Dalam buku, ‘Gumam-Gumam
dari Pesantren’ D. Zawawi Imron menuturkan potongan dagelan yang konon
katanya populer di tahun 50an. Pertunjukan teater tradisional itu dimulai
dengan munculnya dua tokoh Mokdul dan Dulmok, sepasang sahabat karib yang
sanang tanya-jawab. Berikut saya kutip perbincangan kedua tokoh tersebut dalam
potongan dagelan tersebut:
“Kamu nanti pengen punya apa?” tanya Mokdul kepada Dulmok
“Aku ingin punya ladang jagung seluas empat hektar” jawab Dulmok. Lalu,
ia balik bertanya, “Kamu ingin punya apa?”
“aku ingin punya sapi, paling sedikit sepuluh ekor.” jawab Mokdul.
“jangan sapi, ayam sajalah!” pinta Dulmok
“aku suka sapi”
“sapi itu berbahaya bagi ladang jagung”, kata Dulmok. “Awas, kalau
sapimu menyerang ladang jagungku, sapimu akan kubunuh,”
“kalau kamu membunuh sapiku, berarti putus persahabatan kita. aku tidak
akan tinggal diam.”
“Mau apa kamu?” tanya Dulmok marah
“terserah kamu” jawab Mokdul penuh tantangan.
Dulmok lalu menyerang Mokdul. Mokdul pun balas menyerang. Kemudian
terjadilah perkelahian seru – saling tinju, saling pukul, saling tendang, dan
saling-saling yang lainya, hingga akhirnya keduanya sama-sama benjol, berdarah,
dan megap-megap. Kemudian datanglah kepala kampung melerai mereka dan ditanya
kenapa mereka bertengkar, keduanya
sama-sama mengaku bertengkar gara-gara ladang jagung yang diserang sapi.
“sapimu yang menyerang ladang jagug Dulmok mana?” tanya kepala kampung. Mokdul
menjawab masih belum punya. Begitupun Dulmok juga mengaku belum punya ladang
jagung.
“ternyata kalian hanya oknom-oknum-oknum penghayal” ujar kepala kampung
sambil geleng-geleng kepala. “mimpimu disiang bolong telah membuat kalian tidak
mau mengerti pentingnya kenyataan”.
Teater kuno itu
barangkali memang konyol dan tak menarik untuk disaksikan kini. Olehnya, saya
jadi bertanya-tanya apa kira-kira yang membuat pertunjukan itu populer pada
tahun 50an higga ke pelosok desa, padahal waktu itu belum ada youtube? Pikir
tak berhenti mikir akhirnya saya menemukan jawabannya, yaitu karena barangkali
kejadian Mokdul dan Dulmok waktu itu aneh, lucu dan hanya ada di panggung
pertunjukan. Sebagaimana anehnya pernyataan ‘akan adanya suara tapi tak ada
orangnya, dan adanya besi yang bisa terbang’ pada zaman kakeknya nenek saya di
kampung, dan sama juga menurut saya dengan anehnya ‘para elit negeri ini yang
masih saja korupsi, padahal mereka sudah kaya, juga kaum yang mengaku beragama
tapi masih saja anarkis’.
Saat ini,
kejadian Mokdul dan Dulmok alias memperebutkan dan mempertengkarkan keinginan/
mimpi siang bolong bisa disaksikan dalam panggung keseharian dan dalam berbagai
lini kehidupan. Lihatlah misalnya, panggung politik negeri ini yang kacau
karena ulah para politisi yang sama-sama tidak ingin dibangunkan dari tidurnya
yang sedang asyik bermimpi. Lihat juga persaingan para ustadz, dai, akademisi, pengusaha,
pelajar, yang hidup dalam mimpi dan takhayyul. Mereka sibuk dengan dirinya, dan
hidup seolah hanya untuk dirinya. Dan akhirnya mereka lupa atau melupakan diri,
tak mengetahui atau tak ingin mengetahui bahkan takut jika dihadapkan pada
sebuah ‘kenyataan’. Padahal penampilan dan sarana kehidupannya sudah terlihat
memenuhi syarat untuk disebut sebagai kaum terdidik.
Saat lelucon
masa lalu yang ternyata tidak lucu itu hadir dalam keseharian kita, maka
keadaan menjadi tambah aneh, mengapa? Karena orang-orang yang bangun ditengah
mayoritas orang yang sedang asyik bermimpi justru yang dianggap lelucon,
sehingga harus ikutan atau paling tidak pura-pura tidur jika tidak ingin
dianggap lelucon.
Karena
keadaannya sudah demikian, maka wajar jika saat ini orang-orang banyak yang
beradu khayalan, tanpa berpikir dan berlomba untuk mewujudkan khayalan itu,
yang ada justru banyak yang bertengkar karena khayalan, layaknya Mokdul da
Dulmok. Karena sibuk bertengkar demi khayalan maka mereka lupa dengan
kenyataan. Padahal untuk mewujudkan sebuah khyalan, keingingan, atau mimpi
ternyata tidaklah mudah. Maka wajar jika teman saya ada yang sangat tidak suka
dengan pejabat atau orang yang banyak inginnya, setelah ditanya kenapa? Ia
menjawab “barang dan juklak pembagiannya yang sudah jelas ada dan tinggal
dibagi saja seringkali tidak bisa diwujudkan dan sulit disalurkan kepada yang
berhak karena salah urus, salah prosedur, salah alamat dan salah ini-itu,
apalagi mewujudkan sesuatu yang belum jelas ada”, “ooo,ya, ya,, benar juga.”
kata suara hati kecil saya.
Dulu pas waktu
di sekolah ada guru yang sering bilang “bermimpilah setinggi langit”, tapi
tidak jarang ibu marah kalau saya ketahuan manjat pohon yang tingginya tak
lebih dari 3 meter, apalagi tidur di atas pohon. Kalau dulu saya tanya mengapa?
Mungkin ibu akan menjawab “karena kalau jatuh, kamu tidak bisa tidur dan bermimpi” atau mungkin
kalau orang tua sekarang akan bilang “karena sakitnya tu bukan di alam
mimpi”...





0 comments:
Post a Comment