Oleh RADHAR PANCA DAHANA
5 November 2016
Pemuda kuasi penyair benar-benar merasa bangga. Dalam salah satu media sosial, ia berkisah saat usai menuntaskan semacam ceramah dan mendapat aplaus bahkan dielu-elukan oleh para peserta ceramah yang menyebut dirinya-dan membuatnya bangga karena diakui sebagai: filsuf. "Saya senang sekali pada anak-anak SD itu," tulisnya menyebut para peserta itu.
Pengakuan personal yang hyper subjectyan ini adalah hal yang lazim di media-media sosial. Klaim-klaim tanpa justifikasi obyektif apa pun bertebaran di ruang komunikasi berbasis teknologi digital itu. Bukan hanya sebutan-sebutan, melainkan juga pengakuan diri, sebagai penyair, novelis, sastrawan-bahkan hingga-budayawan bertebaran di antara anggota komunitas-komunitas siber itu.
Sebutan atau kedudukan literer di atas beberapa hanya didukung oleh melulu satu terbitan (buku) berisi sekumpulan karya sastra. Satu produk yang dalam kemajuan teknologi cetak dan kebebasan dalam penerbitan cetakan sangatlah mudah dilakukan: tinggal menulis sendiri, desain sendiri, cetak sendiri, jual sendiri, bila perlu beli sendiri. Sebagian malah secara meyakinkan-lebih pada dirinya sendiri-kalau sebuah bukunya memosisikan dirinya sebagai pengarang best seller lantaran sudah berkali-kali bukunya dicetak ulang. Bagaimana tidak, jika dengan penerbitan swakelola serta model penjualan POD (print on demand), sebuah buku bisa belasan kali dicetak berdasarkan permintaan walau permintaan (demand) itu hanya berjumlah belasan atau puluhan eksemplar.
Kepesatan teknologi informasi, terutama dalam bidang komputasi dan sibernetika, memang tidak hanya memberikan janji, tapi juga bukti, bagaimana diseminasi dan masifikasi informasi dapat berlangsung hanya dalam satu kedipan mata. Kenyataan super-revolusioner bisa jadi melampaui pencapaian peradaban manusia selama 3.000 tahun pada hal yang sama, itu membuat banyak sekali acuan, ukuran dan standar luntur, meleleh, bahkan hancur tak bersisa. Mulai dari acuan adat, agama, politik hingga akademik, termasuk dalam dunia kesusastraan.
Klaim, pengakuan, atau semacam legitimasi kualitatif dari sebuah karya (sastra) tidak lagi berdasarkan pada acuan-acuan universal, tetapi berbasis penilaian yang preferensial, kata lain dari yang kita sebut selera. Bahkan, kebenaran apa pun kategori dan definisinya yang berlaku sejak dulu kala menjadi preferensial dalam media sosial.
Dalam situasi seperti itu, kita semakin sulit menemukan, jika tak dapat dikatakan kehilangan, karya-karya sastra yang memiliki pencapaian atau standar literer yang tinggi. Boleh jadi ia tersembunyi dalam keriuhan dan kerumunan (crowd) karya-karya digital atau virtual. Atau, takluk oleh pernyataan-pertanyaan retoris dan diskursus kuasi ilmiah yang bertebar di ruang-ruang siber itu.
Dunia tanpa preseden
Situasi di atas terjadi, ternyata, tidak hanya di negeri ini. Mengingat fakta para sastrawan (sejati) di banyak negara dunia, terutama kaum penyair, mengalami semacam degradasi moral hingga posisional dalam realitas hidup kontemporer. Langka terbukti penyair yang mampu hidup cukup atau baik, secara ekonomis sekurangnya, berdasar pada karya sastranya. Di Eropa bahkan banyak penyair diterbitkan karyanya oleh penerbit dalam jumlah hanya ratusan eksemplar. Sebagian dari mereka harus menahan malu, mengambil jatah dana pengangguran dari dinas sosial, hanya untuk bisa bertahan hidup biologisnya dan mampu menuliskan satu-dua syair demi survive hidup akal-batin atau kreatifnya.
Dunia hari ini adalah kuasa dan keagungan yang secara desisif ditentukan oleh jumlah _followers, hits,_ unduh, unggah, atau persoalan-persoalan kolektif bahkan nasional ditentukan oleh _trending topic,_ bahkan bila topik yang tren itu hanya dipersoalkan 3.000-4.000-an orang, berbanding dengan 240 juta penduduk negeri ini. Namun, demikianlah media-media massa nasional, bahkan pemerintah serta para pejabat publik, mengalihkan perhatian, fokus hingga kebijakannya. Kenyataan itulah yang membuat kita, rakyat negeri ini, dibombardir berjam-jam melebihi bombardir pasukan Irak pada NIIS, secara kontinu hingga satu bulan oleh informasi perkawinan atau kelahiran anak seorang artis. Atau jutaan orang Indonesia menciptakan rating tinggi hingga menyisihkan masalah hidupnya sehari-hari yang sudah begitu rumit, sekadar untuk hampir setengah tahun menekuni proses kasus kematian dari seorang wanita oleh rekan wanitanya sendiri. Proses yang melulu berisi melankolia, melodrama yang dipenuhi prasangka, laiknya opera-opera sabun picisan.
Saya kira, dunia saat ini sudah berada dalam fase peradaban yang sebagian dari realitasnya berisi ilusi, delusi, hingga halusinasi. Tidak mengherankan, banyak perilaku manusia-manusia kini yang "tak dapat dipercaya itu bisa dilakukan oleh manusia" tanpa preseden, bahkan ajaib. Bahkan, dunia (yang) fiksi (onal) pun tidak mampu merekanya dalam susunan kata-kata. "Tidak cukup rasa tega atau keadaban terendah kita membayangkannya," begitu saya mengeluh setiap kali hendak menuliskan refleksi atau semacam alegori dari hidup atau dunia ajaib itu.
Dalam kesadaran penuh rasa prihatin itulah, saya mendapatkan informasi tentang terpilihnya penyanyi Bob Dylan sebagai penerima anugerah Nobel Sastra tahun 2016 ini. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada yayasan atau lembaga penuh gengsi yang didirikan penemu dinamit Alfred Nobel itu?
Melecehkan kesusastraan
Apa pun klaim, retorika, ataupun justifikasi akademisnya yang preferensial, dalam acuan atau sejarah apa seorang penyanyi atau pemusik, betapa pun ia menulis lirik atau syair lagu, mendapat penghargaan global yang menjadi mimpi jutaan pengarang seluruh dunia dalam lebih seabad riwayat penghargaan itu? Pemusik adalah pemusik, penyair adalah penyair, keduanya menekuni genre kesenian yang berbeda betapa pun keduanya memiliki nilai-nilai universal (estetis) yang mungkin sama. Mungkin ada penyair yang bermusik, dalam arti ia memilih musik sebagai pilihan ekspresional dalam membunyikan atau mengartikulasikan kata-kata yang diproduksinya. Namun, dedikasi dan intensitas hingga kontribusi terbesarnya tetap dalam ranah kesusastraan.
Alasan itu tidak dimiliki Bob Dylan, sehebat apa pun namanya menjulang di puncintensita entertainment. Pusat dedikasi, intensitas, hingga kontribusinya dalam sejarah yang kita kenal adalah musik, ya musik, itu pun dalam sub-genre tertentu. Memang ia menulis lirik atau syair lagu yang bagi sebagian orang mungkin impresif atau boleh jadi memiliki nilai sastra "tinggi". Se-"tinggi" apa dibandingkan katakanlah penyair-penyair nobelis macam Derek Walcott, Pablo Neruda, Octavio Paz, Rabindranath Tagore dan lainnya. Bahkan, kata "lirik" dan "syair" dalam lagu sekadar pinjaman terma atau istilah dari sastra.
Bagaimana panitia Nobel mempertanggungjawabkan keputusannya di hadapan para sastrawan luar biasa dunia lainnya yang telah memberikan kontribusi dahsyat pada perkembangan sastra dunia dan letih hanya menjadi kandidat penghargaan itu, seperti Ben Okri, Salman Rushdie, Arundhati Roy, Ngugi wa Thiong'o, Adonis, Haruki Murakami, atau sastrawan-sastrawan sebelumnya (yang keburu wafat) seperti Ismael Kadare, Andre Brink, Italo Calvino, atau Pramoedya A Toer, dan banyak lainnya.
Sebuah tulisan di New Republic yang biasa menganalisis dan memprediksi bakal peraih Nobel Sastra bahkan menegaskan dalam judulnya, "Bukan Bob Dylan, Sudah Pasti". Tapi, panitia Nobel seolah ingin show of force, unjuk kuasa sebagai legitimator sastra dunia, dengan membuat pilihan atau keputusan yang hadiah Nobel tidak lagi kredibel.
Panitia selaiknya mempertimbangkan dan menghargai secara serius latar hidup, proses kreatif, hingga arus utama produk kreatif seorang seniman (sastra). Sejarah mengatakan, Bob Dylan bukanlah seniman yang bertani di ladang sastra. Bukan di ladang itu konsistensi, arus utama karya, dan sumbangan kreatifnya.
Saya mesti menegaskan, keputusan panitia Nobel kali ini agak melecehkan atau menghina para pegiat sastra (sastrawan), bahkan dunia sastra pada umumnya. Lebih jauh lagi, seperti terurai di bagian awal, pilihan ini akan menciptakan semacam kerancuan hingga kekacauan referensial hingga standar artistik dan estetik hanya karena preferensi subyektif atau kuasa politis.
Apakah kemudian kita harus memperhitungkan lirik lagu Michael Jackson, Bruno Mars, hingga Justin Bieber atau Deddy Dores dan Meggy Z sebagai bagian dari sastra. Saya teringat, sekitar tiga dekade lalu, penyanyi balada (macam Bob Dylan) lokal, Ebiet G Ade, pernah menyatakan di puncak popularitasnya, "Lebih senang diakui sebagai penyair ketimbang penyanyi (penulis lirik lagu." Namun, komunitas sastra tak pernah menyetujui harapan itu. Hingga hari ini.
Lalu, apakah hari ini juga kita pantas menghargainya dengan penghargaan macam Kusala Sastra atau SEA Write Award? Saya masih berharap kesusastraan Indonesia bisa mempertahankan reputasi dan kredibilitasnya sebagai lanjutan dari para pendahulu yang telah melahirkan karya-karya besar bertingkat global macam _La Galigo, Serat Chentini,_ ataupun _Bumi Manusia._ Atau pedulilah dengan itu semua, lebih penting: cek status dan jumlah _follower!_
_________
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 November 2016, di halaman 24 dengan judul "Nobel Kini Tak Kredibel".






0 comments:
Post a Comment