dalam
sifatnya umum, dan mempunyai pengertian yang penting dalam sifat
bagian-bagiannya. Tetaplah pula, bahwa, walaupun teori-teori itu sudah lebih
dulu dilahirkan oleh ahli¬ fikir lain, dirinya Marxlah, yang meski “bahasa”nya
itu untuk kaum “atasan” sangat berat dan sukarnya, dengan terang-benderang
meng¬uraikan teori-teori itu bagi kaum “tertindas dan sengsara yang
me¬larat-fikiran” itu dengan pahlawan-pahlawannya, sehingga mengerti dengan
terang-benderang. Dengan gampang sahaja, sebagai suatu soal yang
“sudah-mustinya-begitu”, mereka lalu mengerti teorinya atas meer¬waarde, lalu
mengerti, bahwa si majikan itu lekas menjadi kaya oleh karena ia tidak
memberikan semua hasil-pekerjaan padanya; mereka lalu sahaja mengerti, bahwa
keadaan dan susunan ekonomilah yang menetap-kan keadaan manusia tentang budi,
akal, agama, dan lain-lainnya, – bahwa manusia itu: e r i s t was e r i s t ;
mereka lantas sahaja mengerti, bahwa kapitalisme itu akhirnya pastilah binasa,
pastilah lenyap diganti oleh susunan pergaulan-hidup yang lebih adil, – bahwa
kaum “burjuasi” itu “teristimewa mengadakan tukang-tukang penggali liang
kuburnya”.
Begitulah teori-teori yang dalam
dan berat itu masuk tulang-sungsum¬nya kaum buruh di Eropah, masuk pula tulang
sungsumnya kaum buruh di Amerika. Dan “tidakkah sebagai suatu hal yang ajaib,
bahwa keper¬cayaan ini telah masuk dalam berjuta-juta hati dan tiada suatu
kekuasaan juapun di muka bumi ini yang dapat mencabut lagi dari padanya”.
Se¬bagai tebaran benih yang ditiup angin ke mana-mana tempat, dan tumbuh pula
di mana-mana ia jatuh, maka benih Marxisme ini berakar dan bersulur; di
mana-mana pula, maka kaum “bursuasi” sama menyiapkan diri dan berusaha membasmi
tumbuh-tumbuhan “bahaya proletar” yang makin lama makin subur itu. Benih yang
ditebar-tebarkan di Eropah itu, seba¬gian telah diterbangkan oleh tofan-zaman
ke arah khatulistiwa, terus ke Timur, hingga jatuh dan tumbuh di antara
bukit-bukit dan gunung-gunung yang tersebar di segenap kepulauan
“sabuk-zamrud”, yang bernama Indo¬nesia. Dengungnya nyanyian “Internasionale”,
yang dari sehari-ke-sehari menggetarkan udara Barat, sampai-kuatlah haibatnya
bergaung dan ber¬kumandang di udara Timur …
Pergerakan Marxistis di Indonesia ini, ingkarlah sifatnya kepada pergerakan
yang berhaluan Nasionalistis, ingkarlah kepada pergerakan yang berazas
ke-Islaman. Malah beberapa tahun yang lalu, keingkaran ini sudah menjadi suatu
pertengkaran perselisihan faham dan pertengkaran sikap, menjadi suatu
pertengkaran saudara, yang, – sebagai yang sudah kita terangkan di muka, –
menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengutamakan perdamaian,
menyuramkan dan menggelapkan hati siapa yang mengerti, bahwa dalam pertengkaran
yang demikian itulah letaknya kekalah¬an kita. Kuburkanlah nasionalisme,
kuburkanlah politik cinta tanah-air, dan lenyapkanlah politik-keagamaan, –
begitulah seakan-akan lagu-perjoangan yang kita dengar. Sebab katanya: Bukankah
Marx dan Engels telah mengatakan, bahwa “kaum buruh itu tak mempunyai
tanah-air”? Katanya: Bukankah dalam “Manifes Komunis” ada tertulis, bahwa
“komu¬nisme itu melepaskan agama”? Katanya: Bukankah Babel telah mengatakan,
bahwa “bukan-lah Allah yang membikin manusia, tetapi manusialah yang membikin-bikin
Tuhan”?
Dan sebaliknya! Fihak Nasionalis
dan Islamis tak berhenti-henti pula mencaci-maki fihak Marxis, mencaci-maki
pergerakan yang “berseku¬tuan” dengan orang asing itu, dan mencaci-maki
pergerakan yang “mungkir” akan Tuhan. Mencaci pergerakan yang mengambil teladan
akan negeri Rusia yang menurut pendapatnya: azasnya sudah palit dan terbukti
tak dapat melaksanakan cita-citanya yang memang suatu utopi, bahkan
mendatangkan “kalang-kabutnya negeri” dan bahaya-kelaparan dan hawar-penyakit
yang mengorbankan nyawa kurang-lebih limabelas juta manusia, suatu jumlah yang
lebih besar daripada jumlahnya sekalian manusia yang binasa dalam peperangan
besar yang akhir itu.
Demikianlah dengan bertambahnya
tuduh-menuduh atas dirinya masing-masing pemimpin, duduknya perselisihan
beberapa tahun yang lalu: satu sama lain sudah s a l a h mengerti dan saling
tidak mengindahkan.
Sebab taktik Marxisme yang baru,
tidaklah menolak pekerjaan¬ bersama-sama dengan Nasionalis dan Islamis di Asia.
Taktik Marxisme yang baru, malahan menyokong pergerakan-pergerakan Nasionalis
dan Islamis yang sungguh-sungguh. Marxis yang masih sahaja bermusuhan dengan
pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Islamis yang keras di Asia, Marxis yang
demikian itu tak mengikuti aliran zaman, dan tak mengerti akan taktik Marxisme
yang sudah berobah.
Sebaliknya, Nasionalis dan Islamis
yang menunjuk-nunjuk akan “faillietnya” Marxisme itu, dan yang menunjuk-nunjuk
akan bencana kekalang-kabutan dan bencana-kelaparan yang telah terjadi oleh
“prac¬tijknya” faham Marxisme itu, – mereka menunjukkan tak mengertinya atas
faham Marxisme, dan tak mengertinya atas sebab terpelesetnya “prac¬tijknya”
tahadi. Sebab tidakkah Marxisme sendiri mengajarkan, bahwa sosialismenya itu
hanya bisa tercapai dengan sungguh-sungguh bilamana negeri-negeri yang
besar-besar itu semuanya di-“sosialis”-kan?
Bukankah “kejadian” sekarang ini
jauh berlainan daripada “voor¬waarde” (syarat) untuk terkabulnya maksud
Marxisme itu?
Untuk adilnya kita punya hukuman
terhadap pada “practijknya” faham Marxisme itu, maka haruslah kita ingat, bahwa
“failliet” dan “kalang¬-kabut” – nya negeri Rusia adalah dipercepat pula oleh
penutupan atau blokkade oleh semua negeri-negeri musuhnya; dipercepat pula oleh
han¬taman dan serangan pada empatbelas tempat oleh musuh-musuhnya sebagai
Inggeris, Perancis, dan jenderal-jenderal Koltchak, Denikin, Yudenitch dan
Wrangel; dipercepat pula oleh anti-propaganda yang dilakukan oleh hampir semua
surat-khabar di seluruh dunia.
Di dalam pemandangan kita, maka
musuh-musuhnya itu pula harus ikut bertanggungjawab atas matinya limabelas juta
orang yang sakit dan kelaparan itu, di mana mereka menyokong penyerangan
Koltchak, Denikin, Yudenitch dan Wrangel itu dengan harta dan benda; di mana
umpamanya negeri Inggeris, yang membuang-buang berjuta-juta rupiah untuk
menyokong penyerangan-penyerangan atas diri sahabatnya yang dulu itu, telah
“mengotorkan nama Inggeris di dunia dengan menolak memberi tiap-tiap bantuan
pada kerja-penolongan” si sakit dan si lapar itu; di mana di Amerika, di
Rumania, dan di Hongaria pada saat terjadinya bencana itu pula, karena terlalu
banyaknya gandum, orang sudah memakai gandum itu untuk kayu-bakar, sedang di
negeri Rusia orang-orang di distrik Samara makan daging anak-anaknya sendiri
oleh karena laparnya.
Bahwa sesungguhnya, luhurlah
sikapnya H. G. Wells, penulis Ing¬geris yang masyhur itu, seorang yang bukan
Komunis, di mana ia dengan tak memihak pada siapa juga, menulis, bahwa,
umpamanya kaum bolshevik itu “tidak dirintang-rintangi mereka barangkali bisa
menyelesaikan suatu experiment (percobaan) yang maha-besar faedahnya bagi
peri-kemanusiaan …
Tetapi mereka
dirintang-rintangi”.Kita yang bukan komunis pula, kitapun tak memihak pada
siapa juga! Kita hanyalah memihak kepada Persatuan¬-persatuan-Indonesia, kepada
persahabatan pergerakan kita semua! Kita di atas menulis, bahwa taktik Marxisme
yang sekarang adalah berlainan dengan taktik Marxisme yang dulu. Taktik
Marxisme, yang dulu sikapnya begitu sengit anti-kaum-kebangsaan dan
anti-kaum-keagamaan, maka sekarang, terutama di Asia, sudahlah begitu berobah,
hingga kesengitan “anti” ini sudah berbalik menjadi persahabatan dan
penyo¬kongan. Kita kini melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Nasionalis
di negeri Tiongkok; dan kita melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum
Islamis di negeri Afghanistan.
Adapun teori Marxisme sudah berobah
pula. Memang seharusnya begitu! Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, yang bisa
mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai untuk segala zaman. Teori-teorinya
haruslah diobah, kalau zaman itu berobah; teori-teorinya haruslah diikut¬kan
pada perobahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut. Marx dan Engels
sendiripun mengerti akan hal ini; mereka sendiripun dalam tulisan-tulisannya
sering menunjukkan perobahan faham atau perobahan tentang kejadian-kejadian
pada zaman mereka masih hidup. Bandingkanlah pendapat-pendapatnya sampai tahun
1847; bandingkanlah pendapatnya tentang arti “Verelendung” sebagai yang
dimaksudkan dalam “Manifes Komunis” dengan pendapat tentang arti perkataan itu
dalam “Das Kapital”, maka segeralah tampak pada kita perobahan faham atau
perobahan perindahan itu. Bahwasanya: benarlah pendapat sosial demokrat Emile
Vandervelde, di mana ia mengatakan, bahwa “revisionisme itu tidak mulai dengan
Bernstein, akan tetapi dengan Marx dan Engels adanya”.
Perobahan taktik dan perobahan
teori itulah yang menjadi sebab, maka kaum Marxis yang “muda” baik “sabar”
maupun yang “keras”, terutama di Asia, sama menyokong pergerakan nasional yang
sungguh¬-sungguh. Mereka mengerti, bahwa di negeri-negeri Asia, di mana belum
ada kaum proletar dalam arti sebagai di Eropah atau Amerika itu, per¬gerakannya
harus diobah sifatnya menurut pergaulan-hidup di Asia itu pula. Mereka
mengerti, bahwa pergerakan Marxistis di Asia haruslah berlainan taktik dengan
pergerakan Marxis di Eropah atau Asia, dan harus¬lah “bekerja bersama-sama
dengan partai-partai yang “klein-burgerlijk”, oleh karena di sini yang pertama-tama
perlu bukan kekuasaan tetapi yalah perlawanan terhadap pada feodalisme”.
Supaya kaum buruh di negeri-negeri
Asia dengan leluasa bisa menjalankan pergerakan yang sosialistis
sesungguh-sungguhnya, maka perlu sekali negeri-negeri itu m e r d e k a, perlu
sekali kaum itu mempunyai nationale autonomie (otonomi nasional). “Nationale
autonomie adalah suatu tujuan yang harus dituju oleh perjoangan proletar, oleh
karena ia ada suatu upaya yang perlu sekali bagi politiknya”, begitulah Otto
Bauer berkata. Itulah sebabnya, maka otonomi nasional ini menjadi suatu hal
yang pertama-tama harus diusahakan oleh pergerakan-pergerakan buruh di Asia
itu. Itulah sebabnya, maka kaum buruh di Asia itu wajib beker¬ja bersama-sama
dan menyokong segala pergerakan yang merebut otonomi nasional itu j u g a,
dengan tidak menghitung-hitung, azas apakah pergerakan-pergerakan itu
mempunyainya. Itulah sebabnya, maka pergerakan Marxisme di Indonesia ini harus
pula menyokong pergerakan-pergerakan kita yang Nasionalistis dan Islamistis yang
mengambil otonomi itu seba¬gai maksudnya pula.
Kaum Marxis harus ingat, bahwa
pergerakannya itu, tak boleh tidak, pastilah menumbuhkan rasa Nasionalisme di
hati-sanubari kaum buruh Indonesia, oleh karena modal di Indonesia itu
kebanyakannya yalah modal asing, dan oleh karena budi perlawanan itu
menumbuhkan suatu rasa tak senang dalam sanubari kaum-buruhnya rakyat
di-“bawah” terhadap pada rakyat yang di-“atas”-nya, dan menumbuhkan suatu
keinginan pada nationale machts-politiek dari rakyat sendiri.Mereka harus
ingat, bahwa rasa-internasionalisme itu di Indonesia niscaya tidak begitu tebal
sebagai di Eropah, oleh karena kaum buruh di Indonesia ini menerima faham
internasionalisme itu pertama-tama yalah sebagai taktik, dan oleh karena bangsa
Indonesia itu oleh “gehechtheid” pada negerinya, dan pula oleh kekurangan
bekal, belum banyak yang nekat meninggalkan Indonesia, untuk mencari kerja di
lain-lain negeri, dengan iktikad: “ubi bene, ibi patria: di mana aturan-kerja
bagus, di situlah tanah-air saya”, – sebagai kaum buruh di Eropah yang menjadi
tidak tetap-rumah dan tidak tetap tanah-air oleh karenanya.
Dan jikalau ingat akan hal-hal ini
semuanya, maka mereka niscaya ingat pula akan salahnya memerangi pergerakan
bangsanya yang nasionalistis adanya. Niscaya mereka ingat pula akan
teladan-teladan pemimpin pemimpin Marxis di lain-lain negeri, yang sama bekerja
bersama-sama dengan kaum-kaum nasionalis atau kebangsaan. Niscaya mereka ingat
pula akan teladan pemimpin-pemimpin Marxis di negeri Tiongkok, yang dengan ridla
hati sama menyokong usahanya kaum Nasionalis, oleh sebab mereka insyaf bahwa
negeri Tiongkok itu pertama-tama butuh persatuan nasional dan kemerdekaan
nasional adanya.
Demikian pula, tak pantaslah kaum
Marxis itu bermusuhan dan ber¬bentusan dengan pergerakan Islam yang
sungguh-sungguh.
Tak pantas mereka memerangi
pergerakan, yang, sebagaimana sudah kita uraikan di atas, dengan
seterang-terangnya bersikap anti-kapitalisme; tak pantas mereka memerangi suatu
pergerakan yang dengan sikapnya anti-riba dan anti-bunga dengan
seterang-terangnya yalah anti-meerwaarde pula; dan tak pantas mereka memerangi
suatu pergerakan yang dengan seterang¬-terangnya mengejar kemerdekaan,
persamaan dan persaudaraan, dengan seterang-terangyya mengejar nationale
autonomie. Tak pantas mereka bersikap demikian itu, oleh karena taktik
Marxisme-baru terhadap agama adalah berlainan dengan taktik Marxisme-dulu.
Marxsme-baru adalah berlainan dengan Marxisme dari tahun 1847, yang dalam
“Manifes Ko-munis” mengatakan, bahwa agama itu harus di-“abschaffen” atau
dile¬paskan adanya.
Kita harus membedakan
Historis-Materialisme itu daripada Wijsgerig-Materialisme; kita harus
memperingatkan, bahwa maksudnya Historis-Materialisme itu berlainan dari pada
maksudnya Wijsgerig-Materialisme tahadi. Wijsgerig-Materialisme memberi jawaban
atas pertanyaan: bagaimanakah hubungannya antara fikiran (denken) dengan benda
(materie), bagaimanakah fikiran itu terjadi, sedang Historis-Materialisme
memberi jawaban atas soal: sebab apakah fikiran itu dalam suatu zaman ada
begitu atau begini; wijsgerig-materialisme menanyakan adanya (wezen) fikiran
itu; historis-materialisme menanya¬kan sebab-sebabnya fikiran itu b e r o b a h
; wijsgerig-materialisme men¬cari asalnya fikiran, historis materialisme
mempelajari tumbuhnya fikiran; wijsgerig materialisme adalah wijsgerig,
historis materialisme adalah historis.
Dua faham ini oleh musuh-musuhnya
Marxisme di Eropah, terutama kaum gereja, senantiasa ditukar-tukarkan, dan
senantiasa dikelirukan satu sama lain. Dalam propagandanya anti-Marxisme mereka
tak berhenti¬-henti mengusahakan kekeliruan faham itu; tak berhenti-henti
mereka menuduh-nuduh, bahwa kaum Marxisme itu yalah kaum yang mempela¬jarkan,
bahwa fikiran itu hanyalah suatu pengeluaran sahaja dari otak, sebagai ludah
dari mulut dan sebagai empedu dari limpa; tak berhenti¬-henti mereka menamakan
kaum Marxis suatu kaum yang menyembah benda, suatu kaum yang bertuhankan
materi.
Itulah asalnya kebencian kaum
Marxis Eropah terhadap kaum gere¬ja, asalnya sikap perlawanan kaum Marxis
Eropah terhadap kaum agama. Dan perlawanan ini bertambah sengitnya, bertambah
kebenciannya, di mana kaum gereja itu memakai-makai agamanya untuk
melindung-lindungi kapitalisrne, memakai-makai agamanya untuk membela keperluan
kaum atasan, memakai-makai agamanya untuk menjalankan politik yang reak¬sioner
sekali.
Adapun kebencian pada kaum agama
yang timbulnya dari sikap kaum gereja yang reaksioner itu, sudah dijatuhkan
pula oleh kaum Marxis kepada kaum agama Islam, yang berlainan sekali sikapnya
dan berlainan sekali sifatnya dengan kaum gereja di Eropah itu. Di sini agama
Islam adalah agama kaum yang tak merdeka; di sini agama Islam adalah agama kaum
yang di-“bawah”. Sedang kaum yang memeluk agama Kristen adalah kaum yang bebas;
di sana agama Kristen adalah agama kaum yang di-“atas”. Tak boleh tidak, suatu
agama yang anti-kapitalisme, agama kaum yang tak merdeka, agama kaum yang
di-“bawah” ini; agama yang menyuruh mencari kebebasan, agama yang melarang
menjadi kaum “bawahan”, – agama yang demikian itu pastilah menimbulkan sikap
yang tidak reaksioner, dan pastilah menimbulkan suatu perjoangan yang dalam
beberapa bagian s e s u a i dengan perjoangan Marxisme itu.
Karenanja, jikalau kaum Marxisme
ingat akan perbedaan kaum gereja di Eropah dengan kaum Islam di Indonesia ini,
maka niscaya mere¬ka mengajukan tangannya, sambil berkata: saudara, marilah
kita bersatu. Jikalau mereka menghargai akan contoh-contoh saudara-saudaranya¬
seazas yang sama bekerja bersama-sama dengan kaum Islam, sebagai yang terjadi
di lain-lain negeri, maka niscayalah mereka mengikuti contoh¬-contoh itu pula.
Dan jikalau mereka dalam pada itu juga bekerja bersama-sama dengan kaum
Nasionalis atau kaum kebangsaan, maka mereka dengan tenteram-hati boleh
berkata: kewajiban kita sudah kita penuhi.
Dan dengan memenuhi segala
kewajiban Marxis-muda tahadi itu, dengan memperhatikan segala perobahan teori
azasnya, dengan menja¬lankan segala perobahan taktik pergerakannya itu, mereka
boleh menye¬butkan diri pembela rakyat yang tulus-hati, mereka boleh menyebutkan
diri garamnya rakyat.
Tetapi Marxis yang ingkar akan
persatuan, Marxis yang kolot-teori dan kuno-taktiknya, Marxis yang memusuhi
pergerakan kita Nasionalis dan Islamis yang sungguh-sungguh, – Marxis yang
demikian itu jangan¬lah merasa terlanggar kehormatannya jikalau dinamakan racun
rakyat adanya!
Tulisan kita hampir habis.
Dengan jalan yang jauh kurang
sempurna, kita mencoba membuktikan, bahwa faham Nasionalisme, Islamisme dan
Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain.
Dengan jalan yang jauh kurang sempurna kita menunjukkan teladan
pemimpin¬-pemimpin di lain negeri. Tetapi kita yakin, bahwa kita dengan
terang¬-benderang menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa
pemimpin-pemimpin Indonesia semuanya insyaf, bahwa Persatuan¬lah yang membawa
kita ke arah ke-Besaran dan ke-Merdekaan. Dan kita yakin pula, bahwa, walaupun
fikiran kita itu tidak mencocoki semua kemauan dari masing-masing fihak, ia
menunjukkan bahwa Persatuan itu bisa tercapai. Sekarang tinggal menetapkan
sahaja organisasinya, bagaimana Persatuan itu bisa berdiri; tinggal mencari
organisatornya sahaja, yang menjadi Mahatma Persatuan itu. Apakah
Ibu-Indonesia, yang mempunyai Putera-putera sebagai Oemar Said Tjokroaminoto,
Tjipto Mangunkusumo dan Semaun, –apakah Ibu-Indonesia itu tak mempunyai pula
Putera yang bisa menjadi Kampiun Persatuan itu?
Kita harus bisa menerima; tetapi kita juga harus bisa memberi. Inilah
rahasianya Persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi, kalau masing¬-masing
fihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula.
Dan jikalau kita semua insyaf,
bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi;
jikalau kita semua insyaf, bahwa dalam percerai-beraian itu letaknya benih
perbudakan kita; jikalau kita semua insyaf, bahwa permusuhan itulah yang
menjadi asal kita punya “via dolorosa” ; jikalau kita insyaf, bahwa Rokh Rakyat
Kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju Sinar yang Satu yang
berada ditengah-tengah kegelapan-gumpita yang mengelilingi kita ini, – maka
pastilah Persatuan itu terjadi, dan pastilah Sinar itu tercapai juga.Sebab
Sinar itu dekat!
“Suluh Indonesia Muda”, 1926





0 comments:
Post a Comment